Bulog Kalsel Sebar 300 Ton Beras di Operasi Pasar Besar

BANJARMASIN – Perum Bulog Divisi Regional Kalimantan Selatan dan Pemprov Kalimantan Selatan memberangkatkan tahap awal pengiriman 300 ton beras untuk operasi pasar besar ke sejumlah kabupaten di Kalimantan Selatan. Operasi Pasar Besar Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ini berlangsung hingga 31 Desember 2017.

Kepala Bulog Divre Kalimantan Selatan, Dedi Supriadi, mengatakan Operasi Pasar Besar tahap awal mencakup Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Menurut Dedi, saat ini cadangan beras di Kalsel mencapai 15 ribu ton dan dipastikan dalam kondisi aman sampai pergantian tahun 2017.

Bulog Kalsel juga meluncurkan Gerakan Stabilisasi Pangan (GSP) dalam waktu tak terbatas. Kalau pasokan 300 ton beras habis sebelum tutup tahun, Dedi akan menggelontorkan lagi tambahan beras.

“Hal ini untuk menjamin ketersediaan stok beras pada momen hari besar di akhir tahun cukup. Baik itu untuk menyambut momen iven maulid, Natal dan tahun baru,” kata Dedi Supriadi di sela launching Operasi Pasar Besar CPB di Sekretariat Dekranasda Kalsel, Selasa (12/12/2017).

Adapun harga beras yang dijual saat Operasi Pasar Besar CPB senilai Rp 8.100/Kg dengan kualitas premium. Dedi mengklaim harga itu jauh lebih murah dibanding beras serupa di pasaran yang dijual Rp 9.000/Kg.

“Kalau harga beras bisa murah dan tersedia cukup dipasaran. Tentunya sulit bagi oknum pedagang yang ingin coba memainkan harga saat permintaan sedang tinggi sekarang,” ujar Dedy.

Selain beras, Bulog Kalsel menjual komoditas bahan pokok strategis, seperti gula, minyak goreng hingga bawang putih. Di operasi pasar, Bulog melego minyak goreng seharga Rp 12.000/liter, gula sebesar Rp 12.000/Kg, dan bawang putih seharga Rp 15.000/Kg. “Ketiga komoditas ini kita jual melalui operasi pasar dan Rumah Pangan Kita (RPK),” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kalimantan Selatan, Birhasani mengklaim, sebelas harga kebutuhan bahan pokok strategis yang dijual di pasaran masih cenderung stabil. Kalau pun ada kenaikan, paling hanya untuk jenis cabai setelah sentra penghasil cabai produksinya turun drastis akibat gagal panen.

Menurut dia, hujan dan bencana banjir membuat produktivitas cabai tidak maksimal. Kenaikan harga cabai di pasaran sebesar Rp 10-15 ribu per kilogram dari harga normal. Adapun harga cabai di sentra pertanian cabai hiyung di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, senilai Rp 33-35 ribu per kilogram.

“Kalau komoditas lainnya, terkhusus beras masih sangat stabil di pasaran. Hal ini tentunya patut kita syukuri, karena stabilitas harga pokok di tahun 2017 ini jauh lebih terjaga dibanding tahun lalu,” ujar Birhasani.

Pihaknya gencar melakukan sidak ke pasar tradisional hingga modern, sampai melakukan operasi pasar bersama distributor besar untuk menjaga stabilitas harga sembako. Sebab, stabilitas harga turut menjaga inflasi. “Kalau itu bisa diwujudkan, daya beli masyarakat akan jauh lebih baik,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalsel, Suparno, membenarkan harga cabai rawit dan cabai besar cukup mahal karena hujan dan banjir yang merendam sejumlah sentra penghasil cabai. Alhasil, kata Suparno, produksi cabai semakin menyusut di tengah permintaan yang tetap tinggi.

“Musim hujan banyak tanaman terserang penyakit jamur tanah, jadi mengganggu produksi cabai. Tapi secara umum, belum ada kerawanan pangan dan ketersediaan pengan enggak ada gejolak. Banjir kan hanya lewat saja,” kata Suparno.

Lihat juga...