Growol, Sarapan Khas Transmigran Asal Kulon Progo di Lamsel

LAMPUNG — Meski sudah pindah ke negeri orang namun kekhasan daerah asal masih tetap melekat pada diri transmigran asal Kulon Progo yang berada di Lampung Selatan. Mulai dari kebudayaan hingga kuliner terus dilestarikan, salah satunya growol, makanan terbuat dari singkong yang biasa disajikan untuk sarapan.

Siti Suwarni (40) warga desa Gandri kecamatan Penengahan, warga transmigran generasi kedua asal Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta menyebutkan, dalam mengobati kerinduan tanah kelahiran, ia kerap membuat growol untuk disajikan bagi keluarganya di pagi hari.

Bahan baku yang mudah diperoleh menjadi alasan utama makanan tersebut tetap dilestarikan. Meski dalam sejarahnya saat masih tinggal di Kulon Progo, menu growol dibuat akibat sulitnya memperoleh nasi beras.

Siti Suwarni memperlihatkan growol [Foto: Henk Widi]
Proses pembuatan growol terbilang mudah, singkong yang sudah dikupas kulitnya direndam selama dua hingga tiga hari. Setelah perendaman, disiapkan berbagai bahan-bahan pendukung, seperti parutan kelapa dari buah yang setengah tua.

Setelah singkong ditiriskan dari proses perendaman proses selanjutnya dilakukan penumbukan menggunakan alu atau disebut dengan proses “penutuan” hingga membentuk gumpalan gumpalan kecil. Kemudian dilakukan pengukusan dalam dandang hingga matang dan ditempatkan pada nampan atau wadah khusus.

Penyajian growol terbilang sederhana tergantung selera. Setelah growol diangkat parutan kelapa yang diberi bumbu gula putih serta garam bisa ditaburkan sehingga menambah rasa gurih manis pada makanan growol tersebut.

“Selain bisa disajikan apa adanya growol juga bisa dicetak seperti pembuatan gethuk dan diiris kecil kecil atau disajikan dalam bungkus daun pisang atau piring,” sebut Siti Suwarni saat berbincang dengan Cendana News.

Dwi, siap menyantap kuliner growol [Foto: Henk Widi]
Sementara itu, Sumardiono (60) warga tranmigran lainnya juga menyebutkan, sejak kecil saat masih tinggal di Kulon Progo ia kerap menjadikan growol sebagai makanan pokok. Setelah melakukan transmigrasi ke Lampung Selatan menu growol masih dibuat sebagai bentuk melestarikan kuliner daerah asal. Selain itu, kandungan dari growol juga tidak kalah dari nasi.

“Menyantap growol saat pagi hari memang bisa menggantikan nasi karena kandungan karbohidrat bisa mengisi tenaga sebelum bekerja di kebun,” beber Sumardiono.

Dwi (17) salah satu gadis yang pertama kali melihat menu growol encoba makanan tradisional tersebut dan ia menyebut rasa gurih dan manis dari parutan kelapa dipadukan dengan singkong yang sudah direbus menyerupai makanan gethuk yang pernah disantapnya. Meski baru pertama kali menikmati makanan growol ia menyebut makanan tersebut cukup enak dan bisa menjadi camilan saat bersantai bersama keluarga atau sembari menonton televisi.

Lihat juga...