Habiburrahman El Shirazy, tak Alpa Selipkan Pesan Perdamaian

Editor: Satmoko

67
Habiburraham El Shirazy. Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Habiburrahman El Shirazy adalah sebuah fenomena dalam dunia kepenulisan karya sastra, khususnya genre novel Islam. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan, Australia, dan Komunitas Muslim di Amerika Serikat.

Namanya melesat sejak menulis novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang telah difilmkan pada tahun 2004 dan sekarang lanjutannya, Ayat-Ayat Cinta 2 yang tayang akhir tahun 2017 ini. Kang Abik, demikian sapaan akrab novelis yang konsisten dalam berkarya tersebut, selalu menyelipkan pesan Islam yang penuh perdamaian.

“Dalam berkarya saya selalu menyelipkan pesan Islam yang penuh perdamaian. Seperti film ‘Ayat-Ayat Cinta’ ini, saya menyampaikan tentang nilai Islam yang sangat universal, “ kata Kang Abik kepada Cendana News di sela-sela acara peluncuran film Ayat-Ayat Cinta 2.

Lebih lanjut, lelaki berpeci kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 30 September1976, ini menerangkan, dari kata Islam itu sendiri artinya damai. Islam itu adalah cinta. “Siapapun yang dekat dengan Islam tidak perlu khawatir atau takut. Karena Islam membawa kesejukan.

“Kita tidak masalah bertemu dan berteman dengan siapa pun. Ajaran Rasulullah juga mengajarkan seperti itu,” terangnya.

Salah satu film Ayat-ayat Cinta yang diangkat dari karya novel Habiburahman El Shirazy. Foto: Istimewa/PH MD Pictures

Menurut Kang Abik, dalam film Ayat-Ayat Cinta 2, ada adegan Fahri menolong tetangganya yang Yahudi. “Konteks akidahnya sangat jelas, lakum dinukum waliyadin. Fahri menolong Yahudi tapi Fahri tidak ikut-ikutan. Fahri hanya mengantarkan sampai ke tempat ibadah Yahudi,” paparnya.

“Islam tidak pernah bertentangan dengan nasionalisme. Islam mengajarkan cinta pada tanah air. Fahri menyampaikan tentang Pancasila juga, bahwa meski dia di luar negeri, Pancasila selalu ada dalam hatinya,” tegasnya.

Kang Abik berpendapat, dunia Islam sekarang terus berkembang. Dia sudah berkeliling ke berbagai negara, di antaranya ke Australia, Jepang, Amerika, dan Eropa. “Perkembangan Islam luar biasa, di Indonesia juga kita menemukan anak-anak muda memiliki kepedulian, memiliki ghiroh, dan belajar sungguh-sungguh mengenai Islam,” ungkapnya bangga.

Meski demikian, Kang Abik, sangat menyayangkan, karena masih banyak masyarakat yang acuh tak acuh.

“Banyak yang tak peduli pada Islam. Sisi berikutnya adalah sisi penghayatan yang masih kurang mengenai inti Islam. Persatuan itu kan inti Islam. Terasa sekali persatuan menjadi barang yang harus diperjuangkan. Terutama di Timur Tengah, dimana wahyu Allah diturunkan. Sekarang kondisinya sangat menyedihkan, karena di antara penghayatan inti Islam, masih sangat dangkal. Hal-hal yang sifatnya cabang yang menjadi perhatian, tapi intinya kurang diperhatikan,” bebernya.

Ia melihat anak muda jaman sekarang banyak yang kreatif. Betapa Kang Abik bangga. Itu segi positif.

“Tantangan kita adalah tantangan literasi. Literasi kita kan belum rampung, membaca yang benar belum rampung, tapi kemudian masuk media sosial. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda kita sehingga pemanfaatannya kurang maksimal,” katanya.

Kang Abik berharap, semua bersatu, bersama-sama untuk mengaatasi masalah soal kesenjangan literasi agar bangsa Indonesia tak tertinggal jauh. “Kalau bukan kita sendiri yang berbuat untuk bangsa kita, lalu siapa lagi,” tandasnya.

Karya-karya Kang Abik dinilai dapat membangun jiwa untuk maju dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Selain Ayat-Ayat Cinta, ia juga menulis banyak karya, yaitu Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember 2007), Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta (2010) dan lain-lain.

Berbagai penghargaan pernah diraihnya, di antaranya, Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994), pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair ’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994), pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994), pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se- Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994), Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994), pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja.

Adapun beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006. Dari novelnya yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 miliar. Belum termasuk royalti adaptasi film-filmnya. Sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah ia kantongi. Sungguh sangat inspiratif sekali.

Komentar