Habib, Juara Baca Kitab Kuning Sulsel 2017

MAKASSAR — Rajin belajar pangkal pandai. Nasehat sekaligus ungkapan itu tidak pernah usang dan selalu terbukti. Habib Arif Billah dari Pesantren Al Fakhriyah di Bulorokeng, Kota Makassar membuktikan hal itu.

Laki-laki kelahiran 5 Juni 2001 itu peraih juara pertama perlombaan Musabaqah Qira’atil Qutub (MQQ) ke VI tingkat Sulawesi Selatan pada Oktober 2017 ini. Dia menyisihkan 300 peserta lain dalam lomba membaca Kitab Kuning itu untuk kategori usia 12-17 tahun.

Suatu sore, beberapa waktu lalu  Cendana News mengunjungi Pesantren Al Fakriyah tempatnya belajar. Puluhan siswa tampak sedang mengaji. Habib salah seorang di antara mereka tampak antusias. Suaranya mengalun merdu.

Habib menceritakan setiap hari dirinya belajar mendalami Bahasa Arab agar bisa mempelajari kitab kuning.

“Saya bangun jam setengah 5 subuh memulai aktivitas mengaji  Alquran sampai setengah 7 pagi. Setelah itu saya melanjutkan belajar ilmu pengetahuan umum di sekolah. Setelah selesaibelajar  tidur sebentar dan lanjut belajar mengaji sampai jam 11 malam”.tutur Habib.

Meski aktivitas itu menyebabkan Habib kurang tidur, ia menjalani kehidupan di pesantren tanpa beban. Menurut remaja laki-laki yang duduk setingkat SMA kelas 2 ini tidak hanya ilmu agama yang didapatinya di Pesantren Al-Fakhriyah ini.

“Bagi saya ilmu agama serta ilmu pengetahuan sejalan dengan seimbang,” ujar Habib.

Awalnya Habib memutuskan masuk pesantren karena mengikuti kakaknya yang juga merupakan alumni pesantren Al-Fakhriyah. Habib sudah lima tahun menuntut ilmu di Pesantren Al-Fakriuah semejak masuk SMP sampai duduk di kelas 2 SMA. Habib rela meninggalkan orang tuanya yang berada diPalu.

Habib ingin mengikuti jejak kakaknya hingga perguruan tinggi. Sang kakak kini kuliah di UIN. “Sama seperti kakak saya, saya juga ingin kuliah akan tetapi bukan di UIN, saya ingin melanjutkan pendidikan saya sampai ke Mesir di Kairo,” cetusnya.

Hingga saat ini Habib sudah menghafal 10 juz Alquran. Dia saat ini mewakili Sulawesi Selatan ke perlombaan Musabaqah Qira’atil Qutub tingkat Nasional di Jepara, Jawa Tengah. Hingga kini dia masih berada di kota itu.

Habib bercita-cita menjadi ulama besar di Indonesia agar bisa membimbing orang-orang ke jalan yang benar.

Di temui saat waktu berbeda Kepala Pembina Pondok Pesantren Al-Fakhriyah H. Taufiqur Rahman Chanya menjelaskan bahwa ia tidak menuntut anak didiknya hanya menjadi ulama atau guru agama. Santri bebas punya keinginan menjadi apa saja.

“Ada alumni pesantren ini masuk di Universitas Gajah Mada, menjadi Polisi, dan masuk di Universitas Hasanuddin. Memang ada 5 alumni kami memilih melanjutkan ilmu agama di Kairo, Mesir,” jelasnya.

Meski di pesantren ini santri mempelajari ilmu agama dan memperdalam akhlak tetap saja mengizinkan santrinya belajar dan memperdalam ilmu lain.

Lihat juga...