Wali Kota Semarang: Ada 19 % Anak Belum Mengenyam Pendidikan SLTP

37
Wali Kota Semarang Hendi bercengkrama dengan siswa-siswi SMP Negeri 7 Semarang/Foto: Parwito.

SEMARANG — Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan jika sampai saat ini baru ada sebanyak 81 persen anak usia sekolah antara 12 tahun sampai 15 tahun yang sudah mengenyam pendidikan tingkat SLTP di Kota Semarang. Sehingga, sampai saat ini masih terdapat sebanyak 19 persen anak di Kota Semarang yang tidak sekolah di tingkat SLTP.

Pria yang akrab disapa Hendi ini menyatakan jika ada berbagai alasan dan persoalan yang mengakibatkan anak-anak usia SLTP tidak bisa mengenyam pendidikan SLTP tersebut. Mulai dari persoalan IQ atau kecerdasan anak maupun persoalan kebutuhan ekonomi sang orangtua.

“Problemnya macam-macam, mungkin karena secara IQ dia memang tidak mampu memenuhi standar SLTP tapi itu pasti jumlahnya kecil. Juga tidak mampu orang tuanya karena persoalan ekonomi atau juga karena dia sudah malas untuk bersekolah,” katanya.

Wali Kota Hendi pun , menceritakan jika dirinya sempat bertemu dengan anak yang tidak mau sekolah SLTP. Pasalnya, anak itu rela hanya menjadi buruh kuli panggul di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang untuk mendapatkan uang tanpa berpikir untuk bersekolah.

“Di Semarang Utara saya ketemu anak muda saya tanya, sekolah nggak? Nggak pak. Lho kenapa? Kamu usia berapa? 14 tahun. Kalau nggak sekolah ngapain? Pak, saya setiap pagi ke Pelabuhan Tanjung Emas. Di situ saya jadi kuli panggul, sehari saya dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Kalau sekolah nggak dapat seperti itu. Jadi, sudah cukup puas dengan uang sehari Rp50 ribu. Tapi dia tidak ngerti bahwa kehidupan akan berjalan sampai umur 50 tahun, 70 tahun bahkan 80 tahun,” paparnya.

Selain itu, Hendi juga mencontohkan dirinya sempat bertemu dengan seorang anak yang mengemis. Kemudian, setelah ditanyanya, ternyata anak itu mengemis disuruh oleh orang tuanya sendiri.

“Pernah satu ketika, ketemu lagi, kelompok anak jadi pengemis jalanan. Di traffic light, kita tangkep. Kita tanya, kamu sekolah nggak? Nggak Pak. Kenapa? Saya ndak boleh sama orang tua. Orang tua kita panggil. Kepala Dinas Pendidikan punya beasiswa untuk warga tidak mampu yang tahun depan (Program sekolah grátis) akan masuk ke wilayah sekolah swasta (beasiswanya). Jadi kita optimis, pada saat si anak disekolahkan dia akan mau,” tuturnya.

Namun, saat bertemu dengan orangtuanya, Wali Kota Hendi mengaku jika orangtuanya mau anaknya sekolah dibantu pemerintah. Namun, pemerintah juga harus memberikan ganti pendapatan dari hasil mengemis rata-rata antara Rp25 ribu sampai Rp50 ribu per harinya.

“Tapi apa jawaban orang tua? Orang tuanya kita datangkan, Bu anaknya besok saya sekolahkan. Biayanya grátis dari pemerintah. Oh njih pak, matursuwun. Ibunya tanyak, saya dapat apa? Lho maksudte piye (bagaimana) Bu? Sudah dibayari kok isih njaluk. Nggak pak, kata ibunya, anaknya disekolahkan harus ada yang mengganti sehari Rp50 ribu yang dihasilkan si anak,” ucap Wali Kota Hendi menirukan sang ibu.

Hendi juga memberikan nasehat kepada anak-anak yang telah mengenyam sekolah hingga pendidikan SLTP. Selain itu, juga bersyukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan, sehingga bisa bermain dan belajar dan terus belajar demi massa depan.

“Adik-adik harus merasa beruntung, masih bisa sekolah di sekolah yang luar biasa hebatnya. Kemudian diberikan kesehatan, bisa ketemu sama teman-teman, bisa bermain di usia 12 sampai 15 tahun. Adik-adik hari ini, bebannya hanyalah belajar, belajar dan belajar. Jangan selalu melihat ke atas, waduh, ngeluh sama orang tuanya,” ujarnya.

Hendi mengajak kepada seluruh warga Kota Semarang untuk bersama-sama melakukan program pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan cara mendorong anak muda untuk tetap semangat bersekolah. Pasalnya, kesuksesan masa depan seorang anak mudanya ditentukan pada saat memasuki dunia kerja.

“Hari ini, kita harus bersama menuntaskan persoalan kemiskinan dan pengangguran. Pemerintah Kota Semarang dibantu oleh tangan warga di Kota Semarang berupaya mengatasi persoalan itu. Caranya bagaimana? Terus mendorong generasi di Kota Semarang bisa senantiasa belajar, belajar dan belajar. Karena pertandingan sesungguhnya pada saat adik-adik memasuki dunia kerja. Usia produktif itu usia 17 tahun samapi 50 tahun,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Semarang Hendi juga membagikan kartut-cash yang merupakan kartu untuk naik Bus Rapid Trans (BRT) jika anak berangkat sekolah. Selain itu juga, Hendi memberikan buku biografi dirinya kepada beberapa anak SMP Negeri 7 yang berhasil meraih prestasi, baik di tingkat regional maupun nasional.

 

 

Komentar