26 Desember, Kenangan Paling Istimewa bagi Keluarga Cendana

JAKARTA — Tahun 2017 tinggal menghitung hari akan segera berakhir. Berbagai kegiatan selama setahun tentu akan menjadi kenangan. Berbicara tentang kenangan, 26 Desember ternyata adalah kenangan yang paling istimewa bagi Keluarga Cendana. Pada tanggal tersebut, tepatnya 26 Desember 1947 adalah tanggal pernikahan Soeharto dan Raden Ayu Siti Hartinah. Mereka menikah di Surakarta.

Ada kisah menarik setelah menikah, betapa peran Ibu Tien dalam karier Pak Harto sangat besar. Pak Harto adalah pribadi yang sangat mempercayai keyakinan diri dan selalu menerima masukan keluarganya. Karena itu posisi Ibu Tien sangat menentukan dalam beberapa keputusan penting. Antara lain saat Pak Harto memutuskan terus menjadi tentara saat ia merasa mengalami badai fitnah pada 1950-an.

Pada waktu itu, Pak Harto pernah nyaris berhenti menjadi tentara untuk kemudian akan beralih profesi menjadi petani atau supir taksi pada saat itu. Ibu Tien memberikan saran, “Saya dulu diambil istri oleh seorang prajurit dan bukan oleh supir taksi. Seorang prajurit harus dapat mengatasi setiap persoalan dengan kepala dingin walaupun hatinya panas.”

Saran Ibu Tien memang sangat penting agar Pak Harto tetap meneruskan karier militernya yang begitu cemerlang. Bisa dibilang sebuah saran yang sangat menentukan bagi karir maupun kehidupan Pak Harto selanjutnya. Pak Harto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Setelah Gerakan 30 September 1965, ia menyatakan bahwa PKI sebagai pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Ia memimpin penumpasan G 30 S PKI. Setelah itu, Pak Harto menjadi orang nomor satu di Negeri ini dengan kedudukan sebagai presiden RI ke-2.

Tanggal 26 Desember juga tanggal penting bagi Museum Purna Bhakti Pertiwi (MPBP) di TMII. Sebagaimana yang dilansir dalam Soeharto.co, pada 26 Desember 1987, dalam rangka ulang tahun perkawinan Pak Harto dan Ibu Tien yang ke-40, Presiden dan Ibu Tien Soeharto meresmikan dimulainya pembangunan MPBP.

Di dalam museum ini terdapat koleksi benda-benda perjuangan dan pengabdian Jenderal (Pur) Soeharto. Peresmian awal pembangunan MPBP ini ditandai dengan peletakan batu dan pemancangan tiang pancang pertama bangunan oleh Presiden dan Ibu Soeharto, serta dilanjutkan oleh putera dan puteri Presiden, yang tergabung dalam kepengurusan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

MPBP didirikan oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi atas prakarsa Ibu Tien Soeharto. Kemudian, MPBP diresmikan pada 23 Agustus 1993 oleh Pak Harto, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-70 Ibu Tien Soeharto.

Berdiri di atas tanah seluas 19,7 hektare, MPBP merupakan wahana pelestarian benda-banda bersejarah tentang perjuangan dan pengabdian HM Soeharto dan Ibu Tien Soeharto kepada bangsa Indonesia, sejak masa perang kemerdekaan hingga masa pembagunan.

Sebagai objek wisata edukasi yang bermatra sejarah, museum ini juga menyimpan benda-benda seni bermutu tinggi yang diperoleh Bapak Soeharto dan Ibu Tien Soeharto dari berbagai kalangan, baik rekan maupun sahabat sebagai cenderamata. MPBP memiliki koleksi kurang lebih 13.000-an, yang berhubungan dengan peran sejarah pengabdian Pak Harto sebagai Presiden.

Sebelumnya sebagian besar koleksi ini dirawat dan disimpan Ibu Tien Soeharto sebagai pendamping setia Pak Harto. Kemudian, Ibu Tien menyadari bahwa pengalaman hidup Pak Harto bukanlah hanya milik keluarga.

Pak Harto adalah milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu, koleksi barang-barang pribadi dan cenderamata yang dimilikinya harus bisa dinikmati oleh khalayak ramai. Tentu, tempat yang paling baik untuk itu adalah di museum yakni di MPBP ini.

Museum Purna Bhakti Pertiwi – Foto: Istimewa-Akhmad Sekhu.
Lihat juga...