Buku ‘Ayat-Ayat yang Disembelih’ Jadi Rujukan YPMS Adukan Pelanggaran PKI

JAKARTA — Salah satu anggota Tim Advokasi Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah (YMPS), Dr. Sulistyowati, S.H., M.H menyebutkan, buku ‘Ayat-Ayat yang Disembelih’ karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon menjadi salah satu rujukan pihaknya dalam mengadukan kekejaman dari Partai Komunis Indonesia (PKI) ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

“Buku ‘Ayat-Ayat yang Disembelih’ karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon yang menjadi salah satu rujukan kami mengadukan pelanggaran HAM berat oleh PKI kepada Komnas HAM,” sebutnya saat berbincang dengan Cendana News, beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, buku karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon merupakan hasil wawancara dengan saksi dan pelaku sejarah hingga keluarga korban kebengisan PKI.

Keluarga korban menangis memberikan kesaksian pembantaian PKI (Foto Akhmad Sekhu)

Sulistyowati memaparkan, kandungan isi dalam buku tersebut seperti di antaranya, bahwa PKI telah membuat pemberontakan dan pelanggaran Hak Azasi Manusia sejak Oktober 1945 dengan melakukan gerakan Antiswapraja yang dipimpin oleh Tan Malaka, ketua PKI tahun 1945.

“Dalam gerakan Antiswapraja ini, para tokoh komunis Indonesia melakukan serangkan pembantaian di berbagai wilayah di Jawa maupun Sumatera,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu penulis, Thowaf Zuharon mengatakan, pembantaian terjadi di berbagai daerah. Dibeberkan, seperti di tiga daerah, yakni Tegal, Brebes dan Pekalongan, pada tahun akhir 1945 hingga 1946, pembantaian terhadap para kiai dan para nasionalis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibantai oleh Kutil, pimpinan PKI di Karesidanan Tegal, Brebes dan Pekalongan.

“Bahkan Kutil telah mendeklarasikan Negara Komunis Talang yang berbenturan langsung dengan NKRI yang dilandasi Proklamasi 17 Agustus 1945 dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Peristiwanya ada dalam buku‘ Ayat-Ayat yang Disembelih’ dalam Chapter ‘Kutil: Penyembelihan ini adalah Gugatan terhadap Tuhan’, “ paparnya geram.

Tim Advokasi dan Pengurus YMPS menyerahkan berkas aduan pada Komnas HAM (Foto Akhmad Sekhu)

Pada bulan Desember 1945, dalam rangkaian pemberontakan Gerakan Antiswapraja, Kelompok PKI Ubel-Ubel Hitam memenggal Menteri Pertahanan Pertama Republik Indonesia, yaitu Otto Iskandardinata, di Pantai Mauk Tangerang.

Sejak bulan Oktober 1945, PKI Banten juga melakukan pebantaian kepada kaum nasionalis dan umat Islam, serta melakukan pembunuhan kepada Bupati Lebak. Gerakan pembantaian itu dipimpin oleh Ce’ Mamat.

Pada bulan Maret 1946, dalam rangkaian pemberontakan Gerakan Antiswapraja di Suumatera Timur, kelompok PKI pimpinan Usman Parinduri membantai seluruh keluarga Kerajaan Langkat, serta membunuh penyair Amir Hamzah, keluarga Kerajaan Langkat,

Pada tahun 1948, kelompok PKI pimpinan Muso membuat Aksi Pemanasan di Magetan, dan Kampung Kauman Magetan pun dibumihanguskan. Kemudian, mereka mengubur hidup-hidup Kiai Sulaeman bersama para pengikutnya. Mereka juga membantai kaum muslim di Madiun, sehingga menimbulkan banjir darah di Loji Rejosari setinggi mata kaki.

“Banyak masih lagi bukti-bukti kekejian yang dilakukan PKI yang tertulis dalam buku ini, “ ungkap Thowaf Zuharon, salah satu penulis buku ‘Ayat-Ayat yang Disembelih’

Bahkan, masih banyak lagi bukti-bukti lainnya yang berdatangan, sampai Sulistyowati mengetik berkas aduan hingga jam tiga pagi untuk disampaikan ke Komnas HAM jam delapan pagi.

“Itu pun masih banyak lagi laporan dari masyarakat yang berdatangan begitu sangat banyak karena memang saking banyaknya pelanggaran HAM berat yang dilakukan PKI, “ tandasnya.

Lihat juga...