Dinkes Kalbar Minta Masyarakat Tanggap Difteri

PONTIANAK — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Andy Jap mengharapkan masyarakat untuk cepat tanggap terhadap penyakit difteri mengingat mudah menular dan dapat menyebabkan kematian.

“Penyakit difteri merupakan penyakit yang mudah menular, bahkan jika tidak ditangani secara cepat bisa menyebabkan kematian. Akan tetapi bisa sebaliknya, penyakit ini bisa disembuhkan, asal masyarakat bisa cepat dan tanggap menghadapinya,” kata Andy Jap di Pontianak, Jumat (22/12).

Dirinya menjelaskan, kuman difteri itu bisa menular melalui percikan air liur saat batuk maupun bersin.

“Jika ada penderita duduk bersebelahan dengan yang tidak menderita, lalu batuk atau terkena percikan air liurnya. Atau percikan batuk jatuh ke lantai dan tersentuh lalu lupa membasuh bisa juga tertular,” tuturnya.

Untuk itu Andy meminta masyarakat untuk waspada. Masyarakat harus mengetahui cara penularan dan gejala difteri seperti gejala paling khas itu demam, disertai batuk dan sesak napas.

“Kemudian di tenggorokan ada selaput keputihan dan leher ada pembengkakan kelenjar. Itu ciri khas difteri dan masyarakat harus tahu,” katanya.

Dia menambahkan bila ditemukan warga dalam kondisi seperti maka diperlukan penanganan cepat agar bisa tertolong. Jika tidak maka nyawa penderita bisa melayang.

Ia mengatakan satu-satunya pencegahan penularan penyakit ini ialah dengan imunisasi. Imunisasi diberikan sejak bayi sebagai kekebalan terhadap difteri. Tiga kali pada usia 0-1 tahun, kemudian diulang lagi pada usia 1-5 tahun dan saat SD diulangi.

“Jadwal itu harus terpenuhi semua, maka bisa kebal terhadap difteri. Jika imunisasi tak lengkap bisa tertular karena umumnya setelah ditelusuri penyebab merebaknya difteri karena imunisasi tidak lengkap bahkan ada yang nol,” kata dia.

Namun, lanjutnya, jika setelah imunisasi ada gejala demam itu wajar karena efek samping imunisasi, tapi manfaatnya banyak.

Dia menambahkan, untuk Kalbar tahun ini, ada delapan yang menunjukkan gejala difteri. Sementara dari pemeriksaan lab, satu penderita dinyatakan positif difteri.

“Namun saat ini sudah meninggal dunia. Kasus tersebut terjadi Juni 2017 di Sungai Rengas, Kubu Raya,” katanya.

Andy mengatakan, jika sudah terjadi satu positif difteri maka langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan dengan menggelar imunisasi massal atau disebut Outbreak Response Immunization (ORI).

Di Kubu Raya kemarin sudah dilakukan dan diberikan sekitar 300 orang. Lalu untuk capaian imunisasi di Kalimantan Barat sekitar 75 sampai 80 persen.

“Angka itu belum sampai pada angka idealnya yakni harus 90 persen. Makanya, kesadaran masyarakat sangat diperlukan untuk imunisasi sebagai upaya pencegahan penyebaran difteri,” tuturnya (Ant).

Lihat juga...