Akhir Tahun, Panen Cabai Petani Lamsel Membaik

Editor: Satmoko

85
Proses penyortiran buah cabai merah besar yang mulai matang di Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan. [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG – Petani cabai merah besar di Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mulai melakukan pemanenan tahap pertama saat usia cabai merah mencapai usia 70 hari dengan puncak masa panen mencapai 100 hari.

Sohimi (40) menyebut, menanam sebanyak 6.000 batang sebanyak ratusan mulsa dengan prediksi hasil mencapai 3 ton yang dipanen secara bertahap. Sebagian mengikuti tingginya permintaan dari pasar di wilayah Sumatera Barat.

Penanaman cabai merah besar diakuinya telah dihitung mundur melihat kondisi permintaan yang diprediksi akan meningkat saat hari raya Natal 2017 dan tahun baru 2018. Proses pemanenan cabai merah bisa diunduh atau dipanen sebanyak belasan kali dengan tiga kali pemanenan sepekan tiga kali. Proses pemanenan tahap pertama yang dipanen pada batang hingga panen ketiga dan keempat, selanjutnya pemanenan dilakukan saat cabai merah tumbuh di ranting.

Proses penyemprotan hama trips pada tanaman cabai sebelum panen. [Foto: Henk Widi]
“Menanam cabai merah memang harus memiliki strategi soal cuaca, memperhitungkan permintaan pasar sehingga akan memberi keuntungan yang cukup melimpah dengan prediksi panen sebelum hari raya keagamaan atau pergantian tahun. Saat itu permintaan cukup tinggi,” terang Sohimi, warga Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan saat ditemui Cendana News tengah melakukan perawatan pada lahan cabai merah miliknya, Rabu (6/12/2017).

Pada penanaman semester kedua, diakui Sohimi, pada tahap pemanenan awal hingga keempat permintaan cabai merah besar banyak dikirim pengepul untuk pangsa pasar daerah lain. Di antaranya Padang dan Pekanbaru dengan pengiriman mencapai sekitar 5 ton berasal dari beberapa petani di wilayah Desa Tanjungheran dan Desa Sukabaru.

Meski sempat anjlok sekitar bulan Mei dengan harga Rp15.000 hingga Rp28.000 per kilogram sementara musim panen pada bulan Desember harga di level petani mencapai Rp45.000 akibat beberapa sentra cabai mengalami gagal panen tersebab cuaca.

Petani cabai lain, Suroto mengaku, pada awal bulan Oktober tersebut ribuan batang tanam cabai miliknya mendapat serangan hama trips dan berimbas pada keriting daun serta calon bunga rontok. Meski bisa diatasi dengan obat-obatan khusus ditambah dengan terjangan angin kencang yang berimbas sebagian tanaman cabai roboh meski menggunakan tiang ajir dan tali rapia. Beruntung hama patek yang kerap menyerang buah berimbas pada busuk buah tidak menyerang tanaman cabai milik petani.

“Sebagian petani cabai menghindari penanaman cabai merah pada saat musim rendeng dan sengaja menanam saat musim gadu karena saat musim penghujan rentan terjadi serangan hama penyakit,” terang Suroto.

Pada tanaman sekitar 7.000 batang penanaman sebelumnya, bisa menghasilkan sekitar 3 ton dengan perolehan uang sekitar Rp135 juta dengan modal hanya sekitar Rp30 juta untuk biaya pembelian mulsa, obat, biaya perawatan dan biaya pekerja yang membantu proses penanaman, perawatan hingga pemanenan. Saat kondisi panen baik pada bulan Desember ini, ia menyebut, modal bisa kembali pada dua kali pemanenan. Pemanenan selanjutnya lagi sudah dipisahkan sebagai keuntungan.

Selain memperoleh keuntungan dari cabai merah, sebagian petani bahkan menanam secara tumpang sari dengan tomat yang bisa dipanen pada usia 60 hari. Harga jual saat ini mencapai Rp4.000 per kilogram sehingga selain hasil panen cabai rawit petani juga mendapatkan hasil dari panen tomat yang bisa mencapai 100 kilogram dengan hasil sekitar Rp400 ribu. Pemanenan yang dilakukan pada cabai merah bisa bertahan selama 10 hari. Bisa pula dijual mendekati hari raya Natal dan Tahun Baru.

“Permintaan akan bumbu dapur yag tinggi menjadi peluang bagi petani penanam cabai dan tomat memperhitungkan musim tanam yang tepat dan kondisi cuaca,” tutup Suroto.

Kondisi panen yang baik saat permintaan akan cabai meningkat, diakui Suroto, menjadi berkah bagi petani cabai yang kerap mengalami kerugian akibat anjloknya harga dampak dari kondisi cuaca hujan serta menurunnya permintaan. Selain itu membanjirnya pasokan cabai merah dari beberapa kabupaten lain di Lampung di antaranya Gisting dan Pesawaran kerap membuat harga cabai di tingkat petani di Lampung Selatan anjlok dan mengakibatkan petani cabai gulung tikar.

Tanaman cabai merah ditanam secara tumpangsari dengan tanaman tomat. [Foto: Henk Widi]

Komentar