BI NTT Pastikan Stok Pangan Jelang Natal, Aman

KUPANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, menilai harga pangan menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 di daerah berbasiskan kepulauan ini lebih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Lebih terkendalinya harga barang dan jasa pada musim Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 juga tercermin dari sedikitnya 21 bahan pokok pangan strategis yang didata oleh Bulog Divre NTT dinyatakan BI KPw NTT aman untuk dua bulan ke depan,” kata Analis BI Kantor Perwakilan NTT, Petrus Effendi, melalui siaran persnya di Kupang, Rabu (13/12/2017).

Ke-21 komoditas pangan pokok strategis yang stoknya dinyatakan aman untuk dua bulan ke depan itu antara lain beras Bulog 33.304 Ton, beras antarPulau 72.601 Ton, gula pasir 24.999 ton, minyak goreng 5.300 ton, telur ayam 13.384 ton, Susu 756 ton, garam beriodium 330 ton.

Berikut terigu 67.355 ton, kacan tanah 340 ton, kacang kedelai 45.050 ton, bawan merah 610 ton, cabai merah besar 300 ton, minyak tanah 4.430 kilo liter, Minyak premium 8.517 kilo liter, minyak solar 12.340 kilo liter dan Pertamax 1.670 Kilo Liter serta Avtur 2.240 Kilo Liter.

Ia menyebutkan, ketersediaan stok ini meskipun jauh menurun jika dibandingkan dengan Hari Raya Lebaran 1438 Hijriah pertengahan tahun ini, namun rata-rata masih terkendali, baik stok maupun harga.

Ia juga menyebutkan, pada Juni 2017, Provinsi NTT mengalami inflasi indeks harga konsumen sebesar 0,73 persen (month to month), lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,37 persen (mtm).

Meskipun, kata dia, inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur akhir 2017 diperkirakan antara 2,55-2,95 (yoy) atau tergolong tinggi, karena permintaan menghadapi perayaan hari raya Natal dan tahun baru yang dibarengi dengan penurunan pasokan, karena memburuknya cuaca.

“Proyeksi inflasi di Provinsi NTT di akhir tahun 201 7 diperkirakan berada dalam rentang antara 2,55-2,95 (yoy)”, katanya.

Selain suasana hari raya, inflasi tersebut juga dipicu datangnya musim penghujan yang berdampak pada penurunan pasokan bahan makanan dan potensi gangguan distribusi.

Pemicu lainnya, penurunan pasokan ikan dan sayuran, gangguan pasokan telur ayam dan peningkatan permintaan jelang hari raya.

Karena itu, kata dia, diperlukan langkah-langkah strategis pengendalian infiasi di daerah untuk mengendalikan inflasi.

Selain itu, telah dilakukan rapat koordinasi pengamanan stabilitas pasokan dan harga pangan pokok dan strategis menghadapi Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 yang dipimpin oleh Gubernur NTT dan dihadiri oleh Perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Bank Indonesia, dan anggota TPID serta Satgas Pangan Provinsi NTT.

Hasilnya, akan dilakukan langkah aksi, di antaranya TPID dan Satgas Pangan terus melakukan koordinasi dalam rangka pemantauan ketersediaan pasokan dan harga pangan. Sekaligus memberikan respon tanggap terhadap kondisi di lapangan.

Mengimbau kepada pelaku usaha agar tidak memanfaatkan momen Hari Raya Natal dan Tahun Baru untuk melakukan spekulasi dan mengambil keuntungan yang memberatkan masyarakat.

Mengadakan pasar murah dan melakukan operasi pasar di beberapa daerah. Menginstrusikan kepada operator pelabuhan, agar mengutamakan aktivitas bongkar muat bahan pangan.

Melakukan koordinasi dengan otoritas di tingkat nasional dalam rangka pengendalian tarif angkutan udara yang cenderung mengalami peningkatan di akhir tahun. (Ant)

Lihat juga...