Galakkan Benih Lokal dalam Peremajaan Kakao

MAUMERE – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sikka sejak tahun 2014 sampai 2017 melakukan peremajaan kakao dengan membeli bibit dari Sumba atau Jember dan menyalurkan kepada para petani.

“Benih kakao yang selama ini direkomendasikan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka rentan sekali dengan serangan hama busuk buah seperti benih kakao MCC01.MCC02, Sulawesi1 dan Sulawesi2. Mereka merekomendasikan tapi tidak mengkaji lebih dalam apakah benih tersebut sesuai dengan kondisi lahan di Sikka,” ujar Edhardus Selasa (19/12/2017).

Edhardus kepada Cendana News menegaskan, lebih bagus jika Dinas Pertanian Sikka menggunakan klon lokal yang bisa lebih tahan terhadap serangan hama busuk buah seperti yang dikembangbiakkan di tempatnya yakni klon BB dan klon lokal dari Sikka yang lebih tahan terhadap hama. Benih lokal tingkat adaptasinya sangat tinggi.

“Kalau di Sulawesi dan Jawa sistem perkebunan kakao monokultur hanya kakao saja, tapi kalau di Sikka dalam satu areal kebun ada beberapa jenis tanaman yang bisa jadi menjadi sumber hidup dari penyakit tersebut,” ungkapnya.

Lebih baik, tegas Edhardus, pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Pertanian mendorong atau memfasilitasi petani melakukan sertifikasi bibit kakao lokal. Benih kakao lokal tidak kalah bagus dengan benih dari luar daerah hanya belum ada sertifikasi saja.

“Saya pernah menanam benih dari luar daerah tersebut namun perkembangannya tidak bagus dan sulit beradaptasi dengan lahan perkebunan di Sikka. Produktivitasnya pun tidak maksimal,” sebutnya.

Petani kakao lainnya, Hendrik Saka yang ditanya Cendana News menyebutkan, kelompoknya memang pernah mendapat bantuan benih kakao dari pemerintah melalui Dinas Pertanian Sikka tahun 2014. Namun tanaman kakao tersebut pertumbuhannya lama sekali.

“Kami hanya sekali saja mendapatkan benih kakao namun setelah itu tahun 2016 kami mulai menanam bibit lokal untuk mengganti tanaman kakao yang sudah tua daripada menanam benih dari pemerintah,” tegasnya.

Hendrik juga berharap agar Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan petugas pembasmi hama harus sering turun ke petani agar bisa mengetahui situasi yang terjadi di lapangan. Selama ini PPL lebih banyak berada di kantor dinas saja.

“Kalau petugas tersebut sering turun ke lapangan tentu bisa mengetahui permasalahan yang dihadapi petani. Lebih bagus membayar penyuluh swadaya yang diambil dari petani kakao yang sudah sukses,” pintanya.

Edhardus salah seorang petani kakao sukses asal Desa Wolokoli Kecamatan Bola Kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary
Lihat juga...