Haedar Nashir: Membangun Peradaban Butuh Dasar Kuat

JAKARTA – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., membabar perihal pembangunan peradaban masyarakat Indonesia yang berkemajuan dan berkeadilan sosial, di hadapan civitas akademika Universitas Mercu Buana Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Dalam seminar bertema ‘Pemikiran Perguruan Tinggi untuk Kebangsaan’ dalam rangka Dies Natalis ke-32 Universitas Mercu Buana Jakarta, ini, Haedar mengatakan, jika semangat pemikiran perguruan tinggi untuk kebangsaan merupakan panggilan sekaligus komitmen untuk membangun Indonesia, yang dalam hal ini disebut Indonesia berkemajuan dan berkeadilan.

Menurut Haedar, membangun peradaban merupakan sebuah agenda strategis jangka panjang dan tidak bisa satu hentakan perjalanan sebuah bangsa. “Jika membuka sejarah peradaban bangsa-bangsa, kita akan menemukan puncak-puncak kebudayaan yang disebut dengan peradaban, dan itu merupakan puncak kebudayaan yang paling tinggi”, katanya.

Peradaban Yunani kuno, lanjutnya, merupakan cikal bakal basis keilmuan dan menjadi peradaban universal. Islam juga pernah menjadi puncak peradaban selama 6 abad, bahkan menjadi agama yang kosmopolitan dan menyebar ke seluruh persada bumi.

Haedar Nashir (tengah berpeci) Soehardjo Soebardi, Arissetyanto foto bersama para dosen, Jumat (8/12/2017) -Foto: M. Fahrizal

Peradaban itu, kata Haedar, lahir, tumbuh dan berkembang, bahkan juga mengalami kehancuran akibat sirkulasi yang alamiah. “Berbicara tentang Indonesia yang berkemajuan dan berkeadilan, kita tidak berada di titik vakum seperti sekarang ini. Begitu juga ketika berbicara tentang problem, tidak pernah lahir secara tiba-tiba, selalu ada proses dari hulu ke hilir, dan proses yang berlapis-lapis sejak Indonesia merdeka”, bebernya.

Haedar mengatakan, peradaban masyarakat Indonesia sekarang ini ada di antara anak-anak bangsa yang sama sekali tidak mau perduli dengan yang terjadi dalam sejarah bangsa ini. Kesadaran generasi sekarang tentang perjalanan sejarah bangsa Indonesia masih kurang. Mereka perlu belajar terhadap sejarah tersebut.

Baca: Dies Natalis ke-32 UMB, Membangun Pemikiran Strategis bagi Bangsa

“Tradisi membaca itu sudah ada sejak dahulu, hanya saja generasi sekarang sudah tidak lagi menjalankan tradisi tersebut bisa dikatakan sudah mulai luntur. Walaupun mereka membaca melalui teknologi seperti HP, namun tetap saja ada perbedaan kenikmatan dalam membaca melalui HP dengan melalui buku. Ini yang harus ditanamkan lagi,” jelasnya, usai seminar.

Menurutnya lagi, ketika berbicara Indonesia saat ini tentu tidak bisa lepas dari Indonesia masa lalu. Generasi baru perlu belajar tentang sejarah mulai dari sejarah Mataram, gerakan organisasi-organisasi seperti Budi Utomo yang merupakan pangkal dari gerakan nasional, dan semua bermuara pada cita-cita Indonesia merdeka.

Peranan sejarah inilah, sambung Haedar, yang telah membangun peradaban, dan dari titik inilah sesungguhnya membangun peradaban Indonesia yang belum selesai dimulai ketika mendapatkan kemerdekaan.

Dalam konstruksi peradaban, terdapat pilar yang harus dibangun. Untuk pilar peradaban Indonesia itu tujuannya cita-cita nasional, yakni Indonesia yang merdeka, bersatu, adil, makmur, dan berdaulat. Jadi, membangun kebudayaan yang tinggi menuju Indonesia yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa memerlukan pilar dan perlu dasar yang kuat, yakni Pancasila.

Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Arissetyanto Nugroho, Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat (8/12/2017) -Foto: M. Fahrizal

“Kita ambil contoh sejarah ketika Soeharto pada saat memberantas Komunis itu bukan atas nama pribadi, tetapi atas nama sejarah dan itu berulang, yang beliau tidak menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler, karena kaitannya dengan peradaban yang dibangun atas dasar Pancasila. Dan, inilah pentingnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, sebagai pondasi negara”, tegasnya.

Haedar juga mengatakan, dengan tindakan Soeharto memberantas komunis, menjadikan beliau disegani dan dihormati, terlebih dibuktikan kembali ketika beliau menjabat sebagai presiden dengan kemajuan pertaniannya, melalui swasembada pangan yang tercatat dalam sejarah peradaban Indonesia.

“Namun, problem yang didapat, yakni suksesi setelah beliau, yang belum bisa membawa Indonesia kepada yang sudah dicita-citakan para pendiri bangsa”, kata Haedar.

Haedar lalu menyimpulkan, bahwa generasi penerus harus tetap berkomitmen pada Pancasila. Indonesia tidak boleh menjadi negara agama, Indonesia tidak boleh menjadi negara komunis, dan Indonesia tidak boleh menjadi negara sekuler.

“Dengan demikian, kita harus melakukan internalisasi atau memiliki pemahaman yang tinggi terhadap Pancasila. Terakhir, kita harus menciptakan generasi yang baik, cerdas, supaya kita berkemajuan dan juga bisa berkeadilan”, katanya.

Haedar juga menilai, tema seminar cukup bagus dengan diawali pidato tentang Pancasila, kemudian membahas bagaimana pemikiran perguruan tinggi untuk bangsa, membangun peradaban masyarakat Indonesia yang berkeadilan, berkemajuan.

Menurutnya, poin ini menjadi penting, bahwa Mercu Buana, Muhammadiyah bersama- sama ingin menjadi kekuatan yang berpikir jernih, berpikir keilmuan, namun memiliki komitmen berkebangsaan yang nanti bisa menjadi bingkai bangsa ini, agar ada masukan-masukan, ada buah pemikiran yang sifatnya akademik, agar dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa ini Indonesia tidak terjebak pada kasus, tidak terjebak pada parsialitas.

“Kedua peranan perguruan tinggi ini tidak kalah dengan partai politik, peranannya di sini long term, membangun SDM dan menjadikan Indonesia unggul”, pungkasnya.

Lihat juga...