hut

Baroncong, Pancake Khas Makassar

MAKASSAR — Di sepanjang jalan Hertasning Baru kelurahan kelurahan Mappala, berjejer gerobak penjual baroncong panganan jajanan khas Sulawesi Selatan yang terkenal sampai keluar daerah. Baroncong kue khas Sulawesi Selatan ini merupakan panganan saudaga-saudagar bugis saat di pagi hari.

Dikarenakan proses pembuatan yang mudah dan cocok untuk peneman minum kopi dan teh, menjadikan makanan khas ini sangat diburu dikala pagi. Hal ini juga menjadi peluang tersendiri bagi pedagang.

H. Umar Sulaiman yang merupakan penikmat baroncong menceritakan jajanan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala saat zaman para raja-raja Sulawesi Selatan.

“Cerita ini sudah saya dengar dari turun temurun, kue baroncong ini merupakan kue yang dipakai sarapan oleh para raja-raja di Sulawesi Selatan,” ungkap H. Umar pada Cendana News.

Entah apakah cerita itu benar atau tidak belum ada literasi yang menerangkan kapan awal mulai kue baroncong hadir di Sulawesi Selatan. Meski begitu kue baroncong ini mengalami perkembangan jajanan yang dulunya dinikmatti pada saat sarapan hingga dijual saat sore hari menjelang matahari terbenam.

Makanan yang mirip kue pukis ini tidak hanya disukai oleh orang tua saja. Akan tetapi juga sangat disukai para kawula muda bahkan kue ini dijuluki sebagai pancake khas Sulsel. Kue yang gurih manis ini memang begitu enak terasa perpaduan antara parutan kelapa muda manis, dan asin begitu seimbang apalagi dimakan saat masih panas.

Hal yang sama diungkan oleh Rara, perempuan belia ini menjelaskan rasa kue baroncong ini hampir sama dengan rasa pancake.

“Rasa barocong ini mirip dengan rasa pancake akan tetapi pancake akan terasa enak jika ditambah dengan madu, coklat dan keju berbeda dengan baroncong tanpa madu dan coklat keju rasa sudah enak,” jelas Rara.

Lukman pedagang kue baroncong/Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Inilah yang membuat Lukman bertahan menjual baroncong selama 15 tahun karena, melihat kue ini masih banyak yang menikmatinya. Di kala pagi Lukman mangkal menjual kue baroncongnya di Anjungan pantai losari, sedangkan sore Lukman Mangkal di jalan monsidi Baru.

Adonan yang terdiri dari tepung terigu, parutan kelapa muda, gula pasir, susu, garam, dan soda kue serta campuran air ditaruh di suatu wadah. Jika ada yang memesan beroncong Lukman baru akan memasaknya. Sebelum dimasak cetakkan baroncong ini dipanaskan menggunakan kayu bakar.

“Kue ini dihargai Rp 1000 perbijinya. Jika ada orang yang menginginkan kue ini baru saya akan memasaknya. Karena kue ini akan enak dimakan ketika panas. Prosesnya pun juga tidak terlalu lama,” ungkapnya.

Lihat juga...