Batik Khas Ponorogo Ini tak Pakai Pewarna Kimia

PONOROGO – Batik yang biasanya diwarnai dengan menggunakan kimia, kini ada terobosan baru dari Dian Fajar Riono (49) yaitu membuat batik dengan menggunakan pewarna alami berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Untuk warna merah, Ono sapaannya, didapatkan dari akar pace, secang dan kulit pohon mauni. Sedangkan warna hijau dari daun juar, daun mangga dan daun bungur, warna kuning didapatkan dari kunyit, warna biru dari daun tom dan warna hitam perpaduan dari warna-warna yang sudah lama dipakai.

“Pewarna alami dipilih karena memiliki bau yang khas, berbeda dengan batik yang lain,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (12/12/2017).

Menurutnya, batik buatannya meski menggunakan pewarna alami tidak mudah luntur. Pasalnya, saat proses pewarnaan, Ono menggunakan teknik 15 kali proses penyelupan dengan air mendidih serta menggunakan air kanji.

“Sebelum digunakan untuk pewarnaan, daun-daun yang masih hijau dimasak selama lima jam untuk menghilangkan getah,” ujarnya.

Usaha yang digeluti sejak tahun 2011 lalu ini bermula dari istri Ono yang belajar membatik di Pacitan. Lalu Ono belajar teknik pewarnaan secara otodidak dan dipilih bahan alami dari tumbuh-tumbuhan. Menariknya, meski dilakukan dengan pewarnaan alami, batik buatan Ono tidak mudah luntur.

“Dalam sebulan saya bisa menjual 20-30 lembar kain batik,” terangnya.

Untuk satu lembar kain batik ukuran 2,4 x 1,15 meter ini dibanderol dengan dari harga Rp275 ribu hingga jutaan. Dalam satu bulan, ia mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah.

“Kain yang kami gunakan pun kualitas baik, kain primis,” imbuhnya.

Namun, Ono juga mengalami kesulitan terutama masalah pekerja, meski kini ia sudah dibantu 12 orang. Selain itu, untuk mejaga kelestarian lingkungan, ia menanam pohon daun bungur, agar ketersediaan bahan baku daun tetap terjaga.

“Pemasaran kami kirim sekitar Ponorogo, Kalimantan dan Jakarta, saya juga pernah displai produk di China,” tukasnya.

Tak lupa bapak dua orang anak ini berharap agar kejayaan batik Ponorogo bisa terulang kembali seperti tahun 1965.

“Batik Ponorogo harus bisa maju meski ada batik print, harus kembali berjaya,” pungkasnya.

Lihat juga...