11 Hari Ditahan, Wartawan Reuters Belum Bertemu Keluarga

YANGON – Keluarga belum pernah bisa melakukan komunikasi dengan dua wartawan Reuters yang ditahan pemerintah Myanmar. Setelah masa penahanan selama 11 hari, keluarga juga belum mengetahui di manakah kedua wartawan Reuters di tahan. 

Sementara penahanan karena tuduhan memperoleh informasi secara ilegal untuk media asing telah dijalani selama 11 hari. Pemerintah setempat mengklaim akan memberikan izin kepada keluarga untuk bertemu dengan kedua wartawan setelah 14 hari masa penahanan pertama selesai.

Dua wartawan Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo sudah berada dalam tahanan selama 11 hari di sebuah lokasi yang tak diungkapkan. Tak hanya keluarga, pengacara dan kolega keduanya juga tidak memiliki akses komunikasi. Mereka ditangkap setelah diundang bertemu dengan perwira polisi untuk makan malam di pinggiran Yangon, kota terbesar Myanmar, pada 12 Desember. (Baca: https://www.cendananews.com/2017/12/kepolisian-myanmar-tangkap-dua-wartawan-reuters.html).

Polisi setempat sedang menyelidiki apakah keduanya melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial negara itu. Orang yang melanggar UU itu akan dijatuhi hukuman penjara maksimum 14 tahun.

“Setelah masa penahanan pertama (habis), mereka dapat bertemu dengan keluarga mereka. Mereka akan diajukan ke pengadilan untuk memberikan kesaksian,” kata Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Myanmar Tin Myint, Sabtu (23/12/2017).

Tin Myint mengatakan, penanganan kasus terhadap kedua wartawan Reuters tersebut akan berlangsung transparan. Pihak berwenang akan mengikuti aturan dalam penanganannya. Hanya saja Kementerian Dalam Negeri Myanmar tidak mau menjawab beberapa permintaan ketika dimintai komentar lebih lanjut.

Pemerintah-pemerintah dari sejumlah negara besar termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Kanada, tokoh-tokoh politik internasional dan para pejabat tinggi PBB telah menyampaikan permintaan kepada Myanmar termasuk di antara mereka yang untuk pembebasan para wartawan Reuters tersebut.

Keduanya bekerja untuk Reuters meliput krisis di negara bagian Rakhine, di bagian barat Myanmar. Di kawasan itu sekitar 655.000 Muslim Rohingya melarikan diri dari penumpasan militer bengis atas para militan.

Seorang juru bicara pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi pekan ini mengatakan kepada Reuters bahwa polisi hampir merampungkan investigasi dan kedua wartawan itu akan diperlakukan sesuai hukum. Sementara Kementerian Informasi mengatakan pada pekan lalu menyebut Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (27), telah secara ilegal memperoleh informasi dengan maksud membaginya kepada media asing. (Ant)

Lihat juga...