Dies Natalis ke-32 UMB, Membangun Pemikiran Strategis bagi Bangsa

JAKARTA – Dalam momen Dies Natalis ke-32 Universitas Mercu Buana (UMB) Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M, Rektor Universitas Mercu Buana menyampaikan bahwa perguruan tinggi wajib memiliki pemikiran strategis yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Salah satunya dengan tidak melupakan sejarah. Selalu mengkaji dan meneladani sejarah sebagai refleksi pemikiran membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Menurut Arissetyanto, sejarah bangsa telah mencatat gelombang semangat Budi Utomo yang dipelopori para mahasiswa Stovia dalam membangun persatuan. Semangat Budi Utomo tersebut bagaikan gelombang air yang mengalir deras hingga menembus sekat-sekat primordialisme yang ada pada saat itu, yang ternyata masih sangat kental. Kongres Pemuda ke II yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah juga sebuah energi yang berhasil menghimpun berbagai organisasi pemuda dari berbagai wilayah Nusantara di tahun 1928.

Dr. H. Haedar Nashir (duduk tengah berpeci), Soehardjo Soebardi (duduk ketiga dari kanan) Arissetyanto Nugroho (duduk kedua dari kanan) bersama dosen UMB. Foto: M Fahrizal

Melalui kelahiran Sumpah Pemuda pula, lanjutnya, dapat mewujudkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Inilah fakta empiris yang tidak terbantahkan bahwa dengan semangat kebangsaan bersama yang satu dan utuh merupakan energi kemajuan bagi Indonesia. Kini dengan perjalanan semangat kebangsaan di usia yang ke-72 tahun tentu sudah cukup banyak mengalami tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan.

Sejatinya, menurut Arissetyanto lagi, berbagai tantangan berkebangsaan sudah terbaca semenjak muncul pemikiran tokoh bangsa di antaranya Soekarno dengan konsep trisakti, yaitu berdikari di bidang ekonomi, berdaulat, dan berkepribadian dalam berkebudayaan. Pemikiran tersebut diperkuat pada zaman pemerintahan Soeharto dalam mewujudkan trilogi pembangunan yakni stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta pemerataan pembangunan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Di mata Arissetyanto, pemikiran dan gagasan kedua tokoh bangsa tersebut berhasil membuktikan tentang berkebangsaan secara nyata. Konsep berkehidupan berkenegaraan yang sulit dirasakan masyarakat saat itu ternyata bisa menjadi semangat tersendiri dalam berkebangsaan, hingga saat ini.

“Untuk mengaplikasikan pemikiran dan gagasan kedua tokoh bangsa tersebut pada generasi sekarang, juga hadir di tengah-tengah kita, tokoh-tokoh nasional seperti Try Sutrisno, Dr. H. Haedar Nashir, dan Prof Kartini. Melalui ketiga tokoh tersebut, apa yang bisa kita rekomendasikan ke pemerintah untuk kemajuan dan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Supaya ke depan perjalanan bangsa menjadi lebih baik. Baik melalui bidang sosial, budaya, teknologi, politik, dan keamanan,” pungkas Arissetyanto mengakhiri sambutan Dies Natalis UMB ke-32, sebelum diadakan seminar nasional dengan narasumber ketiga tokoh tersebut.

Dr. H. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah disambut kedatangannya oleh Soehardjo Soebardi. Foto: M. Fahrizal
Lihat juga...