DKI Jakarta Juara Umum Parade Lagu Nusantara TMII 2017

JAKARTA — Provinsi DKI Jakarta berhasil meraih juara umum Parade Lagu Daerah ‘Gita Permata Nusantara’ Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Ke 34 tahun 2017, di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Minggu (10/12/2017).

Sang penyanyi, Regina Poetiray mampu menyampaikan pesan lagu tentang perbedaan bukan pembatas dan hidup harus rukun karena kita satu bangsa dan bahasa Indonesia.

Dengan teknik vokal yang hebat dalam lantunan lagu ‘Beda=Satu’ karya Samsudin Kacrit, Regina akhirnya bisa menghipnotis semua penonton dan dewan juri.

Selain itu, DKI Jakarta juga berhasil memboyong delapan piala. Yakni, kategori lima pencipta lagu unggulan, lima penata musik unggulan, lima penyanyi unggulan, sepuluh penyajian unggulan, pencipta lagu unggulan, penata musik terbaik, penyanyi terbaik dan juara umum.

“Alhamdulilah, sebuah kebanggaan akhirnya kami bisa persembahkan piala juara umum buat masyarakat Betawi,” kata Kepala Anjungan DKI Jakarta TMII, Fadlan Zahran kepada Cendana News ditemui usai menerima hadiah di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Minggu (10/12/2017).

Provinsi DKI Jakarta dalam penampilan “Beda=Satu” pada Parade Lagu Daerah ‘Gita Permata Nusantara’ TMII Ke 34 tahun 2017 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Minggu (10/12/2017) sore. Foto: Sri Sugiarti.

Fadlan mengaku semenjak parade lagu nusantara digelar, setiap tahunnya selalu ikut lomba. Namun DKI Jakarta belum pernah meraih juara umum. “Ini kado terindah hasil kerja keras kami berlatih selama tiga bulan. Alhamdulilah,” ucapnya.

Ketua Dewan Juri, Bens Leo menyampaikan apresiasinya atas tampilan maksimal Provinsi DKI Jakarta dalam ajang ini. Dengan meraih pencipta lagu terbaik, penata musik terbaik, dan penyanyi terbaik. “Maka DKI Jakarta berhak meraih juara umum mendapatkan piala bergilir Menteri Pariwisata, piagam dan uang Rp 10 juta dari Direktur Utama TMII,” kata Bens.

Bens berharap tahun depan gelaran ini diikuti 34 provinsi Indonesia.

“Tidak ada satu negara pun di dunia yang sekaya Indonesia seni budayanya,” tambahnya.

Tri Utami, salah satu juri Parade Lagu Daerah ‘Gita Permata’ Nusantara TMII mengatakan, salah satu penilaian dalam kompetisi haruslah memperhatikan unsur lokalitas. Karena tentu saja kita tahu bahwa lokalitas itu secara berkesenian sangat kaya. Satu dusun dengan dusun yang lain sangat berbeda, satu nagari dengan nagari ada perbedaan.

Perbedaan itu sebetulnya punya ciri khas dan kekuatan dari situasi sosial dan lingkungannya. Bahkan unsur lokal menjadi penting. “Jangan kehilangan unsur lokal. Kalau kita kehilangan unsur lokal sama dengan kita kehilangan akar,” kata Ii demikian panggilan Tri Utami.

Tri Utami (dress hitam/ kedua dari kanan). Foto: Sri Sugiarti.

Tugas kita adalah membangun. Membangun itu berarti di atas pondasi, menghias simpul-simpul tertentu dengan situasi yang semakin modern. Misalnya, dalam penggunaan alat musik pengiring, tambahnya.

“Sebetulnya tidak dapat dikatakan sebagai musik pengiring. Karena musik adalah bagian dari pagelaran atau persembahan,” ujarnya.

Karena bagian pagelaran, sebutnya, maka alat-alat musik lokal menjadi sangat penting. Contohnya, Kalimantan Tengah, Sumatera, dan Jawa Barat itu seperti apa. Itu menjadi penting karena dunia lokal itu ciri yang harus dibanggakan oleh lokalnya masing-masing.

Ii berharap lokalitas harus diperhatikan baik dalam unsur musik dalam rangkaian pemakaian alat musik, probesi, harmoni, melodi, dan cara menyajikannya. “Semkin kita kenal lokalitas kita, semakin kita tahu bahwa kita ini adalah sangat bhineka dan kita adalah satu Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...