Akademisi Undana: Produksi Pangan NTT Terhambat Anomali Iklim

38
Ilustrasi pertanian di NTT/Foto: Dokumentasi CDN.

KUPANG — Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Ir Leta Rafael Levis MT MRur, mengatakan anomali iklim yang berdampak pada datang dan berakhirnya musim hujan yang tidak menentu telah ikut menghambat produksi pangan di NTT.

Di sisi lain keinginan Presiden Joko Widodo agar NTT meningkatkan produktivitas di sektor pertanian dan perikanan belum maksimal karena masih terhambat faktor iklim, manusia dan dampak kemajuan teknologi,” katanya di Kupang, Jumat (8/12).

Ia mengatakan hal itu terkait pengaruh iklim dan cuaca terhadap capaian produksi pangan setiap daerah dan upaya mengatasinya. Produktivitas masih menjadi menjadi tolak ukur kemajuan sebuah daerah dalam upaya pengentasan kemiskinan, menurunkan tingkat ketimpangan keadilan sosial dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

Dosen Fakultas Pertanian Lahan Kering Undana Kupang itu mengatakan apabila dilihat dari sisi produksi 30 persen PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) NTT berasal dari pertanian dan perikanan, artinya peningkatan produktivitas pertanian dan perikanan menjadi kunci kesejahteraan rakyat NTT.

Menurut Leta Levis, anomali iklim dan cuaca ekstrem dalam tiga tahun terakhir terus melanda Nusa Tenggara Timur telah ikut menghambat berbagai rencana dan proyek startegis nasional di daerah berbasis kepulauan ini.

Dengan iklim yang seni-arid (sebagian kecil basah dan kering) telah membuat para petani di daerah ini kesulitan untuk mewujudkan keinginan pemerintah untuk meningkatakan produktivitas guna kesejahteraaan bersama.

Dia menyebut produksi padi pada 2015 sebanyak 948.088 ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat 14,82 persen atau sebanyak 825.728 ton GKG jika dibandingkan dengan 2014.

Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya luas panen dan produktivitas masing-masing sebesar 7,90 persen dan 6,41 persen.

Sementara katanya produksi jagung Tahun 2015 sebesar 685.081 ton pipilan kering juga meningkat 5,87 persen dari tahun sebelumnya disebabkan oleh peningkatan luas panen.

Sedangkan luas tanam jagung di NTT per Desember 2016, mencapai 180.824 ha atau terluas jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Tanah Air.

Menurut Leta Levis potensi lahan yang dimiliki NTT untuk pengembangan jagung cukup tersedia. Bahkan jika dibandingkan dengan Nusa Tenggara Barat sebagai provinsi tetangga dari NTT menunjukkan bahwa luas tanam jagung di daerah berbasis kepulauan ini masih cukup luas yaitu sebesar 43.940 hektare.

“Kalau jika dibandingan dengan NTB luas lahannya hanya mencapai 28.679 hektar. Artinya luas lahan tanam jangung di NTT sangat besar,” katanya.

Hanya saja menurut Ketua Penyuluh Pertanian NTT ini, kejadian iklim ekstrem merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang dapat juga mengganggu kegiatan di berbagai sektor.

Berikut kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang beriringan dengan perkembangan teknologi serta pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi telah membuka peluang bagi para petani untuk beralih profesi ke sektor lain.

Bahkan kata dia pola bertani pun ikut bergeser dari sistem manual yang membutuhkan tenaga manusia menuju ke sistem modern yang mengandalkan teknologi, sehingga apabila pemerintah tidak sanggup menyesuaikan dengan kondisi itu, maka peralihan itu terus mengalir dan meninggalkan profesi ini.

Pada titik ini kata dia pengembangan progam mina padi yang dilaksanakan Kementerian Kelautan dan Perikanan penting dilakukan karena sejalan dengan target Presiden Joko Widodo untuk swasembada pangan khususnya beras, jagung, dan kedelai pada 2018.

Menurutnya, cara bertani sekaligus berbudidaya ikan merupakan kegiatan yang luar biasa di mana kultur masyarakat Indonesia di antaranya melakukan budidaya padi dan ikan secara terpisah (Ant).

Komentar