Gula Rafinasi Menumpuk di Gudang Bulog Kalsel

BANJARMASIN- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Azam Azman Natawizan, mengkritik Bulog Divre Kalsel karena mubajir dalam melakukan penyetokan komoditas gula rafinasi.

Hal tersebut diungkapkan di sela kunjungan Komisi VI DPR-RI di Gudang Bulog Baru, di Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Senin (18/12/2017)

Anggota DPR RI, Azam Azman Natawizan, saat meninjau gedung gula rafinasi milik Bulog Kalsel di Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalsel, Senin (18/12/2017). –Foto: Diananta P Sumedi

“Dalam sidak kali ini, kita melihat fakta yang cukup mencengangkan. Ada sekitar 1.157 ton gula rafinasi yang tidak bisa dijual di pasaran dan menumpuk hingga 1 tahun lamanya,” tegas Azam.

Menurut dia, kerugian bisa jauh lebih besar, jika gula rafinasi ini terus menumpuk dan tidak segera dijual ke pasaran. “Pertama, biaya beban operasional penyimpanan yang terus meningkat. Lalu, kedua kualitas gula akan makin menurun yang tentunya akan makin sulit untuk dijual,” tambahnya.

Karena itulah, Azam Azman berharap, harus ada solusi yang konkret terkait 1.157 ton gula rafinasi tersebut. Ia meminta bisa segera di-upgrade kualitasnya untuk dapat dijual kembali ke masyarakat.

“Kalau menumpuk di gudang seperti ini akan merugikan Negara. Lebih baik dijual murah saja ke masyarakat,” ujar Azam.

Terkait kunjungannya bersama rekan-rekan komisi ke Gudang Bulog Baru, tak lain adalah untuk memastikan kesiapan Bulog Kalsel dalam menyediakan berbagai kebutuhan pokok pada masyarakat jelang Natal dan tahun baru.

Kan Bulog sekarang tugasnya menjamin kestabilan harga bahan pokok. Karena itulah perlu kita awasi persiapannya supaya masyarakat bisa mendapatkan harga kebutuhan pokok yang murah dan mudah di pasaran,” katanya.

Sementara itu, Kepala Divisi Regional Bulog Kalsel, Dedi Supriadi, mengakui adanya penumpukan gula rafinasi di gudangnya dengan jumlah yang cukup besar.

Gula rafinasi ini dulu memang dibeli dari PTPN pada 2016. Pembelian gula bertujuan menjamin stok gula aman di pasaran, agar harganya tidak terjadi lonjakan.

“Namun, ternyata karena kualitasnya tidak begitu baik, tidak semua gula rafinasi yang kita beli terserap ke pasaran. Maka, sisanya menjadi menumpuk di gudang,” ungkapnya.

Dirinya pun berjanji akan segera mengembalikan gula rafinasi ke pabrik PTPN di Jawa Timur untuk diolah kembali agar jauh lebih bersih dan dapat dijual ke masyarakat.

“Kalau sudah diperbaiki kualitasnya, kita akan jual langsung ke pasaran. Untuk harganya mulai gudang sekitar Rp11.000/Kg,” kata Dedi.

Lihat juga...