Hakim Ukraina Bebaskan Mantan Presiden Georgia dari Penahanan

KIEV – Tokoh oposisi Ukraina, Mikheil Saakashvili, dibebaskan dari penahanan pada Senin (11/12/2017). Saakashvili dibebaskan setelah hakim Ukraina menolak permintaan jaksa agar mantan presiden Georgia itu ditempatkan dalam tahanan rumah.

Saakashvili, yang menjabat sebagai presiden Georgia selama sembilan tahun hingga 2013, pindah ke Ukraina setelah pemberontakan massal terjadi di negaranya. Di bawah pemerintahan Presiden Ukraina Petro Poroshenko, Saakashvili mendapat jabatan sebagai gubernur sebuah wilayah di Ukraina dalam periode 2015-2016. (Baca: https://www.cendananews.com/2017/12/mantan-presiden-georgia-mogok-makan-di-ukraina.html)

Namun akhirnya terjadi perseteruan antara Saakashvili dengan Petro Poroshenko. Saakashvili menuduh pihak berwenang Ukraina melakukan korupsi secara luas.

Kejaksaan menginginkan agar ia ditahan di rumah sementara para penyidik memeriksa tuduhan bahwa ia membantu sebuah organisasi kejahatan. Saakashvili mengatakan tuduhan itu dibuat untuk mengecilkan kampanyenya untuk menurunkan Poroshenko dari jabatannya. “Permintaan para jaksa ditolak,” kata Hakim Larysa Tsokol di pengadilan.

Kendati demikian, kasus yang dikenakan terhadap Saakashvili masih dibuka. Ketika berbicara setelah putusan persidangan yang dihadiri sejumlah anggota parlemen oposisi terkemuka termasuk perdana menteri Yulia Tymoshenko, Saakashvili mengatakan ia berencana melanjutkan tugas politiknya.

Bersama-sama dengan para politisi oposisi lainnya, ia akan mempersiapkan perubahan damai tapi sangat penting dan perlu dalam pemerintahan Ukraina, katanya. Saakashvili, yang melancarkan mogok makan untuk menentang penahanannya, menyanyikan lagu kebangsaan Ukraina pada awal persidangan.

Saakashvili juga menghadapi ancaman kemungkinan diekstradisi ke Georgia, yang memburunya atas dakwaan melakukan kejahatan. Menteri Kehakiman Ukraina Pavlo Petrenko mengatakan, permintaan ekstradisi sedang dipertimbangkan namun keputusan akhir belum dibuat. (Ant)

Lihat juga...