Aksi Juki yang Konyol dan “Antimainstream”

JAKARTA — Tahukah Anda siapa itu ‘Si Juki’? Mendengar namanya yang memakai J daripada Z tampak sebagai sikap yang antimainstream. Karena kita sudah terbiasa mendengar nama tokoh seniman besar Ismail Marzuki yang namanya diabadikan menjadi pusat kesenian TIM (Taman Ismail Marzuki). Film animasi ‘Si Juki the Movie’ dikembangkan dari karakter komik yang awalnya terbit secara daring, dan kemudian terbit dalam bentuk buku

Film ini diawali dengan adegan mengenal tokoh Juki beserta para keluarganya yang tampak cukup baik dalam mengenalkan para tokoh kepada para penonton yang mungkin belum mengenal sosok Juki.

Kisah sosok Juki yang berada di jalur antimainstream yang membuat dia disukai. Sikapnya yang polos, lucu tapi cenderung konyol, dan berani tapi lebih nekad tampaknya membuat dirinya tampil beda sehingga nama Juki langsung kesohor melesat bak meteor.

Dia menjelma menjadi selebritis. Akan tetapi, roda hidup terus berputar. Pelan-pelan pamor Juki meredup karena Juki dianggap berubah. Hingga sampai Juki dikucilkan komunitasnya.

Kendati sedih, tapi Juki berusaha untuk tetap tenang dan kocak seperti biasa. Apalagi dia dikelilingi keluarga yang selalu ada dan mendukungnya. Terutama Enyak (Maya Wulan), Babeh (Jaja Mihardja), serta pamannya Profesor Juned (Indro Warkop) dan sepupunya Juleha (Wizzy).

Sampai akhirnya serial yang Juki bintangi distop penayangannya, Juki berupaya tetap biasa saja. Meski dalam dirinya menyimpan kekecewaan sangat mendalam.

Di sisi lain, Badan Antariksa menemukan ada asteroid yang akan menabrak bumi. Hal ini membuat peneliti dari Badan Antariksa, Erin (Bunga Citra Lestari) panik. Setelah diskusi dengan Presiden (Butet Kartaredjasa), datang seorang pengusaha yang berniat mencegah bencana itu. Namun, Erin merasa ada yang aneh tanpa bisa berbuat apa-apa.

Erin kemudian menemui Juki untuk meminta tolong agar Juki menghentikan misi karena perhitungan yang tidak akurat. Juki membentuk ‘Panitia Hari Akhir’ yang terdiri dari Erin, Juleha, Bang Togat, dan Buyung, yang akan menghancurkan meteor tersebut dan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Sayangnya, tindakan ini malah dianggap sebagai sabotase karena gagalnya misi menghancurkan asteroid.

Di tengah kerumitan masalah, Profesor Juned berusaha untuk membantu dengan penemuannya. Dengan segala upaya, akhirnya Juki bersama ‘Panitia Hari Akhir’ berhasil mencapai luar angkasa untuk menghancurkan asteroid. Berhasilkah misi Juki dan kawan-kawan untuk menyelamatkan dunia?

Film ‘Si Juki the Movie’ yang lengkapnya berjudul ‘Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir’ ini cukup menghibur. Tapi masyarakat kita yang telah terbiasa disuguhi film animasi luar negeri, seperti misalnya, kartun Disney maupun animee manga dari Jepang.

Imbasnya, masyarakat tampaknya tak terlalu berekspektasi tinggi dengan film ini. Penggarapannya memang tampak masih kaku, masih terasa sekali sebagai animasi rasa komik, sebagaimana asalnya film animasi ini.

Tampaknya cukup sulit untuk membuat gambar dengan style yang konsisten untuk film ini. Terlebih lagi gaya penggambaran Juki yang memang cukup unik, konyol dan aktraktif.

Adapun, perpindahan dari scene satu ke scene lainnya terkadang terasa terlalu cepat dan kesannya jadi tidak natural karena terlalu memaksakan agar karakter benar-benar terlihat aktraktif, tapi itu tentu membuat mata cukup lelah untuk mengikutinya. Untungnya, tidak terlalu banyak hanya di beberapa scene menjelang akhir cerita.

Sekilas film ini seperti diperuntukan untuk anak-anak. Namun dengan gaya candaan yang ceplas-ceplos dan kekinian, film ini tetap bisa dinikmati oleh orang dewasa. Bisa dibilang komedi visualnya untuk anak-anak, sedangkan komedi satirnya untuk orang-orang dewasanya.

Tapi mestinya jangan begitu, mencampur adukkan sasaran dua masa usia yang membuat masyarakat jadi bingung. Mestinya pada satu pilihan, apakah murni untuk menyasar anak-anak ataukah dewasa, yang tentu akan membuat film ini tampil utuh, tidak rancu maupun ambigu.

Jalan cerita film ini termasuk baru bagi Indonesia, tapi sudah terlalu banyak cerita seperti ini di film-film Hollywood. Film ini bisa dibilang terlalu “pede” untuk pemikiran orang Indonesia yang berjuang menyelamatkan bumi, yang sebelumnya banyak diklaim orang Amerika sebagai negara Adidaya yang hanya bisa menyelamatkan bumi dari serangan Antariksa.

Meski hanya film animasi, namun semua pengisi suara mencoba untuk memberikan kemampuan terbaiknya yang bisa menjadi kekuatan film ini. Nama-nama Indro Warkop, Bunga Citra Lestari, Babe Chabita, Arie Kriting, Jeremy Teti, Pandji Pragiwaksono dan Jaja Miharja diplot menjadi pengisi suara. Jadi film ini tidak hanya mengandalkan certa, tapi juga para pengisi suaranya.

Film ini cukup berhasil tampil anti mainstream meskipun sosok Si Juki sepertinya telah menjadi sosok yang dikenal banyak orang atau singkatnya telah menjadi mainstream.

Meski demikian terlepas dari segala kelemahan, kita tetu tetap memberi apresiasi film animasi ini sebagai film animasi karya anak negeri. Ya, memang demikian dan terimalah aksi Juki yang konyol dan antimainstream.

Lihat juga...