Indonesia Kecam Rencana Guatemala Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem

JAKARTA – Pemerintah Indonesia mengecam keputusan Guatemala yang berencana memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem mengikuti langkah Presiden AS Donald Trump mengakui kota suci tersebut sebagai ibu kota Israel.

Kecamatan tersebut disampaikan dalam cuitan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di akun resmi twitter-nya, Selasa (26/12/2017). “Indonesia mengecam keputusan Guatemala yang berencana memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem,” demikian pernyataan kecaman Kementerian Luar Negeri RI di akun resmi Twitternya.

Keputusan Guatemala tersebut dianggap tidak sesuai dengan hukum internasional mengenai status Yerusalem. Kemlu RI menilai, mempertahankan kesepakatan internasional terkait status quo Yerusalem adalah penting bagi tercapainya solusi dua negara dalam konflik Palestina-Israel.

Presiden Guatemala Jimmy Morales pada Minggu (24/12/2017) mengatakan, telah memberikan instruksi untuk memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem. Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah pemerintahnya mendukung Amerika Serikat mengenai status kota tersebut.

Keputusan memindahkan kedutaan tersebut dilakukan Morales setelah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam postingan di akun media sosial Facebook Morales.

6 Desember lalu Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kebijakan tersebut menjadi bentuk penentangan terhadap kebijakan AS selama beberapa dekade tentang Yerusalem. Keputusan tersebut membuat kemarahan dunia Arab serta sekutu Barat.

Status Yerusalem merupakan salah satu halangan paling sulit untuk mencapai kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Keduanya menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka. Masyarakat internasional tidak mengakui kedaulatan Israel atas seluruh kota tersebut, yang merupakan tempat suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen.

128 negara menentang Trump dengan mendukung resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak mengikat, yang meminta AS untuk menolak pengakuannya terhadap Yerusalem. Guatemala dan negara tetangganya, Honduras, adalah dua dari hanya segelintir negara yang bergabung dengan AS dan Israel yang memberikan suara untuk menentang resolusi tersebut di Yerusalem.

AS merupakan sumber bantuan penting bagi Guatemala dan Honduras, dan Trump telah mengancam akan memotong bantuan keuangan ke negara-negara yang mendukung resolusi PBB. (Baca: https://www.cendananews.com/2017/12/dukung-trump-guatemala-pindahkan-kedutaannya-ke-yerusalem.html) (Ant)

Lihat juga...