619 Jemaat Rayakan Natal dalam Busana Adat Bali

MANGUPURA  – Sebanyak 619 orang jemaat Nasrani di Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus, Banjar Babakan, Desa Canggu, Kuta Utara, Bali merayakan Natal dengan mengenakan busana adat khas Bali, sebagai cermin akulturasi budaya di daerah itu.

“Sejak Tahun 1940 jemaat di Gereja ini menggunakan pakaian adat Bali saat doa bersama di Gereja pada Perayaan Natal dan ini sebagai ciri khas kami,” kata Ketua I Bidang Pembinaan Iman dari Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus, Nyoman Werna, di Kuta Utara, Badung, Senin.

Dalam acara doa bersama yang dipimpin Pastur Lusius Nyoman Purnawan itu, para jemaat perempuan menggunakan baju kebaya, sedangkan pria mengenakan baju safari dan udeng (ikat kepala). Dalam pesan pendeta nasrani itu, meminta kepada umat agar memaknai Hari Raya Natal sebagai wujud memupuk rasa damai dalam cinta kasih, sejahtera muncul dari hati.

“Damai dan sejahtera ini bukan semata-mata sebagai slogan namun harus muncul dari hati. Untuk menciptakan damai harus diberbagi untuk membantu sesama dalam kesulitan,” katanya.

Selain berbusana adat Bali, ornamen bangunan di Gereja setempat juga cukup unik karena bentuk bangunannya menyerupai tempat ibadah Umat Hindu di Pulau Dewata.

Kemudian, dalam menjalankan tradisi Perayaan Natal di desa setempat juga dilakukan saling berbagi makanan (ngejot) kepada sanak saudara dan tetangga sekitar. “Sebelum merayakan Hari Raya Natal umat yang ada di desa itu melakukan acara memotong hewan babi (nampah) bersama,” katanya.

Ia menambahkan, akulturasi budaya lainnya yang dilakukan saat perayaan Natal kali ini dengan membuat gebogan (rangkaian janur kombinasi kue dan buah) sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan pencipta atas berkah yang diberikan selama ini.

“Ini juga kami lakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yesus karena telah diberikan berkah hasil bumi yang berlimpah,” ujarnya.

Nyoman Werna mengakui, makna Natal kali ini mengimbau umat agar tidak takut menghadapi masa depan mereka, karena seperti diketahui saat ini bangsa Indonesia dihadapi gejolak dan tantangan dalam menghargai antarumat beragama.

Hal ini memberikan makna yang mendalam agar segala permasalahan yang ada dapat dihadapi dengan menghargai satu sama lain dan dalam menghadapi gejolak dapat diselesaikan dengan rasa cinta kasih. (Ant)

Lihat juga...