Akhir Tahun, Pasang Surut Order Kendaraan Ekspedisi

LAMPUNG – Jelang akhir tahun, sejumlah kendaraan ekspedisi pengirim barang dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa terlihat mengalami kenaikan signifikan.

Salah satunya melalui pelabuhan penyeberangan PT. Bandar Bakau Jaya (BBJ) penghubung Muara Piluk Lampung tujuan ke pelabuhan Bojonegara Provinsi Banten.

Kenaikan signifikan tersebut diakui Slamet (40) salah satu pengemudi kendaraan ekspedisi asal Medan tujuan Jakarta yang menyebut pengiriman telur untuk kebutuhan pasar Jakarta cukup meningkat jelang akhir tahun.

Slamet, salah satu pemgemudi perusahaan ekspedisi istirahat di pelabuhan PT. BBJ Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Selain telur, ia menyebut, terjadi peningkatan order kendaraan pengangkut sembilan bahan kebutuhan pokok dari wilayah Pulau Sumatera menuju ke Pulau Jawa untuk stok Natal dan Tahun Baru. Permintaan kendaraan ekspedisi dari bulan sebelumnya hanya melakukan pengiriman sebanyak tiga kali bisa meningkat menjadi sebanyak enam kali pengiriman.

Selain telur beberapa kendaraan ekspedisi dari perusahaan miliknya bekerja juga melakukan pengiriman ayam potong meski menggunakan jalur pelabuhan PT. ASDP di Bakauheni.

“Bagi kendaraan ekspedisi yang mengangkut kebutuhan non sembako banyak memilih menggunakan pelabuhan landing craft tank di pelabuhan BBJ Muara Piluk. Sementara kendaraan sembako memilih menggunakan pelabuhan milik ASDP karena lebih cepat,” beber Slamet, salah satu pengemudi kendaraan ekspedisi pengangkut telur asal Medan saat ditemui Cendana News di Pelabuhan PT. Bandar Bakau Jaya, Jumat siang (8/12/2017).

Ia menyebut dengan armada ekspedisi sekitar 10 unit pengiriman kebutuhan pokok semakin meningkat dengan tingginya permintaan untuk stok barang di sejumlah pasar. Meski berbeda dengan pengiriman barang non sembako yang diakui Slamet justru mulai menurun. Pengiriman barang non sembako menggunakan kendaraan ekspedisi tersebut diantaranya kebutuhan barang jenis kebutuhan pabrik dan barang-barang lain.

Kapal BNR II asal Bakauheni tujuan Bojonegara Serang Banten memuat kendaraan ekspedisi. [Foto: Henk Widi]
Menurunnya pengiriman menggunakan kendaraan ekspedisi untuk jenis barang non sembako tersebut berkaitan dengan beberapa perusahaan yang akan melakukan tutup buku atau dikenal dengan tutup gudang.

Rizal (45) salah satu pengemudi truk ekspedisi asal Pekanbaru tujuan Serang yang mengirim bahan tisu sekitar 10 ton bahkan menyebut pengiriman pada akhir pekan ini merupakan pengiriman terakhir karena pertengahan bulan Desember aktivitas perusahaan tidak akan melakukan pengiriman jelang Natal dan Tahun Baru.

“Perusahaan kami memang kerap melakukan pengiriman barang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya. Namun seperti tahun sebelumnya jelang akhir tahun justru sepi karena perusahaan akan tutup buku,” cetus Rizal.

Pengemudi perusahaan salah satu perusahaan ekspedisi tersebut menyebut, mengangkut barang berupa bahan kertas tisu dengan masing-masing seberat 2 ton sehingga dalam satu pengiriman ekspedisi dirinya mengirimkan sebanyak 10 ton dalam lima gulungan dan merupakan pesanan dari perusahaan. Pesanan pengiriman tersebut akan menjadi pengiriman terakhir dan akan dilakukan setelah tahun baru.

Ia menyebut, pengiriman barang non sembako yang dilakukan perusahaan ekspedisi antar kota antar provinsi tempatnya bekerja juga mulai mengalami penurunan. Meski untuk pengiriman jenis bahan sembako diantaranya telur dari Padang dan Medan tujuan Jakarta dan sekitarnya masih terus berjalan.

Selain kondisi cuaca yang cukup membaik ia mengaku ekspedisi barang pada akhir tahun cukup normal melalui pelabuhan PT. BBJ Bakauheni menggunakan kapal JNW dan BNR 0 serta BNR II dan PT. ASDP Bakauheni dengan kapal roll on roll off (Roro).

Salah satu pengurus Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Bakauheni, Surya, menyebutkan, tren pengiriman barang non sembako melalui pelabuhan PT. BBJ Bakauheni dan PT. ASDP justru mengalami kenaikan untuk jenis ekspedisi barang sembako. Di antaranya sayuran, beras, bumbu dapur serta kebutuhan pokok lain, seperti ayam dan telur. Sementara angkutan barang non sembako mulai menurun.

“Kami pengurus ekspedisi mencatat, dominan kendaraan pengangkut sembako yang melintas, untuk non sembako mulai berkurang,” ujar Surya.

Sebagian pemilik usaha ekspedisi memang sengaja menghindari pengangkutan barang non sembako sebelum pelaksanaan angkutan Natal dan Tahun Baru yang biasanya dilakukan pada H-4 hingga H+2. Pada masa itu kendaraan non sembako sudah tak diizinkan melintas sehingga banyak pemilik usaha ekspedisi mengirim barang pada pekan pertama Desember dan mulai berkurang pada pekan kedua hingga pekan ketiga. Kecuali kendaraan sembako.

Antrian kendaraan truk eskpedisi non sembako di pelabuhan PT. BBJ Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...