Via Online, Broker Bunga Ini Kuasai Pasar 30 Kota

Editor: Satmoko

53
Hero dan istrinya. Foto: Parwito

SEMARANG – Melalui toko bunga online yang dikendalikan di Kota Semarang, Jawa
Tengah (Jateng), Hero Wijayadi (34), warga Kota Semarang ini, terbilang sukses memanfaatkan keampuhan strategi internet marketing.

Meski pria inovatif ini tidak memiliki dagangan bunga sendiri namun melibatkan partner florist lokal di setiap kota di Indonesia. Bahkan, toko bunga online yang dikelolanya mampu melayani pesanan bunga lebih dari 30 kota besar secara cepat, tepat dan aman.

Hero, panggilan akrab pria ini, bersama istri tercintanya, Mariani (35) atau akrab dipanggil Meme, membuat toko online bernama ‘Meme Florist’. Kesuksesan situs online ini memang tidak terlepas dari campur tangan Hero yang merupakan Master IT jebolan perguruan tinggi Monash University di Australia.

Hero, mampu menemukan konsep dan menjalankan strategi internet marketing secara jeli menggunakan layanan Google seperti Google Adwords, Google My Business, Maps, Google Drive, Gmail, dan Android Apps. Terdapat website-website cabang yang mewakili setiap kota, sehingga konsep toko online tersebut mampu membentuk jaringan florist di setiap kota besar di Indonesia.

Di setiap 30 kota itu, Hero memiliki website Meme Florist, misalnya www.memefloristbandung.com , www.memefloristjakarta.com dan lain-lainya. Namun, website utamanya adalah www.memeflorist.com berkantor di Kota Semarang, tepatnya di Ruko Mataram Plaza Blok B Nomor 1, Jalan MT Haryono 427-429, Kota Semarang, Jateng.

Suasana di tempat usaha Hero. Foto: Parwito

Dilihat dari cara kerjanya, pemesanan bunga bisa dilakukan di kota manapun secara mudah, murah, aman dan cepat. Nama Meme Florist inipun melambung dan sudah banyak dikenal oleh para netizen di dunia maya. Via website, BlackBerry Messenger (BBM), Short Massage Service (SMS), WhatApp (WA), Instagram (IG), FaceBook (FB), Twitter ataupun Email, pelanggan Meme Florist, merasa nyaman memanfaatkan jasa pemesanan bunga secara online melalui toko ini. Bahkan belakangan, Hero yang lihai di dunia IT ini juga telah meluncurkan aplikasi Meme Florist untuk Android.

“Harganya terjangkau mutu tetap terjamin, pengiriman tepat waktu dan budget yang fleksibel menyesuaikan pelanggan. Sekarang, kami sudah melayani pemesanan bunga ke lebih dari 30 kota besar di seluruh Indonesia,” ungkap Hero kepada Cendana News Selasa (14/11) di Kota
Semarang, Jateng.

Hero mengaku tidak memiliki toko yang menyediakan berbagai macam bunga secara offline. Dirinya hanya memposisikan sebagai ‘broker’ (makelar) bunga. Sehingga, dia membangun jaringan dengan para florist (penjual bunga) lokal di setiap kota.

“Saya melihat ini potensi yang luar biasa. Apalagi, bunga-bunga lokal di sini memiliki kualitas dan performance yang sangat bagus,” ujarnya.

Di sisi lain, para florist lokal banyak yang tidak memiliki kemampuan dalam hal internet marketing. Sehingga, Hero yang selama ini interest dengan dunia digital, akhirnya berupaya untuk menata sistem bagi para florist lokal. Kerjasama dengan prinsip saling menguntungkan akhirnya ditawarkan Hero kepada para florist lokal itu. Partner florist lokal itu setuju. Bahkan jaringan florist yang dibangunnya tercatat lebih dari 30 kota besar di Indonesia.

“Secara bisnis, era seperti saat ini banyak menjadi serbuan asing. Maka kami orang lokal harus memiliki inovasi yang mengerti budaya lokal, kualitas lokal yang baik kita angkat agar dikenal. Kita tahu penggunaan gadget, siapa yang tidak memakainya. Semua bisnis sudah saatnya going online,” ucapnya.

Meski demikian, Hero juga pernah mengalami kondisi keterpurukan dimana saat bisnis travel yang dikelola oleh keluarganya bangkrut sekira tahun 2006. Kemudian, dengan kreativitas yang dimilikinya, Hero berusaha mendalami bisnis jual beli online. Berbagai macam jenis
produk dia jajal. Mulai dari suplemen, filter air, dan lain-lain. Namun, bisnis online tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga akhirnya pada 2012, istrinya, Meme, menyampaikan pemikiran dan keinginannya.

“Saya ngobrol ke suami, ngomong kalau saya ingin memiliki aktivitas bisnis, namun tetap bisa menjadi ibu rumah tangga yang bisa sambil merawat anak-anak,” ungkap Meme.

Dari obrolan itulah, Hero kemudian mengatur strategi bersama istrinya. Meme memang senang dengan bunga, sebelum akhirnya berusaha mencari ide tentang bunga.

“Kami tidak punya ketrampilan untuk merangkai bunga sendiri. Makanya kami mencari partner. Pertama kami jalan-jalan di pasar bunga sekitar Kalisari Semarang, bertemulah dengan partner florist pertama yakni Adi Tristiadi. Kami kemudian melakukan kerjasama,” beber Meme.

Penjualan bunga melalui florist, untuk pertama kalinya mendapat respon positif dari konsumen. Keduanya kemudian memperluas jaringan dengan memperbanyak partner lain. Bahkan hingga memperluas jaringan di kota-kota besar, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Bali, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan dan Aceh serta kota lainnya.

“Kami perluas jaringan kami dengan mendatangi florist-florist lokal dan melakukan screening, menyeleksi kualitas bunga dan lain-lain,” terangnya.

Hero mengaku, hal terpenting dalam berbisnis online selain strategi internet marketing, adalah menjaga kualitas pelayanan, ada kepercayaan, mudah, aman dan cepat. Komplain dari pelanggan pun pernah dialami. Namun baginya, pelayanan adalah salah satu modal utama dan harus segera diselesaikan.

“Pernah dikomplain konsumen. Ada partner florist lokal yang telat mengirimkan atau kualitas produksi kurang bagus. Kami menekan tingkat komplain, meski kesalahan partner, kami tetap bertanggungjawab mengganti atas nama usaha kami yaitu Meme Florist,” tandasnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi gadget, keduanya kemudian menggunakan website mobile version dibuat dengan pertimbangan kebutuhan publik yang lebih praktis.

“Kemudian sejak tahun 2015, kami membuat web mobile version agar lebih simpel dan praktis. Selain karena melihat potensi sangat tinggi, kami membuat aplikasi Android. Orang bisa menginstal di Android dengan cara mendownload aplikasi kami di Google Play,” pungkas Meme.

Komentar