Eksistensi Gedung Bharata Purwa Lestarikan Seni Tradisi

Editor: Irvan Syafari

53
Bagian depan Gedung Bharata Purwa/Foto: Akhmad Sekhu.

JAKARTA —- Di seputar Terminal Senen, terdapat gedung pertunjukan seni tradisi wayang orang yakni Gedung Bharata Purwa. Meski sudah berusia tua, gedung yang terletak di Jalan Kalilio No 15, Senen, Jakarta Pusat itu, terlihat masih bagus dan terawat.

Kondisi gedung yang cukup terawat itu mematahkan pandangan kita yang menilai bahwa gedung-gedung tua untuk pertunjukan kesenian identik kusam, tak terawat dan tinggal kenangan.

Jadwal pertunjukan yang cukup padat, tak hanya pertunjukan wayang orang, juga pertunjukan lainnya, seperti ludruk kekinian, musik orkes masa kini, dan lain-lain yang menjadi bukti eksistensi Gedung Bharata Purwa melestarikan seni tradisi.

Dari pemantauan Cendana News, Gedung Bharata Purwa menggelar pertunjukan musik ‘Orkes Masa Kini’ dengan tema ‘Bollywood’, yang menghadirkan penyanyi Shreyamaya, Norman Kamaru dan Norman Divo, Senin (5/12/2017).

Adapun, untuk acara pertunjukan wayang orang yang digelar di Gedung Bharata Purwa masih terbilang ramai. Hal itu diungkapkan salah seorang sesepuh komunitas wayang orang Bharata Purwa, Marsam. “Alhamdulillah, masih ramai,” tuturnya penuh rasa syukur.

Lebih lanjut, Marsam, menerangkan selain masih eksis dan ramai pengunjung, gedung Bharata Purwa merupakan yang paling bagus dibanding gedung-gedung pertunjukan lainnya.

“Gedung ini bisa dibilang paling bagus dibanding gedung lainnya seperti gedung Miss Tjitjih,” ungkapnya.

Marsam juga menceritakan bahwa komunitas wayang orang Bharata berdiri pada tahun 1960-an. Ia menambahkan bahwa di zaman Gubernur Ali Sadikin, dirinya dan kawan-kawannya di komunitas wayang orang itu mendapatkan perhatian soal kesejahteraan.

“Sejak tahun 1960-an sudah berdiri. Pak Ali Sadikin itu dulu berjasa besar karena beliau lah yang memperhatikan kesejahteraan para pemain wayang,” tandasnya.

Pementasan wayang orang/Foto: Istimewa/Akhmad Sekhu.

Sementara itu, Izza, seorang remaja menceritakan pengalamannya menonton wayang orang di Gedung Bharata Purwa. “Meskipun tidak tahu betul seluk-beluk dunia wayang orang apalagi kisah Mahabharata dan Ramayana, tapi saya senang bisa nonton wayang orang,” ungkapnya tampak begitu gembira.

Seperti anak muda ‘Jaman Now’ (zaman sekarang) pada umumnya, ia juga tak lupa untuk foto bersama dengan para pemain wayang orang.

Wayang orang atau disebut juga dengan istilah “wayang wong” (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan oleh orang sebagai tokoh dalam pertunjukan cerita wayang tersebut.

Sesuai dengan nama yang disadangnya, wayang orang tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan orang sebagai pengganti boneka-boneka wayang tersebut.

Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang ini dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan.

Dalam pertunjukan wayang orang selalu diselingi dengan lagu-lagu Jawa dengan iringan gamelan. Tema cerita dalam pertunjukan wayang orang bermacam-macam. Biasanya diambil cerita dari Ramayana dan Mahabharata. Banyak pesan moral dari pertunjukan wayang orang, seperti di antaranya, tentang kebenaran yang pasti akan selalu menghancurkan kebatilan.

Gedung Bharata Purwa berhimpitan dengan toko kelontong dan pedagang kaki lima di sekitar Terminal Senen. Pada kurun 1963-1999 gedung ini menggelar pertunjukan setiap malam. Namun sejak gedung pertunjukan direnovasi, pertunjukan hanya berlangsung setiap Sabtu malam saja.

Biasanya pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB. Para penonton di sini umumnya mencari obat rindu akan seni tradisi Jawa sekaligus menjadi ajang reuni berkumpul dengan teman-teman.

Penonton yang datang tak hanya dari Jakarta, tapi juga dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan kota-kota lainnya. Menariknya, banyak di antara penonton yang sengaja membawa anak-anaknya dengan tujuan mengenalkan seni tradisi sejak usia dini.

Pementasan musik di Gedung Bharata Purwa/Foto: Akhmad Sekhu.

Komentar