Dinkes Sumbar: Menangkal Ancaman Difteri dengan Imunisasi

PADANG — Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Merry Yuliesday mengakui wabah difteri yang melanda wilayah Sumbar telah masuk pada kategori kejadian luar biasa (KLB). Untuk melakukan penanganan hal tersebut, Dinkes akan gencarkan imunisasi.

Menurutnya, penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian. Agar hal tersebut dapat dicegah, perlu dilakukannya imunisasi sesuai jadwal.

“Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta,” katanya, Jumat (15/12/2017).

Menurut Merry jika para anak-anak dilengkapi dengan imunisasi, maka para anak-anak akan selamat dari ancaman wabah difteri. Contohnya, di Sumbar, ada satu orang anak yang meninggal setelah dinyatakan positif difteri, yakni di Kabupaten Pasaman Barat. Anak itu ternyata mengalami gangguan gizi, serta tidak pernah mengikuti imunisasi.

“Difteri yang menelan korban di Sumbar, sudah menjadi contoh, bahwa anak-anak harus di imunisasi. Jika tidak, difteri bisa merenggut nyawa anak-anak,” tegasnya.

Merry menjelaskan, bagi orang tua yang masih kurang paham terkait usia anak yang harus di imunisasi. Bagi anak usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri. Sementara untuk anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.

Lalu, untuk anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.

Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

“Jadi perlu dikenali gejala awal difteri, seperti demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorok, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah,” ucapnya.

Untuk itu Merry menghimbau kepada para orang tua, segeralah ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak-anak merasakan gejala-gejala tersebut.

Dikatakannya, untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter dan petugas dari Dinkes, serta mendapat obat yang harus dihabiskan untuk mencegah penyakit, apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.

Sementara itu, salah seorang ibu yang anaknya baru memasuki usai satu tahun, Sarah mengatakan, dirinya secara rutin dan sesuai dengan jadwal membawa anaknya imunisasi ke Posyandu yang berada di dekat rumahnya.

“Saya tidak ingin anak saya yang sulung ini diserang difteri. Maka dari itu saya membawa anak saya untuk imunisasi,” katanya.

Ia mengaku, dengan dilakukannya imunisasi itu anaknya sampai saat ini dalam kondisi sehat. Meskipun itu ada terkadang demam, itu pun tidak berlangsung lama.

Lihat juga...