Seminggu Hujan, Petani Jagung Sikka Bajak Lahan Pertanian

Editor: Irvan syafari

50
Lahan pertanian jagung di desa Habi kecamatan Kangae kabupaten Sikka yang sudah dibajak dan siap ditanami jagung/ Foto : Ebed de Rosary.

MAUMERE — Hujan yang mengguyur Kabupaten Sikka setiap hari selama seminggu terakhir menyebabkan petani jagung di kabupaten Sikka khususnya di kecamatan Kangae yang menjadi sentra produksi jagung mulai membajak lahan pertanian mereka untuk ditanami.

“Saya sudah bersihkan lahan saya dan masih menunggu traktor yang katanya besok sudah bisa bajak lahan saya agar saya mulai menanam jagung sebab hujan sudah mulai turun selama seminggu belakangan ini,” tutur Bernadeta Sile, Senin (13/11/2017)

Perempuan petani warga desa habi kecamatan Kangae ini saat ditemui Cendana News di kebunnya mengaku sudah menyiapkan bibit jagung lokal untuk ditanami di lahan jagungnya seluas sekitar 1 hektar yang sudah dibersihkannya sehingga bisa langsung dibajak.

“Untuk bajak lahan jagung kami sewa traktor seharga 300 ribu rupiah untuk lahan seluas 1 hektare di mana traktornya kami sewa milik perorangan maupun dari Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan yang ada di desa,” ungkapnya.

Bernadeta menambahkan, dirinya lebih memilih menanam jagung lokal sebab lebih tahan lama saat disimpan dan bisa dimakan sementara bila jagung bantuan pemerintah seperti Hibrida dan Komposit memang hasilnya lebih bagus dan tingkolnya besar namun tidak tahan lama kalau disimpan dan tidak terlalu enak bila dikonsumsi.

“Produksi jagung kami lebih banyak disimpan untuk dicampur dengan beras untuk dikonsumsi sementara sisanya disimpan untuk bibit dan dijual sehingga saya lebih suka tanam jagung lokal saja meskipun ada bantuan benih jagung dari pemerintah,” terangnya.

Kecamatan Kangae khususnya desa Habi dan Langir kata Bernadet merupakan sentra produksi jagung di kabupaten Sikka dimana presiden Soeharto pernah datang ke Maumere untuk melakukan panen jagung di Kangae dan menanam jagung sudah dilakukan sejak dulu.

Sesilia salah seorang petani jagung lainnya yang ditemui Cendana News di kebunnya pun mengaku sudah mulai membersihkan kebin sebab hampir semua tetangganya sudah mulai membajak lahannya dan ada satu dua petani yang sudah selesai bajak dan sudah siap tanam.

“Saya tanam jagung Hibrida untuk lahan seluas satu hektar sementara satu hektar lainnya tanam jagung lokal saja untuk dikonsumsi sendiri dan dijual di pasar kalau sedang membutuhkan uang,” sebutnya.

Setelah lahan dibajak terang Sesilia, untuk menanam jagung biasanya mereka akan meminta bantuan petani lainnya dan biasanya dalam satu kelompok tani. Penanaman dilakukan mereka hampir bersamaan, sehingga dalam sehari semua anggota bersamaan menanam di lahan milik satu anggota terus berpindah ke anggota lainnya hingga semua anggota kebagian jatah tanam.

“Paling saat tanam saja kami minta bantuan anggota kelompok sementara untuk membersihkan rumput. Kami biasanya menggunakan pestisida semprot sehingga saat disemprot rumputnya akan mati,” bebernya.

Hampir semua lahan jagung di desa Habi dan Langir kata Sesilia dalam penanamannya tidak menggunakan pupuk kimia terkecuali lahan jagung yang tidak subur sebab lahan pertanian jagung hanya ditanam setahun sekali saat musim hujan dan setelah itu dibiarkan saja.

“Biasanya kalau jagung sudah berbulir, petani menanam kacang hijau di sela-sela tanaman jagung sehingga saat panen jagung bisa dilakukan bersamaan dengan panen kacang hijau juga,” paparnya.

Bernadeta Sile salah seorang petani jagung warga desa Habi kecamatan Kangae kabupaten Sikka./Foto : Ebed de Rosary.

Komentar