Tangkapan Berkurang, Nelayan Palembang Melaut hingga Natuna

39
Sejumlah perahu nelayan bersandar di dermaga Kota Palembang/Foto: Irvan Syafari.

PALEMBANG — Kapal-kapal nelayan Palembang yang biasa bersandar di Dermaga 13 Ulu ternyata melaut hingga ke Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau atau menuju lokasi tangkap di paling utara Selat Karimata.

Aning, pelaut dan sekaligus pengurus gudang ikan di Palembang, Rabu (15/11), mengatakan, kapal-kapal berkapasitas 30 GT itu harus melaut hingga ribuan mil lantaran jumlah ikan di perairan Sungsang, Bangka Belitung sudah tidak banyak lagi.

“Sejak tahun 90-an, kapal-kapal sudah ke Pulau Natuna. Bukan hanya dari Palembang, daerah-daerah dari Sumatera juga ke sana,” kata dia.

Ia mengatakan untuk sekali berlayar setidaknya didukung oleh 28 orang kru dan target mendapatkan sekitar 5 ton ikan, jenis ikan sarden yang ada di kedalaman laut lebih dari 1000 meter.

Namun, sejak dua tahun terakhir, tangkapan ikan nelayan Palembang itu mengalami penurunan drastis yakni hanya 1-2 ton saja setiap sekali berlayar dalam masa 2-3 bulan.

“Bukan karena jumlah ikannya yang berkurang, tapi karena sudah banyak saingan. Seluruh kapal-kapal besar ke sana, belum lagi aturan ketat pemerintah yang mengharuskan menangkap ikan di perairan laut dalam,” ujar dia.

Berkurangnya tangkapan ikan di perairan Sumatera Selatan yakni kawasan Sungsang dan sekitarnya ini juga dibenarkan nelayan.

Ruslan Aziz (64), nelayan asal Sungsang, Banyuasin, mengeluhkan kurangnya tangkapan ikan sejak sepuluh tahun terakhir sehingga memaksanya harus berlayar hingga ke Kepulauan Riau.

“Dalam 10 tahun terakhir ini yang bisa dikatakan sangat terasa berkurangnya. Jika hanya berlayar ke perbatasan Bangka, jumlah tangkapan ikan tidak sesuai, jadi terpaksa saya dan teman-teman ke Kepulauan Riau,” kata Ruslan.

Ruslan mulai menjadi nelayan pada 45 tahun silam. Saat ini ia memiliki kapal berkapasitas 5 GT yang digunakan bersama empat rekannya. Setiap keuntungan yang didapat dari penjualan ikan akan dibagi rata setelah dikurangi biaya produksi (Ant).

Komentar