Warga Lampung Selatan Lestarikan Durian Keong

Editor: Irvan Syafari

52
Paryanto,warga dusun umbul keong memperlihatkan durian keong hasil penangkaran dan budidaya akibat kelangkaan durian jenis tersebut /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Dusun umbul Keong Desa Klaten Kecamatan Penengahan kabupaten Lampung Selatan merupakan sebuah dusun berjarak lima kilometer dari area Gunung Rajabasa dan berada di perbatasan daerah aliran sungai (DAS) Way Pisang.

Sungai ini adalah batas alam antara perkampungan penduduk dengan kawasan hutan register I Way Pisang di bawah pengelolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Berbatasan dengan kawasan register membuat wilayah tersebut masih memiliki beragam tanaman kehutanan dan perkebunan. Salah satunya adalah  durian (durio zibethinus) dengan ciri khas kulit berduri dengan daging buah yang manis dan di wilayah tersebut dikenal jenis durian keong.

Paryanto (56), salah seorang warga menyebut sesuai dengan penamaan wilayah sudah sangat lazim diberikan berdasarkan ciri khas daerah setempat. MIsalnya saja ada nama Dusun Umbul Bendo karena di wilayah tersebut banyak pohon bendo.

Contoh lain terang Paryanto nama Dusun Umbul Merbau karena di wilayah tersebut banyak pohon merbau serta umbul keong yang menjadi wilayah tepi DAS Way Pisang dengan ciri khas banyak ditumbuhi pohon durian keong hingga kini dusun tersebut dinamai Umbul Keong.

Laki laki yang merupakan generasi kedua warga asal Yogyakarta yang melakukan transmigrasi dan mendiami wilayah tersebut mengaku DAS Way Pisang dan berada di dekat register I Way Pisang merupakan kawasan hutan dengan beragam jenis tanaman langka yang kini sulit dijumpai di antaranya merbau, gandri, bendo termasuk durian jenis keong.

Durian keong di wilayah tersebut sejak 1970 diakui Paryanto sudah mulai dibudidayakan warga di area perkebunan dan pekarangan bahkan hampir dimiliki oleh setiap warga di Desa Klaten yang sudah berusia sekitar 52 tahun tersebut.

“Karena Dusun Umbul Keong menjadi Dusun Kantong Umbulan dari dusun induk di Klaten maka masih banyak pohon durian ditanam warga hingga kini sebagian masih tumbuh meski umurnya sudah cukup tua. Sebagian ditebang karena kebutuhan ekonomi dijual sebagai bahan bangunan dan kebutuhan lahan perumahan,” terang Paryanto saat ditemui Cendana News belum lama ini.

Dia memperlihatkan tanaman durian yang tersisa sebanyak lima batang dari total sebanyak dua puluh batang di kebun miliknya dan di pekarangan rumahnya.

Paryanto menerangkan Keberadaan pohon durian keong di wilayah tersebut dari 1970 hingga 2000 atau dalam kurun waktu 30 tahun dengan rata rata di Dusun Umbul Keong benar-benar kontribusi warga.

Sebanyak 20 kepala keluarga memiliki tanaman pohon durian keong sebanyak 50 batang tersebar di perkebunan dan pekarangan wilayah tersebut memiliki sekitar 100 batang pohon durian di umbul keong belum termasuk dusun penyangga.

Dusun penyangga yang kini mulai menyatu menjadi desa di antaranya Dusun Karanganyar, Mekarmulya, Klaten, Sidodadi, Sidorejo, Sidomakmur bahkan sebagian besar warganya menanam pohon durian keong rata rata sebanyak dua pohon di pekarangan dominan di kebun yang lebih banyak.

Durian dengan bentuk unik seperti keong mas yang kecil,bulat dan daging buah kuning keemasan tersebut bahkan kerap menjadi buruan di wilayah tersebut dari mulai harga Rp1000 perbuah hingga kini mencapai Rp20.000 per buah ukuran kecil, ukuran sedang mencapai Rp35.000 bahkan bisa mencapai Rp50.000 untuk ukuran besar.

“Awalnya warga menanam pohon durian keong sebagai pohon peneduh dikembangkan melalui teknik menyemai biji karena kala itu belum lazim mencangkok dan sebagian pohon besar yang masih ada tumbuh dari biji,” terang Paryanto.

Saat musim durian keong di kebun yang sekaligus ditanam dengan pohon buah langsep,mangga dan rambutan sebagian warga bahkan melakukan tekhnik “ngumbul” atau berhuma di gubuk menunggu durian keong jatuh secara alami yang kerap terjadi pada malam hari dan pagi hari berkat bantuan kalong dan tupai yang berniat menggerogoti manisnya buah durian keong.

Usia panen durian dari masa tanam sekitar 6-7 tahun pada tanaman alami diakui membuat tanaman durian keong hanya digunakan sebagai tanaman sela bisa berumur puluhan tahun sebagian ditanam pada pinggir pinggir kebun jagung dan pisang bahkan di tepi sawah darat padi gogo rancah yang menghasilkan hasil lebih cepat.

Tanaman yang berbuah satu tahun sekali dan mulai berbunga sejak September hingga Oktober dan bisa dipanen Desember hingga Januari. Pohon durian yang dimiliki Paryanto, satu pohon menghasilkan sekitar 90 hingga 100 buah durian keong meski pada saat awal pembungaan. Hingga proses pembesaran, pematangan bakal buah bisa mencapai 300 buah. Namun durian muda kerap gugur, dimakan tupai sehingga produksi satu pohon merata dikisaran 90 buah.

“Awalnya saya memiliki sebanyak sepuluh batang tanaman durian keong sebagian di kebun namun mulai diremajakan dengan tanaman baru melalui sistem cangkok dan membeli bibit baru dari penjual bibit,” papar Paryanto.

Keberadaan tanaman durian keong yang dominan dibudidayakan secara alami dari biji membuat pohon durian keong semakin langka bahkan nyaris menjadi sejarah dengan sisa nama umbul keong sebagai nama dusun.

Paryanto menyebut faktor penebangan kayu durian sebagai bagian perburuan kayu merah untuk dijual atas desakan kebutuhan ekonomo semakin menekan populasi tanaman durian keong yang kini di wilayah tersebut tak lebih dari seratus batang.

Dampaknya beberapa warga yang memiliki pohon durian keong bahkan menyebut keberadaan durian keong sebagai “emas hijau” karena harganya cukup menggiurkan dengan pendapatan dari satu batang pohon durian produktif rata rata 100 buah per pohon dengan harga Rp20.000.

Buah kesabarannya membuat Paryanto bisa mendapatkan hasil Rp2 juta satu pohon. Ia bahkan sudah mulai menghentikan sistem tengkulak yang membeli durian saat masih muda dengan harga murah karena terbatasnya jumlah durian keong.

Penangkaran dan Budidaya Durian Keong Mulai Dilakukan Warga

Pohon durian yang sebagian masih tumbuh liar di Gunung Rajabasa sebagai tanaman kehutanan sumber hasil hutan non kayu tersebut bahkan sebagian dibudidayakan masyarakat sebagai tanaman multi manfaat sebagai penahan erosi tanah, penahan air dan menghasilkan secara ekonomis dari buah dan kayunya. Penebangan yang dilakukan akibat desakan ekonomi dan kebutuhan lahan untuk perumahan ikut mendorong berkurangnya populasi pohon durian keong.

Paryanto bahkan mengaku mulai mengembangkan durian keong menggunakan tekhnik cangkok puluhan batang sisanya membeli dari pusat pembibitan di Pekalongan Lampung Timur dengan varietas durian lain diantaranya durian bangkok,montong sebagai koleksi.

Proses pencangkokan dan penyambungan bahka dilakukannya menciptakan bibit berkualitas dengan pohon yang lebih rendah tajuknya dan masa berbuah lebih cepat. Penyambungan dengan varietas lain dan bagian atas durian keong bahkan dilakukannya agar ciri khas durian keong tidak hilang.

“Saya memandang perlu untuk menangkarkan karena tidak ingin durian keong hanya sejarah bagi anak cucu tersisa nama kampung umbul keong tanpa ada penanda sejarah nama tersebut dan tidak bisa merasakan manisnya durian keong asli wilayah ini,” beber Paryanto.

Nuwar (40), warga setempat lainnya juga bahkan mendapatkan bibit dari Paryanto dua batang yang pada awal November ini mulai berbunga merupakan varietas durian keong dengan masa pembungaan yang cukup tepat tanpa curah hujan yang tinggi mengurangi perontokan bunga. Pohon setinggi sepuluh meter tersebut bahkan sudah berbunga pada bagian cabangnya dengan rata rata berbuah puluhan buah memasuki masa “pentil” (durian muda).

Nuwar berharap sebagian besar bunga yang ada bisa menjadi bakal buah dan menghasilkan buah untuk masa pembuahan tahun kedua dengan hasil buah masa panen pertama sekitar 80 buah durian keong. Selain memetik manfaat dari pohon durian sebagai tanaman perkebunan dan kehutanan sekaligus buah lokal tersebut Nuwar juga mulai melakukan pencangkokan saat pohon durian belum berbunga.

“Sebagian sudah saya pencarkan ke area kebun lain meregenerasi pohon tua yang sudah harus ditebang hasil tanaman ayah dan kakek saya sehingga pohon durian keong masih tetap akan lestari di desa kami,” terang Nuwar.

Isti,salah satu keluarganya bahkan menyebut durian keong yang kerap diburu orang saat puncak durian panen pada bulan Desember hingga Januari sebagian sudah besar meski kendala kerontokan masih menghantui.

Sebagai langkah antisipasi mendapatkan kerugian dari budidaya durian keong sebagian warga yang berprofesi sebagai petani bahkan melakukan pemupukan dan penyemprotan pada tanaman menghindari hama semut atau ulat penggerek buah durian.

Isti yang merupakan generasi ketiga dari warga yang tinggal di umbul keong berharap kejayaan dan dikenalnya buah durian yang berpusat di umbul keong bisa kembali muncul seiring dengan kesadaran warga menanam pohon durian di pekarangan maupun kebun. Selain sebagai tanaman kehutanan dan jenis multi purposes tree species (MPTS) durian keong juga berfungsi sebagai pohon reboisasi dan menjaga resapan air.

Durian keong yang mulai berbuah lebat pada November diprediksi panen pada bulan Desember hingga Januari /Foto: Henk Widi.

Komentar