Bibit Jeruk Ditolak Karantina Akibat Dilalulintaskan Tanpa Sertifikat

LAMPUNG — Petugas Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandarlampung wilayah kerja Bakauheni terpaksa menolak pengiriman dengan jumlah total mencapai 1.005 bibit pohon jeruk primong yang merupakan varietas jeruk manis asal Lembang Bandung.

Mendampingi penanggungjawab kantor BKP Kelas I Bandarlampung Wilker Bakauheni, Drh.Azhar, petugas BKP Purwanto menjelaskan, pengamanan tersebut dilakukan karena bibit jeruk dibawa keluar antar pulau dengan tanpa adanya sertifikat dari balai lokal pengawas tanaman pangan dan hortikultura.

Purwanto menyebut meski telah kerap disosialisasikan aturan terkait sertifikasi yang bisa diperoleh dari lembaga penyelenggara sertifikasi dimana bibit tersebut dikeluarkan namun banyak pembibit tidak melakukan proses sertifikasi.

Ia bahkan menyebut khusus untuk bibit jeruk tersebut sengaja ditolak sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian 630/KPTS/TP.063/6/1997 tentang pelarangan benih jeruk yang tidak memiliki sertifikasi dari balai yang berwenang dan dokumen.

“Sosialisasi kerap dilakukan namun banyak penangkar bibit, pedagang bibit, pengemudi kendaraan yang mengangkut bibit jeruk tidak mengetahui aturan sehingga kami juga harus melakukan tindakan tegas karena sesuai dengan aturan yang ada sehingga kami tolak,” beber Purwanto saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (23/12/2017).

Ia menyebutkan, upaya penegakan peraturan disebutnya telah dilakukan secara persuasif terutama di sentra sentra pembibitan tanaman buah sehingga bibit yang dihasilkan memiliki sertifikat.

Ia juga menyebut jeruk primong merupakan pohon jeruk asal negara Australia yang masuk ke Indonesia dan dikembangkan di Indonesia dengan sistem pengembangan tanaman sistem tanaman bunga dalam pot (tabulampot).

Selain atas dasar tidak dilengkapinya administrasi yang dipersyaratkan, bibit jeruk tersebut terindikasi membawa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) yang dilarang. Jika bibit asal Lembang Bandung tersebut dibawa ke Pulau Sumatera maka dikuatirkan akan memberikan pengaruh berbahaya bagi tumbuhan wilayah tujuan bibit tersebut dibawa.

OPTK yang biasanya terdapat pada tumbuhan sesuai dengan Kepmentan 38/KPTS/AK.060/1/2006 tentang OPTK disebutnya berupa golongan II diantaranya jenis lalat penggorok daun (Lyrionmiza sp) dan Tungau (Oligongchus Coffeae) kutu yang terdapat pada vibit khususnya karet.

OPTK tersebut diakuinya diantisipasi bukan hanya tanaman berasal dari luar negeri melainkan dari dalam negeri yang dilalulintaskan antarpulau.

Selain sebanyak 1.005 bibit pohon jeruk primong di dalam kendaraan truk warna kuning dengan diberi tutup waring tersebut juga sesuai dengan surat jalan berisi sebanyak 100 bibit strawberry, 5 bibit pohon blackeberry, 5 bibit pohon rasbery, 2 bibit pohon blueberry, 1 bibit pohon jeruk bali yang semuanya tidak dilengkapi sertifikasi bibit.

Setelah dilakukan pemahaman kepada pengemudi ia menyebut langkah penolakan dilakukan dan kendaraan kembali diantar ke pelabuhan untuk menyeberang ke Pelabuhan Merak Banten.

Iwan selaku pengemudi kendaraan truk nomor polisi BA 8349 AG pengangkut bibit jeruk primong dan bibit tanaman buah lain tersebut mengaku menerima keputusan penolakan tersebut sebab ia menyebut hanya sebagai pemilik kendaraan ekspedisi.

Ribuan bibit jeruk primong asal Lembang Bandung tanpa sertifikat yang akan dikirim ke Tapanuli Sumatera Utara [Foto: Henk Widi]
Ia bahkan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dalam melakukan pengiriman komoditas pertanian dengan tidak disertai dokumen resmi yang dipersyaratkan.

“Kalau kerugian secara finansial tentunya dari biaya perjalanan dan tiket perjalanan kapal pulang pergi namun soal bibit menjadi tanggung jawab pemilik bibit,” tutupnya.

Ia menyebut sudah melakukan komunikasi dengan pihak penerima dan pengirim terkait ditolaknya bibit jeruk dan bibit buah buahan lain yang dibawa dan harus segera dikembalikan ke tempat asal di Lembang Bandung.

Lihat juga...