Sistem Tumpangsari Jagung pada Lahan Perkebunan Karet

Editor: Satmoko

84
Budiono, petani karet Sragi yang memanfaatkan lahan untuk tumpangsari dengan tanaman jagung. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Hujan yang mulai mengguyur sebagian wilayah kabupaten Lampung Selatan mulai dimanfaatkan oleh sebagian besar petani untuk memulai masa tanam salah satunya di wilayah Kecamatan Sragi di desa Mandalasari dengan memulai bercocok tanam jagung.

Budiono, warga setempat menyebut, mulai memanfaatkan lahan karet miliknya seluas satu hektar untuk ditanami komoditas pertanian jenis jagung disela sela sebanyak 650 batang karet yang masih belum memasuki masa penyadapan atau tanaman menghasilkan (TM).

Bibit tanaman jagung yang akan ditanam oleh Budiono. [Foto: Henk Widi]
Usia tanaman karet yang ditanam, diakui Budiono, masih berumur sekitar 5 tahun dengan prediksi usia tanaman menghasilkan getah atau lateks pada usia sekitar 6 tahun. Seperti pada lahan sebelumnya yang pernah dimiliki Budiono, dengan didukung kondisi pertumbuhan yang sehat dan baik, tanaman karet telah memenuhi kriteria matang sadap pada umur 5-6 tahun dengan masa bukaan sadap dua kali setahun, sekitar bulan Juni hingga bulan Oktober.

“Sebelum umur enam tahun sengaja saya lakukan pemangkasan pada saat puncak kemarau bulan September lalu dengan tujuan agar penguapan pada daun berkurang. Bahkan sekarang sudah mulai bersemi sembari dimanfaatkan untuk tumpangsari dengan tanaman jagung,” terang Budiono, salah satu warga desa Mandalasari Kecamatan Sragi Lampung Selatan saat ditemui Cendana News, Senin (13/11/2017).

Sebagai pemilik kebun karet rakyat, Budiono mengaku, menjadikan karet sebagai investasi jangka panjang dengan hasil yang diperoleh rata-rata mencapai 1 ton lateks per tahun sehingga ia memerlukan investasi jangka pendek dengan memanfaatkan sela tanaman karet sebagai lahan jagung yang bisa dipanen dalam kurun waktu sekitar 4 bulan.

Para pekerja melakukan proses penanaman bibit jagung di sela tanaman karet. [Foto: Henk Widi]
Harga karet yang saat ini mulai dipanen pada lahan miliknya yang lain diakuinya pada bulan November di level petani dihargai sebesar Rp8.500 meski pada musim sadap sebelumnya bisa mencapai Rp10.000. Bahkan di level pengepul pernah mencapai angka Rp13.000. Masa tunggu panen pada lahan karet atau tanaman menghasilkan di lahan miliknya yang saat ini ditanami jagung, diakuinya, diprediksi bisa menghasilkan jagung sekitar 5 ton per hektar.

“Kalau pada lahan terbuka maksimal bisa mencapai tujuh ton, namun karena ditanam dengan sistem tumpangsari hasil yang akan kita peroleh bisa lebih sedikit karena sebagian tanaman ternaungi karet,” beber Budiono.

Sulitnya mencari benih jagung bermutu pun tak menghalangi Budiono untuk menanam jagung dengan benih DK 999 yang harganya relatif lebih murah dengan harga saat ini Rp90.000. Meski pada musim sebelumnya hanya berkisar Rp55.000. Sementara bibit jagung jenis lain semisal Pioner, NK, Bisi bahkan cukup mahal hingga kisaran Rp400.000 hingga Rp500.000 per kilogram dan masih sulit ditemui di kios pertanian.

Pemanfaatan lahan di sela-sela tanaman karet belum memasuki masa penyadapan dengan jarak tanam sekitar 2 x 3 meter, sebagian berada pada tanah datar dan lahan miring diakui Budiono ditargetkan bisa saling menguntungkan. Keuntungan menanam jagung dengan hasil yang bisa mencapai lima ton per hektar sekaligus memberi manfaat untuk tanaman karet yang ikut terpupuk selama dua kali dalam satu kali masa tanam jagung.

Pembersihan gulma dengan penyemprotan herbisida pada lahan karet. [Foto: Henk Widi]
“Residu pupuk dari proses pemupukan jagung sekaligus bisa menjadi sumber pemupukan pada lahan karet sehingga kami tidak harus fokus pada tanaman karet saja,” tegas Budiono.

Proses penanaman jagung pada lahan karet tersebut, diakui Budiono, menggunakan sistem upahan dengan sebanyak 5 pekerja melakukan sistem koak (melubangi tanah dengan cangkul) yang dibayar dengan upah tukang koak Rp70 .000 dan buruh wur (penanam) sebesar Rp50.000. Penanaman jagung pada masa hujan yang mulai turun di wilayah tersebut sekaligus diiringi tumbuhnya rumput sehingga dilakukan proses penyemprotan gulma dengan herbisida.

Selain pada tanaman karet sistem tumpangsari juga diterapkan oleh warga Sragi dengan pemanfaatan lahan tanaman kelapa sawit yang dipergunakan untuk lahan penanaman jagung khususnya saat tanaman karet masih belum produktif. Selain menunggu masa panen tanaman kelapa sawit petani memanfaatkan lahan untuk menanam jagung dengan tujuan memperoleh hasil tanaman jagung yang melimpah.

Komentar