Halusinasi Konyol Trump untuk Kota Suci Tiga Agama

OLEH REZHA NATA SUHANDI

BEBERAPA hari ini pemberitaan terkait Israel melesat tajam, seluruh dunia memandang sinis pada Amerika Serikat terkait hubungannya dengan Israel.

Amerika, melalui pemimpinnya Donald Trump baru saja secara resmi mendukung Israel menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Negara dengan cara memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, Yerusalem selama ini berada pada wilayah yang dianggap sengketa atau wilayah demarkasi, karena keberadaannya diperebutkan oleh Palestina sebagai sebuah negara berdaulat dan juga Israel sendiri.

Konflik terkait Jalur Gaza, pemukiman Yahudi bahkan sampai pada Yerusalem merupakan konflik panjang yang telah banyak menelan jatuhnya korban juga darah yang berceceran. Padahal sejarah melukiskan, Yerusalem merupakan kota suci bagi 3 agama yakni, Islam, Nasrani dan Yahudi. Seharusnya perdamaian dan kekhidmatan spiritual terbangun di sana. Namun faktor itu jugalah yang juga menjadikan Yerusalem diperebutkan atas nama kedigdayaan manusia pada Tuhan.

Di dalam kota Yerusalem berdiri 3 bangunan suci agama-agama tersebut, Islam memiliki simbol Masjid Al-Aqsa atau yang dikenal dengan Al-Quds, Nasrani memiliki Gereja Betlehem yang menjadi memorial bagi peristiwa penyaliban Yesus Kristus, sementara Yahudi memiliki simbol The Temple Of Solomon atau Kuil Sulaiman yang kini hanya berupa reruntuhan, daerah ini dikenal dengan nama Tembok Ratapan.

Perebutan daerah Yerusalem sudah terjadi ratusan tahun lalu sebetulnya. Kejayaan daerah pun sudah banyak dilukiskan oleh berbagai literatur yang mengungkapkan, tentang bagaimana kota suci 3 agama ini menghadapi kerakusan manusia dalam memaknai ritus kultus dalam pilar-pilar keagamaan.

Trump Gagal Menularkan Halusinasi Kerusakan

Kembali pada kondisi geopolitik yang mengakibatkan ramai perbincangan media belakangan ini. Donald Trump memang telah lama disinyalir memiliki hubungan dekat dengan Israel, bahkan pada adagium tertentu, “Israel adalah Tuan Amerika” atau bisa juga berlaku sebaliknya. Maka tak heran pada kampanye-kampanye Trump sebelum terpilih menjadi Presiden Amerika, dirinya sangat rajin berbicara mengenai Timur Tengah, dukungan terhadap Israel bahkan mengkampanyekan Islamophobia di tanah Amerika.

Berbagai pihak mengecam, tapi tak sedikit pihak menilai kampanye Trump itu sebagai produk orisinil barat yang memang sangat gemar menebar permusuhan, kebencian bahkan menjadikan sebuah negara sebagai budak terselubung atas nama hubungan ekonomi atau politik.

Kondisi ini jelas merupakan sebuah pelecehan terhadap keinginan dunia untuk perdamaian yang didengungkan oleh segenap bangsa, Indonesia pun demikian adanya, senantiasa mendukung perdamaian di Timur Tengah.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai hal ini, pertama apakah statemen Trump ini telah mendapatkan legitimasi atas sikap atau kebijakan Amerika sebagai sebuah entitas negara ataukah Trump berusaha kembali memunculkan sensasi yang sama sekali tidak mengandung kelucuan bahkan cenderung menunjukkan kegilaan Trump sebagai manusia.

Lihat juga...