Arca Dewa dan Waktu yang Berlalu

CERPEN MUHAMMAD IKHSAN

WAKTU berhenti sekejap, lalu bergerak dengan kecepatan cahaya yang tak tertebak. Aku tersadar ketika sekilas kulihat Pak Sopir dari cermin tengah mendapatiku termangu menatap penumpang lain dengan durasi tak biasa. Udara sontak pengap. Padahal tak banyak penumpang dalam bus ini. Kubuka jendela kaca bus lebar-lebar agar angin lebih banyak masuk.

Kurasa…. Aku pernah mengenal sosok serupa arca Mañjuśrī Sikhansara itu: patung perak yang pada suatu waktu pernah kulihat di Museum Nasional. Tidak kusadari entah sudah sejak kapan ia duduk berhadapan denganku. Kelopak mataku diam beberapa jenak karena tanpa sadar terpaku memandanginya. Aku meyakini ia bukan patung kaku, tetapi makhluk hidup yang bergerak. Setidaknya, begitulah kesan pertama yang kurasakan saat melihatnya.

Di lain kesempatan, secara kebetulan aku bertemu lagi dengannya di perpustakaan kampus yang saat itu masih sepi. Aku sedang mengamati jejeran buku-buku di bagian rak paling sudut, dan menemukan ia tengah duduk sambil membaca sebuah buku yang kutelisik berjudul Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Aku beranikan diri melangkah menuju meja kosong yang ada di dekatnya. Laptop dan buku-buku yang kubawa, kuletakkan di sana. Dengan nada ragu kuucapkan kata permisi, meminta ia menjaga barang-barangku selagi aku pergi ke deretan rak mencari buku lain. Ia membalas dengan anggukan bersama seutas senyum. Sejak saat itu tanpa pernah kusadari, aku mengagumi lengkung bibirnya.

Detik berubah menit, hingga jam. Namun, waktu berlalu lambat. Tak ada percakapan. Kami sibuk dengan urusan masing-masing (barangkali yang berpura-pura sibuk adalah aku, sebab banyak waktu berlalu bukan untuk menyelesaikan tugas tapi untuk mencuri pandangan mengamatinya).

Seandainya aku bisa mengingat semua mimpiku, aku membatin. Aku meyakini sosok yang sedang kucuri pandang itu seperti bukanlah orang asing, bahkan sejak kali pertama aku melihatnya, aku merasa kami telah lama saling mengenal jauh di satu masa dalam satu ruang yang tak mampu kudefenisikan.

Manik matanya yang coklat cerah, potongan rambut caesars haircut-nya yang memikat, jari-jari dari telapak tangan yang kokoh itu seperti sudah kukenali sejak lama. Ini kali pertama aku merasa sangat akrab terhadap orang asing. Aneh memang saat kau menyadari sesuatu yang kau duga begitu akrab, ada pada seorang yang asing.

Aku ingin menyapanya, tapi mulutku seakan terkunci. Tumpukan keraguan menyumbat kerongkonganku. Sulit sekali untuk berkata: kamu ingat saya? Kita sering bertemu di bus yang sama. Dan kali ini di perpustakaan yang sama. Tapi setiap kata pertama seperti juga kalimat pembuka selalu adalah yang paling sukar.

Dan tiba-tiba saja hari-hari berikutnya menjadi kosong, sebab ternyata pertemuan selanjutnya tidak lagi terjadi. Ada perasaan aneh, bahwa aku berharap bisa bertemu, berpapasan di jalan, atau sekadar melihatnya lagi. Di kantin kampus, di jalan ketika pulang, di halte saat aku menunggu bus, di perpustakaan, di mana pun. Aku benar-benar tidak pernah melihatnya lagi. Dan hidup hanya diisi oleh rutinitas hari-hari yang berjalan lambat. Matahari dan bulan berganti nyaris tanpa makna.

Mendadak aku merasakan hidupku sebagai seorang tentara yang sedang tersesat di sebuah hutan. Aku tak mengerti bagaimana, atau tepatnya kapan semuanya dimulai. Ada perasaan terasing, seperti kehilangan tapi tak benar jika dikatakan demikian. Apa pun yang sedang kulakukan, seolah tidak pernah tepat. Hal ini terus terjadi bahkan menjalari setiap aktivitas yang kulakukan.

Seperti saat sedang memasak. Aku kerap merasa ada yang kurang pada masakanku. Lalu aku mengingat-ingat adakah bumbu yang terlewat? Ada satu hal yang terasa selalu kurang, begitu tak lengkap. Aku pikir barangkali kurang menakar garam. Maka saat aku menambahkan garam, masakanku menjadi terlalu asin. Barangkali kurang gula, aku menambahkan gula, lalu masakanku terlalu manis. Tentu, cabailah yang menjadi masalahnya. Aku menambahkan lagi bubuk cabai, tapi masakanku menjadi makin tak keruan. Keasinan, kemanisan, dan malah terlalu pedas. Segala ketidakjelasan macam itu menyelubungiku seperti kabut mistis di pagi hari, yang memunculkan perasaan janggal.

Maka kupilih untuk tidak melakukan apa pun, kecuali hanya menghabiskan seharian waktu di toko buku langgananku. Aku berkeliling dari satu rak buku ke rak buku yang lain. Berjalan dari satu sudut ruangan ke sudut ruangan yang lain. Tanpa sadar telah berkali-kali aku mengelilingi toko buku yang lumayan luas itu, lalu kelelahan dan kuputuskan untuk pulang.

Ketika sampai di rumah, aku mencoba menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku yang seolah tiada akhir. Hingga tengah malam aku menyadari diri tak menyelesaikan apa pun, aku menyerah. Kumatikan laptopku dan memutuskan untuk berjalan-jalan keluar, yang ternyata menjadi perjalanan panjang menuju sebuah supermarket. Di jejeran lemari pendingin minuman, kuambil dua kaleng bir, dan kaget saat mendapati sosok serupa arca Mañjuśrī Sikhansara itu keluar dari ruang staf supermarket. Aku mengamati ia berjalan menuju tempat kasir menggantikan rekannya yang telah selesai bekerja.

Sesuatu yang sempat membeku dalam diriku mendadak meleleh. Segala bongkahan beku yang mengganjal dalam dadaku selama ini mencair dan aku merasa lapang. Aku bisa menarik napas panjang yang dalam, aku bisa menghembuskannya dengan bebas, dan aku menjadi ringan, dan aku menjadi tenang, dan sungguh aku tak ingin lepas dari sensasi semacam ini.

Kuletakkan dua kaleng bir yang kuambil tadi di hadapannya, dengan alat sensor ia menghitung belanjaanku. Kuusahakan sebisa mungkin mengulur waktu, dengan niatan agar dapat merekam wajahnya lebih lama. Maka kuminta ia mengambilkan dua bungkus rokok berlabel American high class cigarret yang berada dalam etalase di belakangnya.

Saat dua bungkus rokok itu ia ambil, aku mengubah pilihan. Dan memintanya mengganti dua bungkus rokok itu dengan tiga bungkus rokok murah di bagian etalase paling pojok. Aku menyela: “Sebaiknya yang mana kupilih, rokok Amerika itu atau rokok murah biasa?” yang lalu kusesali sebagai pertanyaan paling konyol di dunia.

“Biasanya Anda memilih yang mana?”

“Entah… saya belum pernah merokok.”

“Lalu?”

“Saya mau memulai…”

Ia memasang raut wajah heran. Sorot matanya seperti mengatakan: apakah Anda ingin bunuh diri pelan-pelan? Tidakkah Anda cukup dengan bir saja? Yang kuartikan sebagai alkohol saja sudah begitu buruk, Anda tak perlu menambahnya lagi dengan nikotin.

Akhirnya aku mengganti dua bungkus rokok itu dengan tiga batang cokelat yang terjejer di depan meja kasir. Setelah aku membayar, ia memasukkan belajaanku dalam satu plastik putih. Aku menerimanya, lalu mengeluarkan satu kaleng bir dan satu batang cokelat itu untuk kuberikan padanya. Kala mengamati wajahnya, semakin yakinlah aku, sosoknya begitu menyerupai patung arca Mañjuśrī Sikhansara yang berpendar-pendar berkilauan.
Aku pun memutuskan pergi, dengan perasaan seolah sebuah bulan sedang memenuhi dadaku.

Seterusnya hari-hariku diisi oleh aktivitas baru. Selepas pulang dari mana pun, aku akan menyempatkan diri untuk menyinggahi supermarket tempat sosok serupa arca Mañjuśrī Sikhansara itu bekerja paruh waktu. Aku akan memilih waktu hampir tengah malam, sebab di jam-jam itu supermarket akan sepi pelanggan. Sehingga aku bisa bebas mengobrol degannya. Awalnya memang terasa canggung, tapi kemudian segalanya berjalan begitu saja.

“Aku tinggal di depan sana,” tunjukku pada satu rumah bertingkat yang sebenarnya adalah rumah kakakku tempatku menumpang, rumah itu masih terlihat dari pintu kaca supermarket.

Ia mengangguk. “Sepertinya kau sering begadang,” responnya dengan kata ‘Anda’ yang telah menghilang berganti kata ‘kau’ yang terasa lebih nyaman di telingaku.

“Kebetulan aku insomnia.”

“Aneh, aku juga mengalaminya, lantaran pekerjaan ini. Tidak tidur satu malam setara dengan sepuluh hari bekerja tanpa jeda.”

“Aku mengimbanginya dengan serajin mungkin mencari waktu untuk beristirahat. Sedang insomniamu?”

“Biasanya aku meminum obat. Tapi kadang obat tidak selalu bisa diandalkan, kalau sudah seperti itu aku akan meminum obat melebihi dosis yang dianjurkan.”

“Dan kau tertidur?”

“Ya, aku tertidur.”

Lalu sunyi sesaat. Aku sedang memikirkan topik perihal cuaca yang kerap berubah mendadak untuk mencairkan percakapan ketika dia berkata, “Aku mengamatimu di toko buku kemarin.”
Aku tertegun.

“Aku juga di sana,” potongnya sebelum aku sempat bertanya.

Lalu tengah malam yang beku itu menjadi cair, lantaran selama ini kami memang telah saling mengamati satu sama lain. Dari sana aku mengetahui sedikit tentangnya: seorang anak perantauan, belajar di satu universitas yang sama denganku. Dan hal itu menjawab mengapa kami sering bertemu di dalam bus dan perpustakaan yang sama. Ia tinggal di bilik bekas gudang milik kakaknya, sebab di sana ia tinggal bersama lima keponakan yang rewel-rewel. Setidaknya di kota ini ada satu tempat yang bisa ia gelari kasur tanpa harus keluar biaya lebih. Mengetahui hal itu aku berinisiatif merekomendasikannya tempat tinggal baru. Membantunya mencari indekos terdekat dengan kampus. Terlebih jika ia mau, aku bisa memberikan pinjaman sebagai biaya tambahan untuk menyewa setahun.

“Tidak perlu, aku ada tabungan sendiri.”

“Tak apa, aku sungguh-sungguh.”

“Kau terlalu baik untuk ukuran orang asing.”

Tentu saja orang akan mudah curiga dengan orang asing yang tahu-tahu bisa bersikap begitu ramah dan baik padamu. Banyak kasus membuktikan, tak seharusnya kau begitu saja percaya pada orang asing. Tapi sesungguhnya aku ingin mengatakan, bahwa bagiku ia bukan orang asing.

“Kapan-kapan aku yang akan traktir minum,” ujarnya, lalu meminta izin permisi padaku sebab seseorang hendak membayar belanjaan dan tentu saja ia harus kembali bekerja.

Benar saja, di hari ia libur bekerja. Di lantai atas atap gedung kampus, ia mentraktirku berkaleng-kaleng bir dan berbungkus-bungkus cokelat yang ia bawa dalam plastik hitam. Obrolan sore menjelang malam itu diisi perbincangan mengenai diri kami masing-masing. Sosok serupa arca Mañjuśrī Sikhansara itu tak sadar sedang melantur lantaran entah sudah berapa banyak kaleng bir yang ia habiskan sendiri. Sesungguhnya aku pun tak begitu mengerti apa yang sedang ia bicarakan. Aku terus saja menatapnya, merekam bentuk wajahnya, yang kerap memberikanku sensasi-sensasi tak terjabarkan.

“Sejak dari awal bertemu, kenapa kau terus melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tersadar, kemudian merasa canggung. Lalu beralih melihat sekeliling. Lebih tepatnya mengarahkan pandangan ke langit yang lebih mudah ditatap. Kuungkapkan juga padanya, jika dirinya kerap mengingatkanku pada arca Mañjuśrī Sikhansara yang pernah kulihat di Museum Nasional.

Tawanya menyembur saat kukatakan itu. “Kau menyama-nyamakan aku dengan patung? Aku mirip arca?” dia tertawa lagi, kali ini lebih nyaring.

“Tidak secara spesifik. Hanya teringat saja.”

Ia masih tertawa. Tawa yang kian panjang. Hingga membuat aku merasa aneh jika tidak ikut tertawa bersamanya. Kami pun tertawa-tawa bersama.

Hari itu berakhir cepat dan esoknya sesuatu yang ganjil terjadi. Aku tak lagi melihatnya di supermarket. Tak lagi bertemu dengannya di bus atau perpustakaan kampus. Ia menghilang. Lenyap. Mendadak. Begitu saja. Seperti asap. Berhari-hari. Berbulan-bulan. Ia tak ada.

Belakangan setelah perbincangan kami di atas atap gedung kampus tempo hari, oleh alasan yang tak kumengerti, aku menjadi sangat tertarik dengan atap gedung. Atap gedung kantor. Atap gedung sekolah. Atap gedung kampus. Anehnya hasrat itu selalu muncul pada segala atap gedung yang kujumpai. Hasrat berbentuk sewujud keinginan menaiki atap gedung yang jika tidak kudapatkan, aku akan merasa begitu hampa dan sangat kesepian. Tapi begitu aku mencoba menuntaskan hasrat itu dengan menyambangi semua atap gedung yang kulihat, anehnya aku masih tetap merasa asing. Padahal seharusnya, jika keinganan untuk berada di atap gedung telah kudapatkan, bukankah semestinya aku merasa puas? Sebab telah kudapatkan apa yang kumau.

Namun, saat sampai di atap gedung, saat aku merasakan angin bertiup menyibak rambut tipisku, saat aku mendapati pemandangan atap-atap rumah yang lebih rendah, juga pepohonan dan jalan-jalan….. aku…. masih merasa kosong, masih merasakan kesepian yang parah.

Damba itu tak pernah tuntas. Anehnya setiap kali aku kembali turun meninggalkan atap gedung yang baru saja kunaiki, aku selalu merasa ingin kembali menaiki lift atau tangga untuk sekali lagi berada di atas atap. Adakah ini wajar? Atau secara tak kusadari sesuatu yang mengkhawatirkan sedang menggerogoti diriku? Adakah itu sesuatu yang mesti kuwaspadai? Jika ada, apakah sesuatu yang ada itu? Aku lelah berurusan dengan hal-hal yang tak berwujud.

Aku memulai kembali segalanya dengan perasaan asing. Menaiki bus yang terasa asing. Menyinggahi perpustakaan yang terasa asing. Mengambil buku secara acak, berjudul Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dari sebuah rak tak jauh dari sudut ruangan di perpustakaan, kemudian membacanya dengan perasaan asing. Dan semakin asing saat seseorang dengan nada ragu mengucapkan kata permisi padaku. Memintaku menjaga laptop dan buku-bukunya selagi ia pergi ke deretan rak mencari buku lain. Aku mengiya dengan anggukan sambil bersikap sopan dengan tersenyum, yang serta-merta juga terasa asing.

Kemudian suatu hari, menjelang keasingan aneh itu mulai mencapai tahap kronis, secara kebetulan aku menemukan jawaban. Aku mengira diriku akan bisa lupa, ini hanya gejala sementara yang semua orang akan alami. Maka aku berupaya mengganti semua kebiasaan lama. Aku beralih membiasakan diri memulai hari dengan sarapan tepat pukul tujuh pagi, kendati dahulu aku tak begitu memikirkan soal sarapan.

Dahulu aku menyukai telur setengah matang, tapi kali ini aku memasaknya sampai benar-benar matang (yang sebenarnya hampir gosong). Aku tidak lagi menaiki bus, tidak lagi ke perpustakaan. Aku mulai membeli pakaian-pakaian baru. Sepatu baru. Tas baru. Juga mendekor ulang suasana kamarku menjadi lebih baru, menata semua letak foto-foto dengan tatanan baru, termasuk foto Ayah dan Ibu yang telah tiada, yang kerap membuatku menangis diam-diam jika lama memandanginya.

Esoknya aku menyinggahi barbershop yang tidak pernah kudatangi, mengganti gaya rambutku yang mulai melebat dengan gaya caesar’s haircut. Aku juga menyinggahi semua tempat yang terakhir kali belum sempat kukunjungi. Ini hidup baruku, kataku pada diri sendiri.
Esok harinya kusempatkan diri untuk kali terakhir mengunjungi toko buku tempatku dahulu sering menghabiskan waktu tanpa tujuan. Di sana aku melihat seseorang yang juga sedang melakukan hal yang sama. Berkali-kali mengelilingi toko buku, dari satu rak buku ke rak buku yang lain. Berjalan dari satu sudut ruangan ke sudut ruangan yang lain, seperti tak punya tujuan.

Di lain kesempatan, aku akhirnya memutuskan melamar pekerjaan paruh waktu sebagai kasir tengah malam di supermarket tak jauh dari rumah kakakku. Sejak bekerja di supermarket itu dalam kepalaku seperti ada sosok yang membayangi. Meja dan komputer yang kini kugunakan bekerja dahulu pernah digunakan sosok itu. Pintu supermarket, rak-rak dalam supermarket, kulkas berisi bir-bir di supermarket, segala detail ruangan, segala apa yang kukerjakan di supermarket itu secara ganjil mengingatkan aku pada seseorang yang tidak kutahu wujudnya.

Ketika aku tengah berusaha keras memikirkan sosok asing tersebut, tahu-tahu seorang pelanggan meletakkan dua kaleng bir di hadapanku. Dengan mesin sensor aku menghitung belanjaannya. Sejurus kemudian ia memintaku mengambilkannya dua bungkus rokok berlabel American high class cigarret yang berada dalam etalase di belakangku. Tapi kemudian ia memintaku mengganti dua bungkus rokok itu dengan tiga bungkus rokok murah di bagian etalase paling pojok. Ia menyela: “Sebaiknya yang mana kupilih, rokok Amerika itu atau rokok murah biasa?”

“Biasanya Anda memilih yang mana?”

“Entah… saya belum pernah merokok.”

“Lalu?”

“Saya mau memulai merokok.”

Aku menatapnya heran. “Apakah Anda ingin bunuh diri pelan-pelan? Tidakkah Anda cukup dengan bir saja?”

Lalu ia mengganti dua bungkus rokok itu dengan tiga batang cokelat yang terjejer di depan meja kasir. Aku menghitung total belanjaannya. Menyebutkan sejumlah uang yang harus ia bayar. Kumasukkan belajaannya dalam satu plastik putih. Ia menerimanya, lalu mengeluarkan satu kaleng bir dan satu batang cokelat, serta merta meletakkannya di hadapanku.

“Untukmu…” ucapnya.

Sontak, secara bersamaan dalam hitungan sepersekian detik begitu kata itu kudengar. Dalam nuansa yang sungguh ganjil. Kulihat cahaya meraung-raung keluar dari tubuhnya, ia sebening Bodhisatta Mañjuśrī ketika masih muda. Mengingatkan aku pada sebuah arca yang pernah kulihat di Museum Nasional. Untuk satu alasan yang tak bisa kujabarkan, aku merasa begitu sangat mengenalnya. ***

Muhammad Ikhsan lahir di Medan 20 September 1995. Menempuh studi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatra Utara.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di mana pun dan belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...