1.500 Guru di Sikka Masih Berstatus Honor Komite

MAUMERE – Sebanyak 1.500 guru di kabupaten Sikka tersebar di berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta, khususnya di wilayah kecamatan masih berstatus guru honor komite dengan penghasilan sangat minim, bahkan di bawah Rp500 ribu per bulan.

“Kami mengusulkan agar para guru juga mendapatkan tunjangan tambahan penghasilan, sehingga kami mendatangi DPRD Sikka, agar aspirasi guru juga bisa diakomodir,” tegas Pius Ola Witin, ketua PGRI Sikka, Jumat (8/12/2017).

Anggota Komisi III DPRD Sikka, Stef Sumandi. -Foto: Ebed de Rosary

Saat ditemui Cendana News usai rapat di Komisi III DPRD Sikka, Pius menjelaskan, pihaknya juga sudah menyampaikan, bahwa banyak guru honor komite yang bergaji minim. Ada 1.500 guru honor di kabupaten Sikka dengan gaji sangat minim.

“Kehadiran kami di DPRD Sikka, guna menanyakan tambahan penghasilan bagi PNS. Guru tidak mendapatkan tambahan penghasilan, karena dikatakan sudah mendapatkan tunjangan fungsional dan dana sertifikasi,” jelasnya.

Ada celah dalam aturan, ungkap Pius, yang membolehkan guru mendapatkan tunjangan dan kalau ada celah berarti bisa dilihat.

Keputusan DPRD Sikka bersama pemerintah sudah terjadi, bahwa tidak ada tambahan penghasilan bagi guru. Namun, itu baru disetujui sedangkan penetapannya belum.

Stef Sumandi, anggota Komisi III DPRD Sikka, menjelaskan, memang guru-guru komite  masih banyak yang bergaji minim, karena mereka mendapatkan penghasilan honor komite dari dana yang dibayarkan para orang tua murid.

Gaji mereka tergantung dari kemampuan keuangan sekolah dan orang tua murid.

Terkait adanya guru honor komite yang mengajar di sekolah negeri, Stef mengatakan, seharusnya guru negeri mengajar di sekolah negeri, tapi saat ini banyak yang mengajar di sekolah swasta .Ini membuat sekolah negeri kekurangan guru dan diisi oleh guru honor daerah dan honor komite.

“Komisi III DPRD Sikka sejak 2014 telah berkomitmen mendesak pemerintah daerah untuk memberikan intensif bagi guru komite, sehingga sejak 2014 dianggarkan untuk 100 guru, pada 2015 sebanyak 100, 2016 ada 200 guru dan 100 guru di 2017, sehingga sampai 2017 total ada 500 guru yang mendapatkan intensif.

“Untuk 2018 nanti sudah dianggarkan pemberian intensif dengan jumlah 500 ribu rupiah sebulan untuk 250 orang lagi, sehingga bisa mencapai 750 orang guru di 2018 yang mendapatkan intensif ini,” pungkasnya.

Lihat juga...