Andi Agustinus Diperiksa KPK Terkait Perintangan Proses Hukum

JAKARTA – Andi Agustinus alias Andi Narogong hari ini kembali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan perintangan proses hukum atau “obstruction of justice” dalam kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Kasus Tipikor yang dimaksud adalah proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi wartawan di Gedung KPK membenarkan bahwa Andi Narogong dipanggil dan diperiksa penyidik KPK dalam kapasitasnya sebagai saksi dalam kasus perkara perintangan proses hukum. Menurutnya pemeriksaan terhadap Andi Agustinus berkaitan dengan penyelidikan atau lidik sesuai Pasal 21 Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Korupsi.

Febri Diansyah mengatakan, penyidik KPK kembali melakukan pemeriksaan untuk Andi Agustinus alias Andi Narogong sekaligus meminta keterangan yang bersangkutan.

Febri Diansyah menambahkan bahwa terdakwa Andi Agustinus dalam persidangan sebelumnya di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta telah divonis oleh Ketua Majelis Hakim selama 8 tahun penjara. Yang bersangkutan telah terbukti secara sah dan meyakinkan dinyatakan bersalah karena ikut terlibat dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Selain memeriksa Andi Agustinus, sebelumnya penyidik KPK juga memeriksa saksi lainnya yaitu atas nama Hilman Mattauch. Yang bersangkutan juga diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan perintangan proses hukum. Hilman Mattauch diketahui merupakan orang yang mengemudikan mobil Toyota Fortuner, mobil tersebut kebetulan ditumpangi Setya Novanto, seorang tersangka lainnya dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Namun naas saat dalam perjalanan menuju ke Gedung KPK Jakarta, mobil tersebut mengalami kecelakaan tunggal karena menabrak tiang listrik di daerah Jakarta Selatan. Mobil Toyota Fortuner warna hitam dengan nomor polisi (noppl) B 1732 ZLO tersebut dilaporkan mengalami kerusakan berat atau ringsek pada bagian depannya.

Penyidik KPK terus mendalami apakah terdapat dugaan kesengajaan atau dengan sengaja menabrakkan mobil tersebut dengan tujuan tertentu, misalnya untuk tujuan menghalangi perintangan proses hukum. Namun hingga detik ini belum ditemukan adanya bukti-bukti kesengajaan atau rekayasa dalam kasus kecelakaan tunggal yang menimpa Setya Novanto tersebut.

Lihat juga...