[Review] ‘Hujan Bulan Juni’: Balada Cinta Sarwono dan Pingkan

Editor: Irvan Syafari.

71
Foto adegan film Hujan Bulan Juni (Foto PH Sinema Imaji dan Starvision/Akmad Syeku

JAKARTA — //tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan juni/ dirahasiakannya rintik rindunya/kepada pohon berbunga itu// … Sepenggal puisi berjudul ‘Hujan Bulan Juni’ karya Sapardi Djoko Damono yang kemudian jadi judul novel dan kini menjadi judul film ini yang multitafsir.

Sebuah film yang berusaha mengawinkan narasi film yang tersurat dengan puisi Sapardi Djoko Damono yang tersirat. Sutradara Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) dan penulis skenario Titien Wattimena (The Butterfly, In the Name of Love) punya beban untuk mengawinkan medium film dengan puisi.

Film ini bukanlah tipikal film-film remaja pada umumnya. Film ini lebih dewasa, terutama jika kita melihat cara Sarwono dan Pingkan memaknai hubungan mereka. Keduanya sering membahas soal ketakutan jikalau salah satu dari mereka direbut orang. Ada masalah kompleks tentang perbedaan suku dan keyakinan dalam hubungan mereka. Keduanya tidak mewek, melodramatis atau cengeng ketika dihadapkan pada masalah kompleks seperti itu.

Kisahnya tentang Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), dua sejoli yang menghabiskan hidupnya di lingkungan universitas. Sarwono adalah akademisi antropologi dan Pingkan seorang dosen muda yang dapat kesempatan kuliah di Jepang selama dua tahun.

Takut kesepian dan khawatir kekasihnya direbut Katsuo (Kaukaro Kakimoto), Sarwomo mengajak Pingkan untuk menemaninya bertugas ke Manado. Di sanalah Pingkan bertemu dengan keluarga besar dari ayahnya, termasuk sepupu Ben (Baim Wong), yang membombardirnya dengan sejuta pertanyaan karena Sarwono seorang Jawa-Islam.

Kulit Sarwono yang cokelat dan logatnya yang Boso Jowo Alus jadi mudah dikenali. Dan hal tersebut menjadi bahan perbincangan keluarga Pingkan yang seorang keturunan Minahasa-Kristen.

Saat ditanya Ben soal kemungkinan memakai jilbab, Pingkan tampak santai-santai saja. Ini menunjukkan bahwa baik Sarwono maupun Pingkan sudah melihat hal yang lebih besar daripada sekadar latar belakang: bobot, bebet, bibit. Ketiga hal atau kriteria yang umum diperhatikan ketika mencari jodoh atau pasangan. Semacam alat kalibrasi bagi orang Jawa untuk menentukan calon menantu yang baik bagi anaknya. Orang tua memang cenderung pemilih dalam urusan jodoh.

Usaha untuk mengawinkan film dan puisi ini sangat terbantu oleh penampilan para pemerannya. Adipati Dolken cukup berhasil memberi aura kaku, jadul, tapi berpendirian teguh ke dalam diri tokoh Sarwono, yang menjadi representasi Sapardi. Begitu juga pasangannya, Velove Vexia mengimbanginya dengan energi dan keceriaan ke dalam diri Pingkan.

Adapun Baim Wong, yang melakoni tokoh Ben, tampak matang aktingnya. Baim yang selama ini dikenal lewat berbagai perannya di sinetron dengan sangat baik menyuntikkan kehidupan ke dalam karakter Ben. Logat Minahasanya terdengar sangat natural dan bahasa tubuhnya yang energetik berhasil membuat penonton tertawa.

Secara keseluruhan film ‘Hujan Bulan Juni’ bisa menjadi alternatif tontonan terbaik. Pencinta sastra ataupun bukan, masih tetap bisa menikmati film ini dan akan dimanjakan puisi-puisi indah karya Sapardi Djoko Damono. Film ini pun menghadirkan 9 puisi legedaris yang dibacakan langsung oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia seperti “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin”.

Selain Adipati dan Velove, film ini dibintangi juga oleh aktor asal Jepang, Koutaro Kakimoto. Walau tak begitu mendapat banyak porsi, Koutaro cukup melengkapi cerita sebagai Katsuo. Jajaran lain di Departemen kasting terdapat nama kondang Surya Saputra, Ira Wibowo, Sundari Soekotjo dan Jajang C Noer. Tak ketinggalan sang penyair sesungguhnya yaitu Sapardi Djoko Damono ikut berakting sebagai ayah Sarwono.

Komentar