Harga Gabah di Bali Turun 3,34 Persen

DENPASAR — Harga gabah kering panen (GKP) pada tingkat petani di Bali pada November 2017 mencapai Rp4.413,73 per kilogram turun Rp142,29 atau 3,34 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 4.566,02 per kilogram.

“Demikian pula harga gabah di tingkat penggilingan turun Rp151,89 per kilogram atau 3,28 persen dari Rp4.631,49 menjadi Rp4.479,60 per kilogram,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali I Gede Nyoman Subadri di Denpasar, Kamis (14/12).

Ia mengatakan, meskipun harga gabah tingkat petani maupun penggilingan di Bali turun, namun masih jauh lebih tinggi dari harga patokan pemerintah (HPP) yang berlaku untuk tingkat petani sebesar Rp3.700 per kg dan tingkat penggilingan Rp3.750 per kg.

Harga gabah di tingkat petani dan penggilingan tersebut mrupakan hasil pemantauan harga gabah yang dilakukan di tujuh kabupaten di Bali yang meliputi Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng.

I Gede Nyoman Subadri menambahkan, subsektor tanaman pangan yang meliputi padi dan palawija merupakan salah satu dari lima subsektor yang menentukan pembentukan nilai tukar petani (NTP) yang mampu mengetahui tingkat kemampuan dan daya beli petani di daerah pedesaan.

Selain itu juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang sangat diperlukan petani dalam memenuhi konsumsi rumah tangga.

NTP subsektor tanaman pangan pada November 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen dari 97,79 persen pada Oktober 2017 menjadi 97,85 persen.

Indeks nilai tukar petani tanaman pangan masih berada di bawah 100 persen, yang berarti nilai tukar atas hasil produksi tanaman pangan yang dihasilkan lebih rendah dari biaya produksi dan pengeluaran konsumsi rumah tangga petani.

Demikian pula indeks harga yang diterima petani (lt) subsektor tanaman pangan tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen, yang disebabkan oleh naiknya harga ketela pohon (ubi kayu), ubi jalar dan kacang kedelai.

Sementara indeks harga yang dibayar petani (lb) mengalami kenaikan sebesar 0,62 persen, yang dipengaruhi oleh naiknya indeks harga konsumsi rumah tangga sebesar 0,70 persen dan indeks biaya produksi serta penambahan barang modal (BPPMD) sebesar 0,23 persen, ujar I Gede Nyoman Subadri (Ant).

Lihat juga...