Begini Cara Polisi Potong Praktik Percaloan

Editor: Satmoko

62
Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol. Purwadi Arianto saat launching SKCK online dan SIP online. Foto: Makmun Hidayat

DEPOK – Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol. Purwadi Arianto menyebutkan, sistem birokrasi dan permintaan pasar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat harus dapat dikolaborasi. Karena jika tidak dijembatani, akan tumbuh percaloan di tengah dua kutub tersebut.

Dalam suatu pelayanan, di satu sisi terdapat standar operasional prosedur (SOP) yang mewujud dalam berbagai loket pelayanan, dan pada sisi lain permintaan pasar berani mengeluarkan berapa pun uang yang penting cepat mendapat pelayanan.

“Ini dua teori dasar yang operasional. Dalam teori birokrasi punya SOP, sementara dalam teori marketing ada permintaan pasar. Dua teori yang berbenturan bisa dijembatani untuk menghindari adanya percaloan. Keberadaan calo ini ada di antara dua ini,” kata Brigjen Pol. Purwadi Arianto di Polresta Depok, saat launching SKCK online dan SIP online belum lama ini.

Karenanya dua teori itu harus dapat dikolaborasi sebagaimana harapan masyarakat di mana birokrasinya dipangkas dan masyarakat juga tidak perlu kemudian menyogok untuk mendapatkan pelayanan yang cepat.

Polisi, kata Purwadi Arianto, perlu menangkap keinginan dan harapan besar masyarakat guna mendapat pelayanan yang cepat dan akurat. Polisi adalah pengawal peradaban, maka polisi harus dapat merespon harapan masyarakat di era globalisasi dan viral ini. Mendekatkan yang jauh.

“Yang jauh kita panggil, semakin dekat jarak polisi dengan masyarakat. Kalau di Jepang dikatakan, jarak masyarakat dengan polisi cuma tiga digit. Anggap kita 110, polisi sudah di telinga. Itu di Jepang. Nah, bagaimana polisi menangkap harapan dan mendekatkan diri ke masyarakat, salah satunya melalui pelayanan serba online,” kata Purwadi Arianto.

Pelayanan serba online, seperti pelayanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) online bagi para pencari kerja dan pelayanan Sistem Informasi Penyidikan (SIP) online terkait pelaporan dan penanganan suatu tindak kejahatan yang diluncurkan Polresta Depok ini, sejalan dengan semangat revolusi mental yang digaungkan Presiden Jowo Widodo.

Menurut Brigjen Pol. Purwadi Arianto, ada tiga kata kunci dalam revolusi mental. Yakni, perubahan mindset, peningkatan kinerja, dan membangun sinergi.

“Perubahan mindset ini, kita lihat di Polresta Depok ini sudah menempatkan diri jadi pelayan atau dalam bahasa Betawinya jongos. Itulah paradigma dari aparatur negara saat ini. Polisi menempatkan diri di bawah masyarakat,” paparnya.

Pendekatan kewenangan, lanjutnya, di masa lalu sudah tidak relevan. Polisi saat ini menempatkan diri sebagai pelayan, masyarakat menjadi raja. Pendekatan yang semula reaktif ketika ada kasus baru bertindak dan merasa mampu menangani sendiri, sekarang pro aktif dan partnership.

“Polisi tidak bisa bekerja sendiri, harus berpartner. Dan yang terpenting menjadi problem solver, dapat memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat,” kata Purwadi Arianto.

Masalah yang tadinya lama, pelayanannya dibebani biaya, kemudian lambat, kata Purwadi Arianto, sekarang yang terjadi saat orang bangun tidur sudah bisa tekan tombol klik layar handphone untuk mendapat pelayanan cepat.

Menurut Purwadi Arianto dalam memberikan pelayanan ada dua pendekatan. Pertama pendekatan perilaku, muatannya adalah ketulusan melayani. Kedua kecepatan merespon, muatannya teknologi informasi dan teknologi transportasi.

“Ini teori yang sederhana, kepercayaan sama dengan tulus ditambah cepat. Kalau ketulusan itu pendekatannya perilaku, tulus artinya berbuat tanpa mengharap imbalan. Dan cepat merespon, muatannya adalah teknologi komunikasi dan transportasi,” tuturnya.

Kalau ini sudah terpenuhi, kata Purwadi Arianto, maka akan terjadi trust kepada kepolisian, terhadap pemerintah daerah dan instansi lain yang bertugas dalam memberikan pelayanan.

Terkait peningkatan kinerja dalam melayani, ini membutuhakn sinergi antara pemerintah daerah dengan kepolisian dan stake holders lainnya dalam pemenuhan sarana dan prasarana.

“Selain pemenuhan sarana pelayanan keamanan, ke depan bisa saja membangun sinergi dengan rumah sakit, sinergi pelayanan respon kebakaran atau sinergi penanganan bencana alam. Sinergi penanganan keamanan, kebakaran, kesehatan, dan bencana, ini dapat menjadi contoh daerah lain,” ujar Purwadi Arianto.

Wakapolda berharap, inovasi Polresta Depok dengan meluncurkan SKCK online dan SIP online bisa menginspirasi dan berkembang di daerah lain. Tentu dengan beragam gaya tetapi satu tujuan untuk pelayanan masyarakat. Sehingga revolusi mental yang dicanangkan Presiden berupa perubahan mindset, peningkatan kinerja, dan sinergi antara satu dengan yang lainnya dapat diwujudkan bersama dengan semangat yang proaktif dan partnership.

Komentar