Tiga Siswa SMPN 1 Jetis Ciptakan Pengaman Sepeda Motor

PONOROGO —- Rentannya pencurian sepeda motor menggunakan kunci letter T, memacu tiga orang siswa SMPN 1 Jetis ini membuat pengaman sepeda motor agar terhindar dari kasus pencurian.

Abdurobbi Izzata, Achmal Naharis dan Tutur Waskito menyabet juara tiga dalam Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) pada 2017 tingkat nasional dengan judul “Pengaman Sepeda Motor Anti Letter T Menggunakan Modifikasi Chip dan Kode Pemrograman”.

Lomba yang dihelat oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (PSMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini menjadi ajang pembuktian betapa kreativitas pelajar SMP di Indonesia tidak boleh diragukan lagi.

Ketua kelompok, Achmal Naharis saat ditemui mengatakan dirinya melakukan persiapan selama empat bulan bersama guru pembimbing.

“Ide awalnya karena banyaknya pencurian sepeda motor dengan menggunakan letter T, jadi kami ingin membuat pengamannya dengan pemrograman dan modifikasi chip,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Kamis (23/11/2017).

Menurutnya, komponen yang digunakan ada IC mikro controler admega 8, resistor, dan kit relay. Sempat mengalami lima kali kegagalan, Achmal dan kawan-kawan tidak patah semangat. Bahkan mereka sempat belajar pemrograman hanya demi perlombaan ini.

“Kami memprogram sendiri menggunakan CVAVR,” terangnya.

Achmal pun tak segan menceritakan bagaimana cara kerja alat yang mereka buat, sepeda motor yang sudah dilengkapi dengan alat yang mereka buat, kemudian dicoba menggunakan anak kunci yang digesekkan lampu indikator untuk starter motor, kalau lampu menyala baru bisa jalan. Hebatnya, alat ini bisa digunakan untuk semua jenis motor.

“Tapi, kalau lampu mati, motor tidak bisa jalan dan bel berbunyi,” tuturnya.

Siswa kelas IX ini mengaku sempat mengalami kesulitan, mulai dari relay yang sering terbakar, bahasa pemrograman yang sulit serta membeli komponen harus dari Surabaya. Namun berbagai kesulitan itu sudah mereka lalui dengan baik dan berbuah manis.

Guru Pembimbing, Dwi Sujatmiko menuturkan anak didiknya ini berhasil menyisihkan 1160 naskah yang dikirim dari seluruh Indonesia. Selain itu, untuk membuat alat ini hanya bermodalkan Rp200 ribu.

“Idenya dari anak-anak, mereka menyukai bidang elektro, jadi kami arahkan. Beruntung mereka dapat juara,” pungkasnya.

Alat yang digunakan sebagai anti maling letter T/ Foto : Charolin Pebrianti.
Lihat juga...