Bahasa dan Sastra Indonesia, Bendung Radikalisme dan Terorisme

PADANG  Ikatan Mahasiswa Bahasa Indonesia dan Sastra Indinesia se-Indonesia (IMABSII) membahas persoalan peran bahasa dan sastra Indonesia dalam membendung radikalisme dan terorisme. Hal tersebut berlangsung di Kampus STKIP PGRI Padang, sejak 20-23 Desember 2017.

Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah yang ditunjuk sebagai pembicara pada kegiatan IMABSII itu mengatakan, bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa untuk tanah air. Hal ini mengingat, Indonesia yang terdiri dari 34 provinsi memiliki beragam bahasa daerah.

“Di negeri kita ini, bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu. Hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis di Indonesia yang beragam sehingga juga memiliki bahasa yang beragam pula,” katanya, Kamis (21/12 /2017).

Ia menilai, pembahasan yang diangkat oleh IMABSII adalah sebuah pembahasan yang tepat. Karena, dengan berbahasa Indonesia, yang mana bahasanya dipahami oleh seluruh penduduk di Indonesia, tentu akan menjadi sebuah benteng dari pengaruh negatif, seperti halnya radikalisme dan terorisme.

Menurutnya, apabila informasi yang diperoleh bisa dipahami, maka akan sangat mudah untuk menyaringnya, dan bisa mengambil sikap, apakah informasi itu benar atau tidak.

“Seandainya ada pihak yang menyampaikan sebuah informasi, lalu bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami. Lalu yang mendengarkan informasi itu, hanya setengah-setengah saja. Serta mengambil kesimpulan sendiri, makanya hal yang demikian resikonya sangat buruk,” ujarnya.

Untuk itu, Mahyeldi mengajak masyarakat dan juga para pelajar untuk senantiasa menggunakan bahasa Indonesia, agar terhindar dari persoalan yang menyesatkan layaknya persoalan radikalisme dan terorisme.

Dikatakannya, jika melihat pada sejarahnya, pengguna bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu. Hal ini pun sangat besar melingkupi beberapa negara di Asia Tenggara.

Terkait terorisme dan radikalisme, menurut Mahyeldi, melalui bahasa dan sastra yang baik yang dipahami sebagai kesamaan pengungkapan pemikiran dalam komunikasi tentunya bahasa Indonesia alat yang tepat.

Sementara itu, Ketua HIMAPBSI Universitas Islam Makassar Ade Irma Amrina mengatakan, dengan hadirnya kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa, sehingga bahasa dan sastra Indonesia dapat membumi di negeri sendiri.

Ia menyebutkan kegiatan tersebut tidak hanya tentang sebuah pembicaraan ataupun diskusi tenkait bahasa dan sastra. Tapi, melalui kegiatan itu, juga bisa menjadi ajang silaturahim antarpengurus lembaga, serta penggiat bahasa dan sastra Indonesia dari berbagai perguruan tinggi yang ada.

Untuk diketahui, IMABSII mengadakan seminar dan simposium bertema “Peran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Membendung Radikalisme dan Terorisme”. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kampus STKIP PGRI Padang, dan diikuti sekira ratusan peserta, dari berbagai kalangan yang tidak hanya mahasiswa, tetapi juga budayawan dan sastrawan.

Lihat juga...