Rumput Laut Ketapang, Lampung Dikenal Hingga Kalimantan

LAMPUNG — Pengembangan usaha budidaya rumput laut di wilayah Desa Legundi dan Desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung sudah dikenal hingga ke wilayah Kalimantan Selatan.

Permintaan akan bibit rumput laut jenis rumput laut cottonii (eucheuma cottonii) tersebut dibenarkan oleh salah satu pembudidaya rumput laut bernama Kadek Sudiro (36), yang menekuni usaha budidaya rumput laut sejak beberapa tahun silam.

Menurut Kadek Sudiro sistem budidaya yang ditekuninya menggunakan tali tambang yang dikenal dengan metode jalur menggunakan tambang, botol bekas disesuaikan dengan kondisi perairan di wilayah pantai Tridharmayoga. Perairan di sana memiliki kondisi arus dan gelombang yang lebih tenang dibandingkan di wilayah lain.

Pada awal November, Kadek mengaku menerima permintaan bibit rumput laut dari kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 700 kilogram dengan sistem pengepakan menggunakan kantong plastik yang dimasukkan dalam kotak styrofoam dilengkapi es batu.

“Selain sebagian kami jual dalam kondisi kering kami juga akhir akhir ini mendapat banyak permintaan dari pembudidaya rumput laut di Kalimantan Selatan khususnya untuk bibit jenis cottonii,” ujar Kadek Sudiro saat ditemui Cendana News tengah melakukan persiapan penanaman bibit rumput laut di perairan pantai timur Ketapang Lampung Selatan, Senin (6/11/2017)

Sebagai Ketua Kelompok Pembudidaya Rumput Laut Mekar Sejati, ia mengaku mendapat pembinaan dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Dia termasuk kelompok Sinar Semendo I di Desa Legundi Kecamatan Ketapang.

Selain pembinaan anggota kelompok juga mendapat jaminan ketersediaan bibit dengan teknik kultur jaringan yang kini disebutnya sudah mencapai G70 atau generasi ke-70 dengan ciri khas bibit lebih besar dan berisi.

Permintaan akan bibit rumput laut jenis cottonii dengan harga Rp3.000 per kilogram dijualnya seharga Rp2 juta sebagai bahan bibit. Selain ikut mendukung penyebaran bibit rumput laut produksi pembudidaya rumput laut di Ketapang, juga difungsikan sebagai lokasi denfarm pembibitan rumput laut.

Selain ke Kalimantan Selatan permintaan juga dikirim ke wilayah perairan Banten dan Jawa Barat serta kebutuhan lokal provinsi Lampung meliputi wilayah Kabupaten Pesawaran dan Tanggamus.

Selain banyak dijual dalam bentuk bibit saat ini dari total sebanyak 10 anggota kelompok pembudidaya rumput laut juga banyak dijual dalam bentuk kering dengan harga perkilogram saat ini cukup lumayan seharga Rp8.000 per kilogram. Harga tersebut terbilang menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencapai harga Rp11.000 per kilogram di tingkat petani dan mencapai Rp15.000 ditingkat pengepul.

Gunakan Bahan Bekas untuk Budidaya

Sebagai pembudidaya rumput laut tekhnik jalur menggunakan tali tambang proses penyediaan bibit dari proses pemilahan bibit panen sebelumnya Kadek dibantu oleh Wayan Sariasih (35) sang isteri dan beberapa pekerja yang dibayar dengan sistem jalur.

Para pekerja membantu pemasangan bibit rumput laut pada tambang sebagai media tanam/Foto:Henk Widi.

Satu jalur tali dengan panjang mencapau rata rata sepanjang 28 meter telah dilengkapi dengan tali kecil untuk mengikat bibit sekaligus pelampung terbuat dari botol bekas.

“Botol bekas ini sengaja kami beli dari pengepul barang bekas yang masih ada tutupnya dengan harga seratus rupiah perbotol setiap lajur diberi enam pelampung botol bekas demi efesiensi modal,” terang Wayan Sariasih.

Para pekerja yang dibayar dengan upah Rp3.000 per lajur bisa menyelesaikan pekerjaan beberapa lajur dalam sehari dan langsung dibentangkan ke lokasi penanaman. Pada masa tanam awal November ini Wayan Sariasih bersama suaminya menanam bibit sebanyak 200 kilogram lebih untuk sekitar 50 jalur dan akan dilakukan penyulaman saat terjadi kerusakan atau diserang hama ikan pemangsa.

Hama ikan baronang diakuinya tidak terlalu ditakutkan karena tidak mengakibatkan kerusakan yang parah namun ia dan sang suami tetap mewaspadai adanya kondisi cuaca atau arus yang tiba tiba bisa merusak pelampung dan jalur penanaman.

Ia berharap pada masa tanam kali ini hasil panennya cukup baik dengan harga yang lumayan dengan estimasi panen dua ton seharga Rp8.000 per kilogram dirinya bisa mendapatkan hasil di atas Rp10 juta dengan adanya penyusutan saat proses pengeringan.

“Sebagian kita jual dalam bentuk bibit namun sebagian juga kita jual dalam bentuk kering karena lebih menguntungkan untuk jenis cottoni ini dengan pangsa pasar pabrik makanan dan kosmetik,” beber Wayan.

Jenis rumput laut Cottonii yang ditanam saat usia bibit 25 hari bisa dipanen ketika sudah berusia 40 hingga 50 hari dengan sistem parsial melakukan pemotongan pada bagian yang sudah memanjang dan proses tanam hingga panen ia memanfaatkan perahu.

Puluhan para para bambu dengan dialasi plastik akan disiapkan untuk pengeringan dan proses fermentasi agar rumput laut kering sempurna sebelum dijual ke pengepul.

Meski menanam jenis cottonii, ia juga mengaku menanam jenis rumput laut jenis eucheuma spinosum. Meski harganya relatif lebih murah pada kisaran Rp3.000 per kilogram dengan permintaan yang kurang pada saat hari biasa, namun pada waktu tertentu punya nilai ekonomis.

Misalnya saja permintaan meningkat saat menjelang bulan Ramadan atau bulan puasa. Penanaman jenis tersebut diakuinya menyesuaikan perhitungan sebelum jatuhnya bulan Ramadan saat permintaan cukup tinggi pada jenis rumput laut bertekstur renyah jenis spinosum tersebut.

“Rumput laut jenis cottonii banyak digunakan untuk bahan industri makanan dan kosmetik. Namun jenis spinosum kerap dijadikan bahan makanan tanpa harus diolah sebagai bahan pembuatan es rumput laut banyak permintaan saat bulan Ramadan,” kata Wayan.

Empat puluh hari ke depan sebelum dipanen, Wayan Sariasih dan Kadek Sudiro sang suami dan para pekerja berharap kondisi cuaca cukup baik tanpa gelombang tinggi yang bisa merusak jalur tanaman rumput lautnya.

Menggunakan sistem tradisional Kadek dan Wayan mengaku setiap panen setidaknya mengumpulkan uang di atas Rp8 juta bersih dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya operasional upah pekerja, kuli angkut dan biaya perawatan. Selain ditabung untuk kebutuhan keluarga sebagian dipergunakan untuk modal penanaman selanjutnya dengan jenis rumput laut eucheuma cottonii.

Kadek Sudiro bersiap memasang bibit rumput laut di perairan Pantai Timur Ketapang Lampung Selatan /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...