Dampak Kapal Kandas, Penumpang Panik dan Proses Sandar Molor

LAMPUNG — Dampak kandasnya KMP Mutiara Persada I milik PT. Atosim Lampung Pelayaran (ALP) di Pulau Kelapa tak jauh dari Pelabuhan Bakauheni Lampung mengakibatkan kapal yang akan sandar di dermaga tiga Pelabuhan Bakauheni mengalami keterlambatan sekitar satu jam.

Kru darat KMP Mutiara Persada I, Oby menyebutkan proses reposisi kapal yang kandas di Pulau Kelapa dengan jarak satu mil dari Pelabuhan Bakauheni tersebut sedianya sandar 11.48 WIB. Akibat kandas terpaksa tertunda selama satu jam sehingga tim evakuasi dari TB.Tug Boat Merak dibantu dengan personil dari Dirpolair Polda Lampung yang mengerahkan perahu karet serta kapal rib dari Kantor SAR Lampung yang siaga di Pelabuhan Bakauheni.

Arus yang kencang dan perairan yang sedang surut ikut mempengaruhi kandasnya kapal penyeberangan di lintas Bakauheni-Merak tersebut.

“Kami lakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan proses reposisi kapal yang kandas pada bagian pulau Kelapa di sisi Timur dalam waktu setengah jam bisa direposisi,” terang Oby salah satu kru darat KMP Mutiara Persada I milik PT. Atosim Lampung Pelayaran saat proses reposisi kapal kandas tersebut di Pulau Kelapa, Sabtu (31/12/2017)

Novi salah satu penumpang KMP Mutiara Persada I [Foto: Henk Widi]
Salah satu penumpang, Novi,asal Tangerang tujuan Kalianda mengaku dirinya sempat merasa khawatir karena kapal yang ditumpangi kandas sebelum sandar. Ia bahkan sempat panik karena kapal sempat mengalami kemiringan sekitar 3 derajat bahkan ia mulai pindah di sisi lambung kiri karena kapal sempat kandas di bagian pasir.

Beruntung sebutnya, kapal tug boat berhasil menarik mundur kapal yang dinaikinya meski ia terlambat selama satu jam dari jadwal semula bahkan dirinya sudah meminta dijemput keluarga.

Terkait peristiwa kandasnya KMP Mutiara Persada I tersebut Direktur Pelayanan dan Fasilitas PT.ASDP Indonesia Ferry (Persero), Christin Hutabarat menyebut insiden tersebut diakuinya akibat peristiwa alam dampak dari arus Selatan ke arah Utara dengan kecepatan arus bawah dengan kecepatan 18 hingga 20 knot sementara normal arus di wilayah tersebut hanya sekitar 6 hingga 8 knot.

Imbasnya sejumlah kapal yang akan sandar di dermaga dua di antaranya KMP Sebuku sempat mengalami kesulitan saat akan sandar.

Christin Hutabarat, Direktur Pelayanan dan Fasilitas PT.ASDP Indonesia Ferry (kiri) dan Anton Murdianto, General Manager PT.ASDP Indonesia Ferry Bakauheni (kanan) [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut kapal tersebut berpenumpang sekitar 250 penumpang pejalan kaki dan berjumlah sekitar 45 kendaraan yang selanjutnya bisa bersandar di dermaga tiga pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan.

Peristiwa tersebut diakui Christin Hutabarat murni akibat peristiwa alam sehingga ia mengimbau kepada para nahkoda agar lebih berhati-hati dalam kondisi cuaca mengalami perubahan menjelang pergantian tahun 2017 ke tahun 2018.

“Kami harapkan semua nahkoda bisa memperhatikan faktor cuaca di perairan terutama saat akan sandar di pelabuhan karena peristiwa alam kadang sukar diprediksi,” ungkap Christin Hutabarat.

Lihat juga...