INDEF : Pertumbuhan Ekonomi 2017 Masih di Bawah Ekspektasi

JAKARTA — Pemerintahan Jokowi sebelumnya mengklaim pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017, sehat dan stabil, target 5,2 persen bisa tercapai.

Berbeda dengan pernyataan Jokowi, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira Adhinegara menilai pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 masih di bawah ekspektasi, pertumbuhannya tidak stabil.

“Target pemerintah tahun ini 5,2 persen, tahun lalu pun ekonomi kita tumbuh 5,2 persen. Ini artinya tidak beda jauh tidak terjadi perubahan signifikan. Bukan stabil, tapi pertumbuhan ekonominya stagnan,” kata Bhima di Jakarta, Sabtu (30/12/2017).

Ditegaskan, kalau kurs rupiah stabil itu bagus, tapi kalau pertumbuhan ekonomi stabil berarti ada yang salah. Yakni, pertumbuhan ekonomi itu tidak bergerak maju.

Tidak terjadinya perubahan signifikan, disebutkan Bhima, karena konsumsi rumah tangga menurun tahun ini. Belanja pemerintah yang diharapkan bisa menggerakan konsumsi rumah tangga hanya dapat tumbuh tipis sebesar 3,46 persen.

Padahal menurutnya, konsumsi rumah tangga itu pembentuk 56 persen pertumbuhan ekonomi. Sementara konsumsi rumah tangga mengalami stagnasi di 4,93 persen.

Kondisi ini dikatakan Bhima, mencerminkan pelemahan daya beli khususnya masyarakat menengah ke bawah. Porsi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga menurun di angka 55,6 persen.

Di tahun 2017 pun banyak ritel tutup lantaran omzetnya menurun.”Di natal tahun ini, justru omzet dari makanan dan minuman turun 5 persen. Kan aneh, dibanding tahun lalu omzetnya melejit,” ujarnya.

Di sisi lain, sebut dia, daya beli masyarakat juga tertekan karena penghasilan petani dan buruh tampak dalam tiga tahun ini terus turun angkanya.

Lihat juga...