Tanam Padi Palawija Masih Diterapkan Petani Palas

Editor: Satmoko

43
Sutiyah, pemilik lahan melakukan proses penanaman padi masa tanam Oktober 2017-Maret 2018 di Kecamatan Palas. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Petani padi di wilayah Desa Sukaraja Kecamatan Palas mulai melakukan proses penanaman padi pada masa tanam pertama (MT1) musim tanam Oktober 2017 hingga Maret 2018 yang dimulai pada bulan November. Memanfaatkan musim hujan yang sudah melimpah di wilayah tersebut. Sebagian bersumber dari saluran irigasi sungai Way Pisang.

Sutiyah, salah satu petani padi di Desa Sukaraja menyebut, lahan seluas setengah hektar miliknya sengaja ditanami dengan pola tanam palawija jenis jagung yang sudah ditanam sejak bulan September.

Prediksi masa panen pada MT1 yang akan dilakukan pada pertengahan bulan Februari tahun depan, diakuinya, cukup didukung dengan pasokan air berbeda dengan bulan sebelumnya saat kebutuhan air untuk pengairan terhambat. Ia dan petani lain melakukan pola tanam selang-seling di antaranya dengan cabai merah dan jagung. Keterbatasan pasokan air tersebut diakuinya mulai teratasi sejak akhir Oktober dengan proses pengolahan lahan langsung dilakukan menggunakan traktor.

Para pekerja melakukan proses penanaman padi dengan sistem upahan. [Foto: Henk Widi]
“Bibit umur sekitar tiga minggu langsung kami tanam setelah pengolahan lahan selesai dilakukan dengan bibit varietas Ciherang yang banyak dibudidayakan di wilayah kami. Sebagian merupakan bantuan dari pemerintah melalui kelompok tani,” terang Sutiyah, salah satu petani padi di Desa Sukaraja Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses penanaman padi bersama tiga pekerja lain di lahan sawah miliknya, Senin (13/11/2017).

Di sebelah lahan miliknya, ia bahkan masih menanam tanaman jagung dengan bibit sebanyak 2 kampil atau sebanyak 10 kilogram dengan jenis jagung manis memanfaatkan lahan yang semula tidak teraliri air selama musim kemarau. Penanaman jagung manis yang dipanen untuk kebutuhan sayur dan jagung rebus tersebut, lebih menguntungkan karena memiliki masa panen yang lebih singkat dibandingkan jagung hibrida yang dipanen saat kering.

Tanaman jagung tersebut diakuinya mulai memasuki masa pembungaan saat tanaman padi miliknya memasuki masa tanam sehingga selama proses perawatan padi miliknya ia masih bisa melakukan proses perawatan tanaman jagung. Pola tanam tumpangsari pada lahan yang sama diakui Sutiyah menjadi cara petani di wilayah tersebut memperoleh hasil beragam dari areal yang sama termasuk proses penanaman cabai merah.

Tanaman jagung masih dibudidayakan di sela tanaman padi yang memasuki masa tanam. [Foto: Henk Widi]
“Selain faktor memaksimalkan lahan saat kemarin kemarau dengan pasokan air yang masih terbatas, saat ini kami ingin memperoleh hasil bukan hanya dari padi melainkan dari tanaman lain secara berkelanjutan,” terang Sutiyah.

Lahan terbatas yang dimiliki oleh Sutiyah juga menjadi faktor masih diterapkannya sistem upahan bagi para pekerja penanaman padi. Meski sebagian petani lain di wilayah tersebut masih menerapkan pola ”nyeblok” atau bagi hasil pemilik dengan penanam. Sistem nyeblok diakui Sutiyah tidak efektif dilakukan karena lahan terbatas. Hanya setengah hektar hasilnya kurang maksimal untuk dibagi dengan penanam.

Sistem upahan yang diterapkan pada proses penanaman, diakui Sutiyah, bagi para buruh tanam dibayar dengan sistem borongan selama satu hari penanaman, dikerjakan 4-5 orang dengan upah sebesar Rp50.000. Termasuk disediakan makan dan minum. Pola nyeblok diakuinya masih diterapkan di beberapa desa lain seperti Sukabakti yang sebagian masih memiliki lahan sawah cukup luas sehingga gabah yang dihasilkan masih bisa dibagi dengan penanam padi.

Asminah, salah satu pekerja penanam padi yang ikut membantu Sutiyah mengaku pada masa tanam padi beberapa buruh tanam memperoleh penghasilan dari menanam padi dan memanen padi. Sementara pada saat masa menanam jagung dirinya mendapat penghasilan dari menanam dan memanen jagung. Penanaman padi dan palawija yang diterapkan oleh petani di wilayah tersebut diakuinya ikut menguntungkan para buruh tanam yang bisa memperoleh penghasilan dari hasil upahan. Membantu proses penanaman hingga pemanenan.

Areal persawahan di Kecamatan Palas Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]

Komentar