Bahasa dan Sastra Indonesia, Bendung Radikalisme dan Terorisme

Dikatakannya, jika melihat pada sejarahnya, pengguna bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu. Hal ini pun sangat besar melingkupi beberapa negara di Asia Tenggara.

Terkait terorisme dan radikalisme, menurut Mahyeldi, melalui bahasa dan sastra yang baik yang dipahami sebagai kesamaan pengungkapan pemikiran dalam komunikasi tentunya bahasa Indonesia alat yang tepat.

Sementara itu, Ketua HIMAPBSI Universitas Islam Makassar Ade Irma Amrina mengatakan, dengan hadirnya kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa, sehingga bahasa dan sastra Indonesia dapat membumi di negeri sendiri.

Ia menyebutkan kegiatan tersebut tidak hanya tentang sebuah pembicaraan ataupun diskusi tenkait bahasa dan sastra. Tapi, melalui kegiatan itu, juga bisa menjadi ajang silaturahim antarpengurus lembaga, serta penggiat bahasa dan sastra Indonesia dari berbagai perguruan tinggi yang ada.

Untuk diketahui, IMABSII mengadakan seminar dan simposium bertema “Peran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Membendung Radikalisme dan Terorisme”. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kampus STKIP PGRI Padang, dan diikuti sekira ratusan peserta, dari berbagai kalangan yang tidak hanya mahasiswa, tetapi juga budayawan dan sastrawan.

Lihat juga...