Tingkatkan Produksi, Warga Kuripan Tambah Lahan Buah Naga

Editor: Satmoko

51
Pasrah mengecek sebagian tanaman buah naga yang mulai berbuah. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Keberadaan tanah kosong dan tidak produktif yang tidak dimanfaatkan oleh warga Dusun Banyuurip Desa Kuripan mulai dimanfaatkan sebagai lahan budidaya tanaman buah naga merah (dragon fruit) sebagai buah bernilai ekonomis tinggi.

Pasrah (61) mengungkapkan, dirinya mulai mengembangkan tanaman buah naga sejak lima tahun dan mengembangkan tanaman buah naga di pekarangan, areal sawah serta perkebunan. Berasal dari pengembangan secara vegetatif menggunakan stek batang baru dengan bibit sebanyak empat batang.

Pada tahun pertama, Pasrah mengaku, menanam sebanyak 500 batang tanaman buah naga menggunakan tonggak terbuat dari besi cor semen sebagai tegakan batang pokok sehingga saat muncul tunas baru dirangkai dalam lingkaran ban bekas. Masa tanam buah naga pada tahun pertama yang cukup produktif memberinya penghasilan cukup lumayan dengan hasil lebih dari 400 kilogram yang dijual kepada penjual buah segar dan pemilik usaha minuman es buah.

“Bibit tanaman buah naga merah saya datangkan dari Prabumulih Sumatera Selatan karena ada anak saya yang sudah menanam buah naga seluas satu hektar. Prospeknya cukup menjanjikan terutama menjelang pergantian tahun baru Imlek atau tahun baru etnis Tionghoa,” terang Pasrah, warga Dusun Banyuurip Desa Kuripan Kecamatan Penengahan, saat dijumpai Cendana News di lahan tanaman buah naga miliknya, Rabu (15/11/2017).

Tegakan tanaman buah naga menggunakan cor beton dan ban bekas sebagai penopang tanaman. [Foto: Henk Widi]
Produktivitas buah naga yang ditanam dalam satu tonggak berdasarkan pola tanam sebelumnya berjarak 2,5 meter x 3 meter setiap rumpun buah naga yang ditanamnya bisa berbuah sebanyak 8-10 buah hingga proses pematangan. Sebagian buah naga yang berbuah sengaja dikurangi, menyisakan sebanyak 8 buah setiap tiang penopang. Pada tahun pertama proses pemanenan ia mengaku, berhasil memanen sebanyak 400 kilogram dengan harga rata-rata per kilogram Rp15.000. Dirinya bisa menghasilkan uang sekitar Rp6 juta dari panen buah naga yang ditanamnya.

Melalui proses penanganan budidaya buah naga yang baik dengan cara pemupukan menggunakan NPK dan ZA sekaligus tambahan dolomit, membuat produktivitas tanaman buah naga miliknya meningkat. Investasi sebesar Rp10 juta untuk pembelian bibit yang satu batangnya mencapai Rp10 ribu serta proses pembuatan tiang sebanyak 400 tiang. Meski mengeluarkan investasi yang cukup besar namun ia mengaku dengan pemanfaatan lahan yang dimilikinya, sekaligus bisa menjadi tanaman yang menghasilkan secara ekonomis.

Penambahan luas tanam buah naga yang dimilikinya juga dilakukan di dekat aliran Sungai Way Kuripan karena kondisi tanah berpasir yang cocok untuk menanam buah naga. Tanaman bisa dipanen saat usia tanaman mencapai 10-12 bulan. Buahnya juga bisa dipanen setelah berumur sekitar 50 hari. Banyak pula buahnya diminta saat pergantian tahun baru Imlek sehingga menjadi tanaman investasi tahunan yang bernilai tinggi.

Jumlah tanaman yang sudah ditanam di antaranya sebanyak 500 tanaman baru pada lahan sawah yang kerap tidak mendapat pengairan cukup. Untuk itu ia berharap penambahan luas tanaman buah naga akan semakin meningkatkan produksi buah naga miliknya. Hasil buah naga tersebut diakuinya sebagian besar langsung ditampung oleh sang anak di Prabumulih untuk dijual di Palembang dengan tingkat permintaan yang tinggi. Sebagian dijual ke pedagang buah.

Selain pengembangan tanaman buah naga pada lahan pribadi di wilayah tersebut,  ia mulai menularkan program penanaman satu rumah satu pohon buah naga. Sebagian besar warga di wilayah tersebut juga menanam buah naga di pekarangan dengan jumlah hingga lima tonggak. Selain sebagai tanaman hias, buah naga yang sudah berbuah bisa menjadi buah segar dan sebagian dijual.

“Sebagian besar warga ada yang membeli bibit dari perbanyakan sistem stek dan bahkan mengambil dari lahan saya saat proses pemangkasan pada masa belum berbunga,” ungkap Pasrah.

Buah naga bisa ditanam pula dalam kondisi lingkungan yang sulit air. Pasrah menyebut tak perlu khawatir membutuhkan air yang cukup banyak untuk pengairan, meski ia menyiapkan tandon air yang berguna untuk penyiraman. Berbagai manfaat yang dipercaya berguna untuk kesehatan sekaligus membuat buah naga yang ditanamnya masih menjadi sumber penghasilan. Disamping hasil pertanian lain sekaligus memanfaatkan lahan yang tidak produktif.

“Awalnya lahan yang saya miliki hanya dimanfaatkan sebagai ladang penggembalaan ternak kambing. Namun setelah ditanami buah naga justru menghasilkan dan ikut mengembalikan kondisi lingkungan yang tak dimanfaatkan menjadi lahan produktif,” bebernya.

Warga lain penanam buah naga di desa Kuripan bernama Udin mengaku, memanfaatkan lahan tak produktif untuk budidaya buah naga meski menggunakan tegakan pohon leresede. Pengembangan buah naga di wilayah Kuripan menurut Udin sekaligus ikut mensukseskan program pengembangan buah lokal yang berguna untuk peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan.

Sebagian tanaman buah naga yang sudah memasuki tahun kedua dan siap berbuah milik Udin diakuinya sebagian memasuki tahap pemangkasan agar bisa bertunas dan menghasilkan batang produktif. Pemeliharaan dan tata cara pemangkasan yang bertujuan memacu pembentukan cabang produktif tempat munculnya buah tersebut diakuinya mendapat pelatihan dari petani buah naga yang lebih berpengalaman.

“Sebagian petani buah naga di wilayah ini memang diajak bermitra dengan petani lain sehingga bisa belajar budidaya yang benar sekaligus pemasaran buah naga ke pengepul,” ungkap Udin.

Penanaman buah naga, diakui Udin, menjadi salah satu alternatif dalam pemanfaatan lahan tidak produktif yang selama ini hanya ditumbuhi semak belukar. Sekaligus menjadi usaha sampingan dari pekerjaan pokok warga yang dominan berprofesi sebagai petani padi dan jagung.

Komentar