Bidan Desa Bakauheni, Galakkan Penyuluhan Kanker Serviks

LAMPUNG – Upaya deteksi dini pencegahan kanker leher rahim atau serviks yang kerap menyerang perempuan terus dilakukan oleh bidan Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan dengan melakukan penyuluhan ke beberapa pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang ada di wilayah tersebut.

Bidan Ana Tince Boru Sihombing selaku bidan desa setempat menyebut pemahaman akan kanker serviks belum begitu merata di wilayah tersebut sehingga dirinya gencar melakukan penyuluhan.

Kader Posyandu Matahari mencatat balita yang melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan rutin bulanan [Foto: Henk Widi]
Kanker serviks disebut bidan Ana Tince merupakan jenis kanker yang paling ditakuti oleh wanita. Apalagi persepsi bahwa penyakit yang menyerang organ intim wanita tersebut disebabkan oleh perilaku seks bebas.

Sementara penyebab kanker leher rahim tersebut akibat perilaku hubungan seksual dengan suami. Kebersihan serta perilaku aktivitas seksual yang sehat diakuinya ikut mendukung terjadinya penyakit tersebut.

“Saya tekankan bahwa penyakit kanker leher rahim juga bisa terjadi bahkan meski kaum wanita tak pernah melakukan hubungan bebas. Sekarang deteksi dini bisa dilakukan murah menggunakan metode ters inspeksi visual asetat yang murah dan terjangkau,” terang bidan Ana Tince Boru Sihombing, saat memberi penyuluhan bahaya kanker serviks kepada puluhan ibu rumah tangga di Posyandu Matahari Kampung Jering, Jumat (15/12/2017).

Bidan Ana Tince yang juga merupakan bidan di UPT Puskesmas rawat inap Bakauheni tersebut mengaku, kaum ibu selama ini masih takut melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks karena masih mengetahui pemeriksaan hanya dilakukan dengan menggunakan metode pap smears yang memerlukan biaya mahal.

Selain itu rasa malu saat pemeriksaan organ genital masih banyak dialami para wanita meski hal tersebut harus dikesampingkan demi kesehatan.

Ana menyebut, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi bidan untuk menjelaskan pentingnya kaum ibu melakukan tes inspeksi visual asetat (IVA) dengan metode oles menggunakan cairan asam asetat dan bisa dilakukan di Puskesmas Bakauheni setiap pekan pertama, kedua hingga ketiga.

Selain itu ia menyebut, biaya pemeriksaan dengan metode IVA cukup murah hanya berkisar Rp35.000 dan akan dilakukan secara komunal agar kaum ibu bisa menentukan waktu yang tepat.

Ana mengungkapkan, tes IVA rencananya akan dilakukan bagi sebanyak 65 wanita di Kampung Jering secara bertahap termasuk penyuluhan kepada anggota PKK dan ibu ibu pengajian agar memiliki kepedulian dalam menjaga kesehatan serviks wanita. Pemeriksaan diakuinya dilakukan dengan mengoleskan cairan asam asetat ke serviks lalu melihat ada tidaknya perubahan warna.

“Jika warna serviks tetap kemerahan berarti sehat dan bila ada bintik putih berarti ada tanda lesi atau prakanker sehingga perlu pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit,“ terang bidan Ana Tince.

Ia menyebut, sebagian wanita di wilayah tersebut yang merupakan ibu muda dengan aktivitas seksual yang masih cukup aktif dianjurkan memeriksakan diri dengan metode IVA agar terhindar dari kanker serviks karena adanya metode pemeriksaan sejak dini.

Ia juga berharap dengan semakin cepat diketahui maka kaum wanita di wilayah tersebut tidak dihantui akan bahaya kanker serviks.

Selain penyuluhan tentang kanker serviks kegiatan rutin Posyandu Matahari diantaranya melibatkan sebanyak 4 orang kader Posyandu dengan pemeriksaan rutin kepada anak Balita dengan jumlah total sebanyak 65 orang balita. Memberikan imunisasi di antaranya HB 0, BCG, Polio, DPT, HB, Campak serta pemeriksaan tinggi badan, berat badan.

Kegiatan Posyandu yang dilakukan sebulan sekali tersebut juga diisi dengan kegiatan pemberian makanan pendamping ASI dan makanan tambahan untuk ibu hamil.

Kaum ibu mendengarkan penyuluhan tentang kanker serviks dari bidan desa [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...