Endang Werdiningsih Berbagi Resep Penulisan Feature

BOGOR – Endang Werdiningsih, SH, M.Kn, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jakarta Periode 2014-2019, mengungkap rahasia penulisan feature.

Sastrawati yang juga seorang wartawati handal kelahiran Tegal peraih Penghargaan Jurnalistik tingkat Nasional Adinegoro pada 1990 dan 1998 dalam bidang Pembangunan Nasional ini memang piawai menulis feature. Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Kartini mengharapkan wartawan mau menulis feature.

Baca: Uji SKW Pertegas Pilihan Profesi Wartawan

“Penulisan feature itu lebih dalam, lebih lengkap daripada penulisan berita. Di era media online yang sekarang semakin merebak, yang perkembangan semakin cepat, masih terbuka untuk penulisan feature,“ kata Endang Werdiningsih, SH, M.Kn, saat membuka acara Orientasi Wartawan Peningkatan Kualitas Anggota Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, sekaligus juga menjadi pembicara di Wisma Arga Mulya Kemendikbud, Cisarua, Puncak Bogor, Jawa Barat, Senin (11/12/2017).

Lebih lanjut, perempuan berjilbab kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 27 Oktober 1957, itu menerangkan, penulisan feature berbeda dengan penulisan berita. “Feature lebih human interest, tapi tetap berpedoman standar penulisan 5 W 1 H,“ terangnya.

Menurut Endang, tahap penulisan feature, pertama adalah ide yang sangat penting dalam suatu penulisan feature. Ide harus eksklusif dan semenarik mungkin, agar dapat menarik minat pembaca.

“Kedua, sosok seseorang atau kasus, kita buat TOR, mengapa perlu menulis featrure. Kalau sudah ada TOR, 80 persen penulisan feature sudah jadi,“ ungkapnya.

Angle, sudut pandanganya, bisa tentang suka duka, pengalaman yang mengharukan. Ada pun narasumbernya bisa mulai dari orang-orang terdekat, mulai dari keluarganya, sopirnya, teman-teman akrabnya, bahkan bisa juga dari musuh-musuhnya. “Cari referensi sebanyak-banyaknya,“ ucapnya tampak sangat bersemangat.

Baca: 44 Wartawan Ikuti Orientasi Wartawan PWI DKI

Kemudian, daftar pertanyaan sebanyak-banyaknya. Setelah wawaancara, langsung tuangkan, langsung tuliskan. Kalau ditunda satu hari saja pasti sudah beda penulisannya.

“Ketika kita wawancara, meski sudah direkam, kita perlu juga menulis yang penting-penting,“ ujarnya.

Penuangan pertama adalah judul sekreatif mungkin yang membuat pembaca tertarik. “Harus ada intro atau capture, rangkuman tulisan. Karena feature beda degan berita, agak mendayu-dayu sedikit, jurnalisme sastrawi,“ tandasnya.

Lihat juga...