Trump Tawarkan Diri Sebagai Penengahan Sengketa LCS

52
Ilustrasi Laut China Selatan - Foto: Dokumentasi CDN

HANOI – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan siap menjadi penengah dalam sengketa Laut China Selatan (LCS), Minggu (12/11/2017). Lima Negara paling tidak terlibat sengketa di jalur perdagangan strategis dunia dan kaya kandungan alam tersebut.

Tawaran dari Trump disampaikan di Vietnam dalam rangkaian kunjungannya ke Asia. Vietnam diketahui sebagai salah satu negara paling keras mengkritik China yang mengklaim sebagian besar kawasan sengketa itu dan melakukan militerisasi di daerah tersebut.

Trump mengakui bahwa pendirian China dalam sengketa tersebut menjadi persoalan besar “Jika saya bisa menengahinya, cukup beri tahu saya. Saya adalah penengah sangat handal,” kata Trump setelah bertemu dengan Presiden Vietnam Tran Dai Quang, Minggu (12/11/2017).

Sementara itu, Presiden Quang mengatakan bahwa pihaknya tengah berupaya menangani sengketa di Laut China Selatan dengan negosiasi damai berdasarkan hukum internasional. Vietnam mereklamasi sebagian kawasan terumbu karang di Laut China Selatan meski dalam level yang jauh lebih kecil dibanding China.

Selain kedua negara tersebut, Brunei, Malaysia, dan Filipina juga terlibat dalam sengketa yang sama. Sejak Presiden Filipina Rodrigo Duterte semakin mendekat ke China, Vietnam menjadi penantang China paling vokal di Asia Tenggara. Pada Juli lalu, Beijing sempat menekan Hanoi untuk menghentikan aktivitas pengeboran minyak di kawasan sengketa.

Namun, sejak saat itu hubungan kedua negara terus membaik. Presiden China Xi Jinping bahkan akan mengunjungi Hanoi. Laut China Selatan juga sempat menjadi bahan perbincangan saat Trump mengunjungi Beijing awal pekan ini. Washington sempat memicu kemarahan Beijing akibat sengketa soal kapal patroli dari Amerika Serikat berlayar di dekat pulau-pulau reklamasi bikinan China.

Di Vietnam, Trump akan segera terbang menuju Filipina dalam kunjungan terakhir tur Asia-nya. Dia akan bertemu dengan negara-negara anggota ASEAN di Manila. Pada Agustus lalu, menteri-menteri luar negeri ASEAN dan China menandatangani kesepakatan kerangka kerja bagi pedoman perilaku (code of conduct–COC) di Laut China Selatan. (Baca : https://www.cendananews.com/2017/11/filipina-dorong-ktt-asean-bahas-coc-lcs.html )

Kerangka kerja itu hanyalah garis besar bagaimana COC akan dirundingkan. Kerangka kerja itu akan dibahas dalam pertemuan puncak antara kepala negara anggota ASEAN dan China pada Senin depan. Langkah selanjutnya adalah konsultasi resmi di antara kedua pihak dan perundingan untuk COC. Perundingan paling dekat akan digelar pada Februari 2018. (Ant)

Komentar